by

Wisata Malam di Pasir Putih Meko

Catatan Wartawan Terasntt.com.

MALAM penuh bintang, saat terasntt.com bersama kawan-kawan menginjakan kaki di Pasir Putih Meko. Dalam gelap yang samar, pantai nampak pekat, tapi tak menyembunyikan keindahannya yang mempesona.

Pasir putih, terletak di Selatan Witihama Adonara, Kabupaten Flores Timur, keindahan pantainya menjadi daya tarik bagi para wisatawan, baik lokal, nasonal, maupun manca negara. Pantai ini tergolong unik, bentuknya menyerupai sebuah pulau kecil, yang timbul di tengah lautan, pun begitu keberadaannya tidak akan hilang saat air pasang maupun surut.
Tiga gugusan pulau yang ada disekitarnya, terus menambah keindahanya.

Pernah sekali, pertengahan tahun 2016, saat Terasntt.com dan teman – teman Organisasi IMW-K berekreasi di pantai tesebut, tampak para Bule dengan kapal pesiarnya berlabuh di pantai ini, Kata Jamal, warga Meko, mereka sudah berada di Pasir Putih berminggu – minggu.

Rupanya pemandangan seperti ini bukanlah hal langkah, pasalnya hampir setiap tahun mereka datang. Kedatangan para Turis ini jauh sebelum pantai ini dieksploitasi oleh My Trip My Adventure, Trans 7. Kedatangan mereka hanya mempertegas keindahan pantai ini di mata dunia.

Kali ini, perjalanan kami tidak seperti kebanyakan orang, yang biasa menikmati keindahannya kala senja ataupun siang hari, kunjungan kali ini berlangsung pada malam hari, tepat tanggal 1/12/2017. Kami ingin menikmati semburat matahari pagi 2017 di pantai pasir putih. Kamilah orang pertama yang melakukan perjalanan malam ke pantai ini.

Ada dua akses menuju ke pasir putih. Kalau tuan hendak berpergian mengunjungi wisata ini, tuan tinggal memilih melewati jalan darat ke Meko, atau langsung ke Waiwuring. Di sana ada perahu kecil yang siap megantar Tuan-tuan menikmati keindaan pantainya. Lewat jalur ini, sebelum sampai di pantainya, mata tuan akan teduh menyasikan barisan hutan mangrove yang berjejer rapih disepanjang pantai, diselingi suara riak geombang laut dan kicauan burung yang berterbangan di agkasa, ada surga yang dibaringkan alam dihadapan tuan. Tuan akan melewati selat, antara pulau Adonara dan Lembata, tepat berada di selat itu, Tuan sudah bisa memandang pasir putih dari kejauhan, keberadaan pantai ini akan semakin membuat penasaran ketika pandangan mata tuan selaras dengan deru gelombang yang naik tutun. Niscaya, tuan akan merasakan keindahan yang tak terkira.

Kalau pun Tuan memilih jalan darat, Tuan akan merasakan petualangan yang tak kala indah, hamparan rumput liar yang merambat memenuhi perbukitan, hembusan angin hangat akan menemani perjalanan Tuan. Kira-kira jarak tempuhnya 3 kilo. Melewati Jalan ini, Tuan seolah memulai petualangan yang menantang, meskipun keadaan jalannya masih buruk, niscaya Tuan akan tetap menikmatinya. Sepanjang perjalanan, tuan akan terlindung dari sengatan matahari dengan keberadaan pohon-pohon besar yang rimbun. Tuan akan menikmati kesunyian yang mendalam, setelah keseharian terbiasa dengan hiruk pikuk dunia.

Diantara dua akses ini, kami lebih memilih langsung ke Waiwuring. Di sana, sudah ada pemilik perahu yang menunggu, segera kami berlayar. Perjalanan kali ini lebih terasa, selain malam hari, juga akan menyasikan terbitan matahari pertama 2017.

Suasana hening dan damai menyelimuti perjalanan kami, sesekali riuh ombak memecah keheningan, kami merasakannya, merasakan sebuah dunia serupa surga sedang dibaringkan dihadapan kami.

Kami sampai di Pasir Putih sekitar jam 3 dini hari, perahu ditambatkan. Kami melompat kegirangan, melewai laut dangkal, memasuki pantainya, kami seolah berjalan di atas bentangan permadani putih, dalam samar terang bintang, kami belompat-lompat menggumili pantainya.

Pantainya benar – benar memberikan keteduhan tiada duanya, gugusan pulau disekitanya, seolah tunduk memuja keindaannya. saat – saat yang nantikan pun datang, jauh di sana, pada dunia yang bulat jauh, pada bentangan garis lurus langit, pada titik bumi dan langit dipertemukan, pada lengkungannya yang memepesona, muncul cahaya kekuningan serupa emas. Mula-mula, pantuan cahayanya muncul perlahan dan malu-malu,  cahayanya semakin membias, bagai tempaan tembaga di langit, cahaya lebih dulu menyapa kami.

Selanjutnya, keindahannya pantai dan biasa cahaya paginya, tak dapat lagi ku jelaskan dengan kata-kata. Yang pasti keindahannya serupa surga. Betapa hatiku berterima kasih pada alam yang yang memberikan keindahannya ini. Betapa aku ingin tetap di tempat ini, seribu tahum lagi. (rafael l pura)

Comment

Berita Terbaru