oleh

Teteskan Air Mata di Bukit Dakolo

SEBUAH bukit yang terletak di wilayah perbatasan Timor Leste dan Kabupaten Belu ” Dakolo” namanya mengisahkan banyak cerita bagi para veteran di Belu dan Malaka. Bukit itu menjadi saksi bisu ketika pertempuran antara kelompok Fretelin dengan para veteran yang berusaha mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesai (NKRI).
Bersenjatakan, tombak dan parang sedanya mereka terus berperang menghadapi kelompok yang dilengkapi senjata api.
Dalam situasi segenting itu, tidak ada korban jiwa, namun dua pejuang asal Kabupaten Belu, Blasius Fahik dan Kehi terkena tembakan pada kemaluan serta tangan dan pinggang hingga dilarikan ke pos keamanan terdekat.
” Saat itu saya menolong kedua teman itu sambil menetekan air mata, tetapi dengan semangat juang yang tinggi kami tetap bertahan hingga akhirnya dibantu TNI Batalion 743, 733 dan 331,” kata seorang Veteran. Leonardus Yos Seran saat ditemui di Atambua, Sabtu (15/8/2015).
Yos Seran, mengisahkan saat kejadian itu, mereka diserang secara membabi buta oleh kelompok pemberontak Timor Timur, Frtetelin hingga mereka berhamburan menyelamatkan diri dan berlindung dibalik pohon sambil melakukan perlawanan dengan melepaskan tombak ke arah pemeberontak.
Upaya itu ternyata sia – sia karena hujan peluruh dari kelompok Fretelin terus mengarah kepada mereka dan akhirnya dua orang terkena tembakan.
” Untung kami di bantu pasukan dari yonif 743, 733 dan yonif 131 sehingga selamat dari kepungan,” katanya sambil mengusap wajah mengenang masa krisis itu.
Demikian juga, Siprianus Fahik mengisahkan, kala itu dia tergabung dalam kompi tiga, pleton 1 terus berjuang melawan kelompok Fretelin.
” Waktu itu banyak pertempuran yang terjadi, selain di Dakolo, kami juga melakukan pertempuran di Uamauk dan Aiseeren. Ketika perang bergejolak di Uamauk, komdan regu kami Lazarus Pramila terkena tembakan. Kami sedang mengejar kelompok Fretelin, tiba-tiba saja terdengar bunyi tembakan dan ternyata komdan diterjang peluru,” ujarnya dengan tatapan hampa.
Demikian juga pertempuran di Aiseeren menjadi pertempuran terlupakan karena para penjuang NKRI terus berjatuhan.
” Halek, Frans Maluku, Luis Ferdial mereka terkena tima panas dari kelompok pengacau Fretelin,” kata Fahik.
Menyongsong HUT RI ke 70, koordinator Veteran Belu dan Malaka, Stevanus Atok, berharap semangat juang para veteran kala itu bisa menjadi contoh dan teladan bagi generasi masa kini. Karena tantangan kedepan akan lebih berat,” ujarnya mengakhiri pertemuan itu.(Marselino Kardoso)

Komentar