Home Daerah TPBJ Serahkan Pembangunan Fisik 2019 Kepada Pemdes Tetaf

TPBJ Serahkan Pembangunan Fisik 2019 Kepada Pemdes Tetaf

43
0
SHARE

Serah terima pekerjaan dari TPBJ Kepada Pemdes Tetaf, Kamis 9/1/2020 (foto erik sanu)

Soe, terasntt.com — Tim Pengelola Barang dan Jasa (TPBJ) serah terima hasil pekerjaan tahun anggaran tahun 2019 kepada Pemerintah Desa Tetaf, Kamis (9/1/2020).

Pantauan terasntt.com, acara serah terima pekerjaan ini berlangsung di salah satu embung yang direhab dindesa setempat dan dihadiri Camat Kuatanana, Yuliana Woy bersama staf, Pendamping Pemberdayaan dan Pendamping Infrastruktur tingkat kecamatan, Babinkamtimas Desa Tetaf, Ketua dan anggota BPD desa Tetaf, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Pendidikan, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, RT/RW dan masyarakat.

Nyongki Kolo, selaku Pendamping Infrastruktur Kecamatan Kuatnana dalam sambutannya menyatakan, bahwa Desa Tetaf merupakan desa pertama yang melakukan serah terima pekerjaan fisik.

” Kami bertugas disini sudah sekitar empat tahun dan baru tahun ini dilakukan acara serah terima pekerjaan dan Desa Tetaf merupakan desa pertama dalam Kecamatan Kuatanana yang melakukan ini. Dalam pekerjaan juga tentu ada kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan, untuk itu kami mengharapkan koreksi dan masukan dari semua pihak agar ada perbaikan-perbaikan pada tahun-tahun berikutnya. Dalam kesempatan ini juga saya menyampaikan permohonan maaf kalau dalam proses pekerjaan ini saya terlalu keras, tapi semua ini demi kebaikan dan kemajuan kita bersama di Desa Tetaf,” ujarnya.

Camat Kuatnana, Yuliana Woy, menyampaikan apresiasi dan profisiat kepada Pemerintah Desa Tetaf dan TPBJ yang sudah bekerja maksimal menyelesaikan semua pekerjaan fisik. Agar dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Harus disadari bahwa Desa Tetaf ini merupakan pusat ibu kota Kecamatan Kuatnana, maka harus menjadi contoh untuk desa-desa yang lain dalam wilayah Kecamatan Kuatanana.

” Desa Tetaf ini pusat kota Kecamatan. Jadi harus memperhatikan pembangunannya serta kebersihan lingkungannya. Desa Tetaf harus jadi contoh dan teladan untuk desa-desa yang lain. Gerakan RT/RW dan semua pihak untuk mendukung pembangunan yang ada,” Harap Woy.

Lanjutnya, “Embung yang sudah jadi ini harap dimanfaatkan airnya untuk tanam sayur-sayuran dan tanaman lain yang bisa meningkatkan ekonomi rumah tangga. Dengan demikian maka angka memiskinan bisa ditekan.

” Embung ini dibangun dengan anggaran yang besar, jadi harap agar jangan disia-siakan. Bapak desa harus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan air yang ada,” tegasnya.

Sementara untuk jalan, Camat Kuatnana berharap agar bisa dibersihkan dan dijaga setiap saat.

” Untuk jalan harus dijaga, kalau tumbuh rumbut dibersihkan. Kalau terkikis air jangan dibiarkan, tapi dirawat. Masyarakat harus terbiasa mencintai pembangunan yang sudah diselesaikan oleh Pemerintah. Karena program pembangunan tidak bisa berulang dalam waktu dekat ditempat yang sama. Jadi harus memiliki mental mencintai apa yang sudah dikerjakan karena itulah berkat kita,” katanya.

Woy juga menyinggung soal kasus stunting paling tinggi di Kecamatan Kuatnana.

” Desa Tetaf yang paling tinggi angkanya. Ini juga berkat pergumulan kita bersama untuk menekan dan menurunkan angka stunting. Harap ada kerja sama dari semua pihak,” tandasnya.

Sementara Kepala desa Tetaf, Yulius Talan ketika diwawancarai wartawan menyatakan, bahwa paket pekerjaan fisik untuk Desa Tetaf tahun anggaran 2019 ada dua, yakni peningkatan jalan sirtu sepanjang 3.500 meter dan rehab 2 unit embung.

” Pekerjaan fisik yang dikerjakan pada tahun 2019 menggunakan APBDes Tetaf dengan total anggaran adalah sebesar Rp. 818.454.000 dengan perincian untuk peningkatan jalan sirtu sebesar Rp.626.004.900 dan rehab 2 unit embung sebesar Rp. 192.449.100 dan puji Tuhan semuanya bisa dikerjakan dan diselesaikan tepat waktu, Dalam pekerjaan ini juga melibatkan pihak ketiga dan masyarakat untuk padat karya tunai. Pekerjaan ini melibatkan pihak ketiga, yakni pekerjaan jalan ko dikerjakan oleh CV. Kasih Ibu dan rehab embung dikerjakan oleh CV. Gavirat,” katanya.

Sementara untuk padat karya tunai (HOK) dikerjakan oleh masyarakat sekitar lokasi pembangunan fisik.

” Untuk HOK ini sangat menguntungkan masyarakat, kedepan memang kita akan melibatkan masyarakat untuk perputaran uang terus di dalam desa,” ujarnya.(sys)

Berikan Komentar Anda.