Home Hukrim Uang Hasil Pemerasan Oknum Polwan di TTU Dikembalikan

Uang Hasil Pemerasan Oknum Polwan di TTU Dikembalikan

1559
0
SHARE
Foto : Yudith Taolin

KEFAMENANU, Terasntt.com — SETELAH lima bulan tertunda, akhirnya oknum Polwan, Polres TTU, Ni Luh Krisna Putri Wulandari (terlapor-red) mengbalikan uang hasil pemerasah terhadap keluarga tersangka kasus traffiking, Daniel Radja Pono senilai Rp 41 juta. Proses pengembaliannya berlangsung di ruang kasi Propam Polres setempat, Senin (4/7/2017).

Uang tersebut diserahkan langsung kepada istri Radja Pono, Marsela Lafu bersama saudaranya Silvester Leu, disaksikan Kasi Propam, Ipda Jaime Jose Fonseca bersama dua anggotanya serta ibu kandung serta paman terlapor.

Pengembalian uang hasil pemerasan ini, dibuktikan dengan penandatanganan surat pernyataan kedua bela pihak masing – masing Marsela Lafu dan Ni Luh Krisna Putri Wulandari serta saksi pihak pertama Silvester Leu. Sedangkan nama dan tanda tangan saksi pihak kedua yakni ibu kandung dan paman terlapor tidak tercantum dalam surat pernyataan tersebut. Isi pernyataan tersebut menerangkan beberapa hal, yakni, membenarkan bahwa pada, Senin (4/7/2017) telah dikembalikan uang sebesar Rp 41 juta dari pihak kedua kepada pihak pertama (Pembayaran Lunas), bahwa kedua belah pihak berjanji tidak saling dendam satu sama lain di kemudian hari dan untuk perkara ini berakhir sampai di tingkat kepolisian dan tidak diproses lanjut sesuai prosedur hukum yang berlaku. Dan pada kesepakatan terakhir dinyatakan kedua belah pihak berjanji untuk tidak melanggar isi pernyataan dan apabila melanggar maka akan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Meskipun pernyataan tertulis ini telah disepakati bersama kedua belah pihak, namun menurut keluarga korban pemerasan ibu kandung dan paman terlapor tidak bersedia mengulurkan tangan menerima pernyataan damai.

” Kami sudah selesai di dalam ruangan tadi tapi saksi dari ibu Putri yakni ibu kandung (YK) dan pamannya (BK) tidak bersedia berdamai. Kami mau jabat tangan tapi mereka tidak mau. Sempat terdengar kami akan dipolisikan lagi, entah terkait masalah lainnya yang mana kami sendiri tidak paham,” singkat Marsela Lafu.

Kasi Propam Ipda Jaime Jose Fonseca ketika dikonfirmasi menolak memberikan pernyataan apapun dan media ini diarahkan ke salah satu anggotanya. Itupun ditolak anggota provos lantaran merasa bukan kewenangannya berkomentar.

” Sudah, tidak usah dari saya. Jangan saya tapi ke anggota saya saja pak Andre, kebetulah dia di bagian humas dan masih duduk di depan pintu tadi. Sudah … sudah, minta maaf ya ibu wartawan karena saya tidak bisa berkomentar apapun,” ungkap Ipda Jaime Fonseca sambil berlalu.

Dari pihak terlapor, YK dan BK terkesan tidak menerima pemberitaan awal terkait kasus penipuan dan pemerasan yang dilakukan oleh terlapor. YK juga tidak bersedia memberikan pernyataan apapun saat berpapasan di ruang Kasi Propam sebelum proses pengembalian uang berlangsung. Terhadap wartawan media ini, YK hanya melarang untuk tidak ikut masuk dalam ruang kasi propam apalagi mengambil gambar, saat berlangsungnya penyelesaian masalah tersebut.

” Pemberitaan awal sangat miring, kami kecewa tidak ada klarifikasi ke kami. Pokoknya untuk pengembalian uang ini, tidak ada klarifikasi – klarifikasi lagi, jangan buat berita lagi. Kami akan kembalikan uang sebentar dan saya tidak mau ada berita soal ini lagi. Tidak perlu ikut ke dalam foto – foto atau apapun juga,” tegas YK dihadapan Kasi Propam sendiri.

Upaya klarifikasi wartawan media terhadap pelapor dilakukan berulangkali, bahkan selama seminggu dihubungi mobile ponsel terlapor non aktif dan selalu tidak berhasil dikonfirmasi. Hal tersebut juga dibenarkan Kasi Propam Ipda Jaime Fonseca kepada salah seorang keluarga tersangka, Fester bahwa pencairan uang selama ini terkendala lantaran masih mencari tahu dimana keberadaan terlapor yang sudah cukup lama tidak berkantor.

