Home Hukrim Tiga Penyidik Dimutasi, Kasus Illegal Logging TTU Mandek

Tiga Penyidik Dimutasi, Kasus Illegal Logging TTU Mandek

949
0
SHARE
Foto : Yudith Taolin

KEFAMENANU, Terasntt.com — Sejak tiga menyidik Polres TTU dimutasi keluar daerah kasus Ilegal Logging yang ditangani mandek. Para penyidik ini juga menangkap basah pelaku yang pencurian kayu dalam kawasan Hutan Oemenu, Fatubeba beberapa waktu lalu.

Untuk itu, Sahabat Polisi TTU mendesak Kapolres, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto, SH, S.I.K, M.H segera menarik kembali Penyidik Kasus Illegal Logging Yang Dimutasinya.

Alasan permintaan dipulangkannya tiga penyidik tersebut masing – masing, Bripka Dominggus Samba, Bripka Daniel Tutkey dan Brigpol Aryanto
agar proses hukum perkara Illegal Logging di dalam kawasan Hutan Oemenu, Fatubeba beberapa waktu lalu dilanjutkan. Ketiga polisi tersebut saat dipindahkan sedang menangani kasus Illegal Logging yakni pencurian kayu jenis Sonokeling dalam kawasan hutan.

Dominggus Samba dipindahkan ke Polres Flores Timur, Bripka Daniel Tutkey dan Brigpol Aryanto dipindahkan ke Polres Sumba Barat.

Sejak tiga anggota penyidik ini dipindahkan, kelanjutan proses hukum kasus Illegal Logging ini tidak terdengar lagi.

Menyoroti hal tersebut, Sahabat Polisi, PIAR NTT dan Lembaga Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) Cendana Wangi dengan tegas meminta Kapolres TTU agar ketiga anggota polisi yang dimutasikan segera dikembalikan ke posisinya di Polres TTU guna melanjutkan penyidikan kasus Illegal Logging.

Direktris PIAR NTT, Sarah Lerry Mboeik menilai aneh kebijakan Pimpinan kepolisian di wilayah TTU.

Menurutnya dengan mengaburkan kasus Illegal Logging, maka akan memutuskan rantai informasi Illegal Loging di wilayah Kabupaten TTU.

” Waduh…aneh sekali kebijakan Polri. Ini jelas – jelas namanya membiarkan kejahatan pengrusakaan hutan terus terjadi,” ungkap Lerry saat dikonfirmasi via telepon selulernya, Kamis (12/10/2017).

Dalam beberapa kasus Illegal Logging di Kabupaten TTU, Lerry telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan, juga pihak – pihak terkait dan terus memantau proses hukumnya sendiri.

“Ada siapa di balik kasus Illegal Logging di TTU, ko… semuanya diam ! Jangan – jangan karena ada orang besar yang ikut terlibat. Pak Kapolres TTU, saya pertanyakan mengapa beberapa anggota polisi yang sementara menangani kasus illegal Logging harus dimutasi. Sangat aneh bagi saya, kalau dimutasinya ketiga anggota polisi itu karena alasan promosi jabatan. Promosi jabatan dengan sedang dibongkarnya kasus Illegal Logging, ada apa sebenarnya. Jadi tolong mereka yang awalnya menangani kasus Ileggal Logging segera dikembalikan, proses hukumnya harus transparan,” lanjyt Lerry penuh tanya.

Demikian juga, Direktur LCW NTT, Victor Manbait bahwa Kasus Illegal Logging di TTU sudah sangat jelas. Ada orang yang melakukan dan ada barang bukti saat tertangkap basah dalam kawasan hutan. Dan jika kasusnya didiamkan maka akan menjadi Rapor merah bagi Kapolres TTU.

Pihak Kepolisian Resort TTU harus menunjukkan wibawa polisi dalam upaya penegakkn hukum yang bekerja dan tunduk pada aturan hukum. Bukan menunjukkan lemahnya pengakuan hukum dalam kasus ini.

” Kasus Illegal Logging Sonokeling itu sudah sangat telanjang, maksudnya yang melakukan penebangan jelas, ada alat yang digunakan, bukti kayu yang ditebang dari dalam hutan, pihak yang menampung jelas, yang menyuruhpun sudah disebutkan dengan jelas. Jadi tidak ada alasan bagi polisi untuk mendiamkan kasus ini dengan berbagai dalih yang membodohi publik,” ungkap Manbait.

Lebih lanjut ia mengatakan, Hanya ada dua kemungkinan, dengan belum adanya tersangka dalam kasus ini berarti pertama, polisi sengaja mendiamkan. Kedua, kemungkinan ada tangan – tangan kuat di luar polisi yang mengendalikan sehingga polisi tidak bisa berbuat apa – apa. Dan ini berkaitan dengan pimpinan polisi di TTU.

” Untuk menunjukkan bahwa polisi adalah penegak hukum yang bekerja dan tunduk pada hukum, bukan oleh kekuatan lain. Lemahnya pengakuan hukum dalam kasus ini menjadi tugas dan tanggungjawab Kapolres TTU sebagai pimpinan, Dan dalam memberikan arahan bagi penyidiknya untuk bekerja dengan maksimal, kurang berjalan. Apalagi penyidik – penyidik yang berhasil membongkar kasus ini dipindahkan begitu saja. Meskipun dengan dalih alasan organisasi, tapi publik tahu ini berkaitan dengan kasus kayu Sonokeling yang dicuri salah satu oknum PNS pada Dinas Kehutanan bersama dengan anak buahnya di dalam kawasan hutan lindung. Ketiga anggota polisi itu seharusnya diberi penghargaan bukan malah dimutasikan. Kami justru salut dengan kinerja ketiga polisi berintegritas seperti mereka. kami meminta mereka bertiga segera dikembalikan untuk melanjutkan proses hukum dalam mengungkapkan kasus Illegal Logging yang sejak awal dipegang oleh mereka. Jika mereka bertiga tidak segera dikembalikan ke Polres TTU untuk melanjutkan proses hukumnya, maka ini menjadi rapor merah untuk kapolres TTU karena dinilai tidak bisa membawa kasus yang sudah sangat telanjang di mata publik ini sampai ke meja hijau,” tegasnya.

Kasus Illegal Logging ini resmi dilaporkan Petugas Kehutanan Risal Ndolu ke Mapolres TTU dengan Nomor LP / 130 / V / 2017 / NTT / Res TTU, Tanggal 29 Mei 2017.

Dalam laporan itu ada pengakuan dari seorang pengusaha kayu Charles Usboko saat berada di TKP bahwa anak buahnya sudah salah dan karena baru pertama kerja kayu, maka dimintanya kepada pihak Kepolisian untuk tidak menahan kayu dan alat sensor, bahkan ia berani bertanggungjawab atas kesalahan anak buahnya di TKP.

Barang bukti yang ditahan pihak kepolisian Resort TTU demi kelancaran proses hukum, diantaranya kayu Sonokeling dalam jumlah banyak dan alat sensor pohon berupa gergaji rantai (Chainsaw).(dit)

Berikan Komentar Anda.