Home Pendidikan Teman Jadi Cinta

Teman Jadi Cinta

151
0
SHARE

Oleh : Baunsele Albert

Guru SMA Negeri 1 Soe 

DI kehengnan malam sepih bertabur bintang, di sebuah bilik sempit dan sederhana penuh kedamaian, sang penyair tengah memainkan penanya di atas sehelai kertas. Kata demi kata dirangkainya menjadi satu kesatuan yang utuh penuh makna. Menggoreskan pikiran-pikiran cerdas nan kreatif. Serasa menyesal seumur hidup bila ditinggalkan, namun bila dinikmati terasa indah di hati dan permai di kalbu.
Sang penyair muda belum beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak mau bekerja setengah hati. Lagi dan lagi, kalimat demi kalimat dirangkainya dengan kata-kata pilihan. Dihadapannya dibentangkannya ilusi dan pengalaman sebagai pedomannya. Ia tentu tidak ingin bernyanyi semerdu-merdu puteri-puteri kayangan, jika itu tidak ia dendangkan dengan cinta.
Tampaknya sang penhyair muda tengah berpikir keras. Dengan menggunakan sedikit imajinasi, ia mencoba menghadirkan pengalaman-pengalaman hidupnya yang telah lama terkubur. Setelah beberapa menit menerawang jauh, ia kembali menulis lagi.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 01.35 WIB. Pikirannya masih menerawang jauh untuk menghadirkannya secara kreatif dalam selembar kertas. Saat itu Aldy teringat akan teman kecilnya, rina semasa ia masih kanak-kanak dulu. Mereka sangat akrab bahkan tak dapat terpisahkan lagi. Yang satu akan menangis kepada ibunya jika sehari saja ia tidak melihat dan bermain bersama kawannya.
Setiap hari mereka menghabiskan waktu dengan bermain bersama. Tempat bermain yang paling disenangi oleh mereka berdua adalah di pantai, yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Membuat gundukan menyerupai gunung, jembatan dan rumah-rumahan dengan pasir adalah jenis permainan kesukaan mereka. Terkadang mereka lupa makan karena terlalu keasyikan bermain. Di tengah hamparan pasir putih nan luas dan di bawah rimbunan pohan lontar yang sejuk itulah mereka menghabiskan masa kanak-kanak mereka.
Bulan berlalu tahun pun berganti. Usia mereka pun semakin hari semakin bertambah. Itu berarti bahwa mereka harus meninggalkan masa kanak-kanaknya dan memasuki masa sekolah. Ketika genap berusia lima tahun, mereka berdua akhirnya didaftarkan bersama oleh kedua orang tua mereka pada sebuah Sekolah dasar Negeri terdekat. Setiap pagi dan siang, mereka harus diantar dan dijemput oleh kedua orang tua mereka. Akan tetapi ketika mereka sudah di bangku kelas II SD, mereka sudah bisa pergi dan pulang tanpa dijemput. Mereka tampak senang dan bahagia dikala bersama.
Enam tahun telah berlalu, mereka berdua akhirnya menyelesaikan bangku SD dengan baik. Mereka lulus dengan hasil yang membanggakan. Orang tua mereka juga ikut senang dan bahagia melihat kesuksesan keduanya. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk meninggalkan seragam putih merah dan siap mengenakan seragam putih biru. Mereka juga harus siap dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, teman baru, suasana baru dan segalanya. Akhirnya, masa SMP pun mereka lalui dengan mulus dan mantap tanpa tangtangan yang berarti. Semuanya berjalan denagn lancar termasuk pertemanan di antara mereka.
Hubungan pertemanan antara Aldy dan Rina semakin hari semakin akrab ketika mereka sudah di bangku Sekolah menengah Atas (SMA). Ke sekolah, perpustakaan, ke danau telaga biru dan ke Mall atau Lippo bahkan Transmart sekalipun mereka selalu bersama.
Suatu saat ketika mereka sedang menikmati minuman segar dan udara sejuk di sebuah sudut taman rekreasi, entah mengapa mata mereka tiba-tiba saling berpapasan. Sebuah tatapan yang sungguh berbeda dari yang biasanya. Suasana yang ramai penuh canda, tiba-tiba berubah menjadi bisu. Kebisuan itu terjadi oleh karena satu tatapan yang tak terhindarkan itu. Ehhabiskan minumnya bang, sudah jam 16.45 ini. Kata Rina menyadarkan Aldy dari lamunannya. Oh iya dik. Jawab Aldy dengan nada sedikit gugup.