” HP terlapor non aktif selama seminggu lebih, pak Jaime bilang selama ini hubungi dia tapi tidak berhasil, dia juga tidak berkantor dan baru kemarin anggota provos mencari dan mendapatinya di rumahnya karena harus dikawal anggota provos menuju Bank untuk urusan pencairan uang,” jelas Fester meniru ungkapan Kasi Propam.

Sebelum pencarian uang ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kefamenanu, pihak Propam Polres TTU penyitaan buku tabungan dan ATM terlapor guna mempermudah pengambilan uang lantaran terlapor mulai menghilang.

Sebelumnya diberitakan, terlapor yang bertugas di Mapolres Timor Tengah Utara, diduga telah melakukan tindakan penipuan dan pemerasan uang terhadap seorang tersangka kasus Human Trafficking, Daniel Radja Pono sebesar Rp 41 juta. Uang hasil pemerasan itu diterima langsung terlapor disaksikan pamannya di rumah tinggalnya sendiri, Losmen Setangkai yang beralamat di Jalan kakak Tua Kelurahan Kefa Tengah. Penyerahan uang dengan dalil tersangka akan dibebaskan tidak berlangsung di Mapolres TTU, lantaran menurut terlapor bisa terekam kamera CCTV.

Baca juga, https://www.teras-ntt.com/oknum-polwan-catut-nama-pejabat-polres-ttu-peras-tsk-rp-41-juta/

Oknum Polwan ini Sempat Ditampar Seniornya

Usai mengikuti proses pengembalian uang hasil pemerasan, Silvester Leu yang adalah keluarga tersangka kasus perdagangan orang, Daniel Radja Pono, kepada media menyampaikan, terima kasih kepada pihak Propam Polres TTU yang telah memfasilitasi kedua belah pihak hingga proses pengembalian uang hasil pemerasan oknum polwan.

Selain itu ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga terlapor, YK dan BK yang hadir mendampingi terlapor. Permohonan maaf Silvester Leu, berkaitan dengan sakit hati ibu kandung korban yang sejak awal memarahi istri tersangka, Marsela Lafu dan dirinya lantaran terlambat menyerahkan uang sebesar Rp 41 juta dari perusahan tempat tersangka bekerja sebagai jaminan untuk dibebaskan.

Leu mengatakan, bahwa pernyataan YK anaknya sempat ditampar seorang senior lantaran uang terlambat diterima dari tersangka.

” Saya ditunjuk – tunjuk ibunya terlapor, sambil bilang kamu ini pikir anak saya tukang tipu. Uang itu akan dikasih ke pejabat polres untuk dibuatkan surat penangguhan untuk bantu suami kamu. Bukan untuk kami. Tapi anak saya kena tampar dari seniornya di kantor gara – gara uang belum dikirim juga. Gara – gara kamu anak saya ditampar seniornya,” kisah Marsela dan Leu di halaman depan Mapolres TTU.

Silvester Leu, membenarkan amarah yang juga ditujukan pada dirinya.

” Saya dimarahi juga, sampai keluar kalimat anaknya ditampar seniornya di kantor gara – gara uang terlambat sampai ke tangan pejabat,” ungkap Leu menirukan pernyataan YK.

Lanjutnya, YK tidak menyebut nama pejabat polisi. Tapi sampai dengan uang itu ada, terlapor sendiri yang menerima disaksikan pamannya, di losmen Setangkai yang beralamat di Kakak Tua, Kelurahan Kefa Tengah bukan diterima pejabat polres manapun. Uangnya mau kami transfer via rekening waktu itu tapi terlapor menolak dan meminta agar diserahkan langsung kepadanya dengan alasan kalau diantar langsung ke pejabat Polres dikuatirkan akan terekam CCTV.

Sementara kasi Propam, Ipda Jaime Jose Fonseca saat dikonfirmasi terkait tindakan hukum yang akan diambil, kaitan dengan kasus penipuan dan pemerasan yang dilakukan terlapor, mengaku belum ada tindak tegas dari pihak Polres meskipun kasusnya sudah terjadi sejak bulan Februari 2017. Dan sementara ini masih menunggu petunjuk dari pimpinan.

” Maaf ibu wartawan, menyangkut itu saya tidak bisa berkomentar. Karena kami masih menunggu petunjuk dari bapak Kapolres, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto, S.H, S.IK, ” tegas Fonseca.(dit)

Berikan Komentar Anda.