Entah mengapa, Aldy tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Apakah aku jatuh cinta kepada Rina yang telah aku anggap sebagai adikku sendiri? Apakah Rina akan marah jika aku mengungungkapkan perasaan ini kepadanya? Ataukah ia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini? Tanya Albert dalam hatinya. Aku yakin ada benih-benih cinta itu di antara hatiku dan hatimu Rina. Kita tidak bisa membohongi diri kita sendiri. Itu tampak dari kejadian yang baru saja terjadi. Suatu tatapan yang penuh makna. Mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk mengatakannya. Pikir Aldy meyakinkan dirinya.
Hari berikutnya setelah pulang sekolah, Aldy mengajak Rina untuk menemuinya di bangku taman di bawah pohon besar di pinggir danau telaga biru. Tempat itu adalah tempat penuh kenangan. Aldy dan Rina biasanya ke sini tatkala satu di antara mereka lagi sedih,ataupun gembira ketika salah satu di antara mereka mendapat kado dari orang tuanya. Di tempat inilah mereka saling berbagi, baik suka maupun duka. Di tempat ini jugalah Aldy meminta Rina untuk menemuinya jam 15.00 WIB nanti sore.
Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya, jam yang telah disepakati bersama tinggal beberapa menit lagi. Rina buru-buru karena ia tak mau mengecewakan Aldy. Namun rupanya Aldy belum tiba di taman itu ketika rina tiba. Aldy muncul setelah rina menunggu hampir sepuluh menit.
Rina.! Seru Aldy ketika melihat Rina yang gelisah mencari-cari sesuatu. Rina berpaling kea rah datangnya suara. Rina tersenyum ketika melihat Aldy datang. sudah lama menunggu? Tanya Aldy. Ah, tidak. Setelah mengerjakan PR aku langsung kemari. Aku takut kamu kelamaan menunggu aku. nyatanya, justru kamu yang malah menunggu aku sahut Aldy sambil tersenyum. Ah, tidak apa-apa kok balas Rina.
Aldy mengambil tempat duduk tepat di samping Rina. Memang bangku yang tersedia hanya untuk dua orang. Di bawah pohon besar yang rindang dan pemandangan alam di sekitar danau yang indah menjadikan suasana semakin akrab. Keduanya pun ngobrol diselingi canda Rina yang penuh daya pikat tersendiri.
rina.. Aldy memecah kesunyian di antara mereka.
Ya?
Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Untuk itulah aku mengajakmu kesini.
Tentang apa?
Tapi aku takut kamu marah padaku, aku tidak mau pertemanan yang telah bertahun-tahun kita bina bersama menjadi rusak oleh karena satu hal in.
Tentang apa Aldy, aku tidak marah kok.. kata Rina meyakinkan hati Aldy.
Tapi kamu harus janji padaku. Kamu harus janji bahwa kamu tidak akan marah jika aku mengatakannya padamu.
OkAldy, aku janji. Pohon besar dan danau telaga biru inilah yang menjadi saksinya.
Aku mencintaimu Rina. Ungkap Aldy dengan suara agak serak.
Kamu serius.? Tanya Rina dengan suara sedikit gemetar.
Ya,aku serius. Aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi sahabat dan milikku selamanya. Aku tidak mau kamu akhirnya menjadi milik orang lain. Kamu mau kan.??? Tanya Aldy.
Aldy, sesungguhnya aku juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Tetapi tidak Mungkin aku yang mendahuluinya. Aku sadar bahwa kamu bahkan telah menganggapku sebagai adik kandungmu sendiri. Tetapi, aku tidak bisa menahan rasa ini. Aku ingin hubungan kita menjadi jelas seperti apa yang kamu inginkan saat ini. Apa yang menjadi inginmu adalah inginku juga, dan apa yang menjadi harapanmu, itu juga harapanku. Aku juga mencintaimu Aldy.
Aku benar-benar merasa bahagia saat ini. Kata Aldy kepada Rina.
Kenapa?
Karena akhirnya aku benar-benar mendapatkan bintang yang selama ini ku jaga.
Aku juga.
Kenapa?
Karena akhirnya aku pun seutuhnya mendapatkan matahari kehidupan yang selama ini menyinariku. Yang jelas, selama bertahun-tahun kita bersama, tidak sesaat pun aku melupakanmu. Aku juga balas Aldy dengan perasaan senang. Akhirnya pertemanan yang telah bertahun-tahun dibina oleh Aldy dan Rina, dimeteraikan di atas hamparan danau telaga biru nan luas membentang. Danau telaga biru menjadi saksi bisu kisah cinta ini.
Jam Backer tiba-tiba berdering. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Kisah cinta dan pertemanan yang tidak akan pernah terlupakan itu akhirnya harus berakhir di sini. Sang penyair muda akhirnya menutup kisahnya dengan rasa puas. Terima kasih teman , terima kasih cinta.(*)

Berikan Komentar Anda.