oleh

Tanah Milik Gereja St. Petrus Watololong Diserobot Warga

-Daerah-11 views

Tanah yang disengketakan 

Adonara, teras-ntt.com — Tanah milik Gereja St. Petrus Watololong, Paroki Santo Lite Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores yang didirikan sejak 1970 di atas tanah milik umat di serobot Tarsius Pati (TP) warga setempat. TP dan keluarga mengklaim sebagai pemilik dan langsung membangun fondasi rumah di atas tanah tersebut pada hari Selasa, 9 Juni 2020.

” Pada hari itu juga TP bersama sejumlah orang langsung mendirikan sebuah fondasi rumah yang menurut masyarakat sekitar adalah milik Kornelis Kopong adik kandung TP,” kata salah seorang tokoh masyarakat setempat Bernadus Sili melalui pesan WhatsApp kepada redaksi teras-ntt.com, Sabtu (13/6/2020).

Sebelum peristiwa itu terjadi, kata Sili, pihak Dewan Pastoral Stasi St. Petrus Watololong, Nikolaus Ara Demon langsung berkoordinasi dengan sejumlah tokoh umat dan masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan. Sehingga Senin, 8 Juni 2020 sekitar pkl.07.00 Nikolaus Ara bersama salah seorang tokoh adat menemui TP (pelaku) di rumahnya agar membatalkan niat mereka karena tanah itu milik umat.

Namun lanjut Sili, TP bersama keluarga tetap bersikeras melaksanakan kegiatan di atas tanah tersebut. Keesokan harinya Selasa, 9 Juni 2020, Kornelis Kopong salah seorang dari keluarga TP mengancam akan menyegel gereja.

Dan benar apa yang dikatakan Kopong malam itu, Selasa, 9/6/2020 bapak TP bersama keluarga melakukan kegiatan di atas tanah milik umat tanpa menghiraukan teguran pengurus gereja. Anehnya dalam waktu sekejap sebuah fondasi selesai dibangun.

Menurut informasi dari masyarakat fondasi tersebut adalah milik Kornelis Kopang adik TP. Dan tak jauh dari tempat itu terpancang sebuah papan bertuliskan “JANGAN RAMPAS HAK KAMI..! Tolong berikan kepada kami surat bukti jual beli tanah”

Aksi warga tersebut berlanjut hingga keesokan harinya, Rabu 10 Juni 2020, TP bersama keluarga melakukan pembersihan di area depan gereja seakan menunggu siapa yang datang menegur.

Tanah yang disengketakan

Atas kejadian tersebut kata Sili pengurus gereja Nikolaus Ara Demon dan Ketua Dewan Pastoral Paroki Lite, Pius Peka Dore langsung menghubungi Kapolsek Adonara Barat, IPTU. H.P. Yohanes Radja di Waiwadan Kecamatan Adonara Barat. Dan selang beberapa jam kemudian Yohanes Radja bersama anggotanya meluncur ke TKP dan langsung menghadirkan TP dan keluarganya di Kantor Desa Oesayang.

Menurut Sili dalam pertemuan itu TP mengatakan, tanah yang diberikan oleh bapaknya Simon Boro (alm) untuk pembangunan gereja sudah dibatasi dengan pagar bukan seluruh lokasi. Sementara adiknya David Woka yang juga adalah aparat desa Desa Oesayang mempersoalkan tentang pilar pembatas lokasi yang ditanam secara sepihak oleh pihak gereja tanpa melibatkan mereka. Karena itu David meminta kejelasan dengan bukti surat jual tanah itu.

Sedangkan pihak gereja melalui Nikolaus Ara Demon, menyatakan lokasi tanah gereja sudah sesuai pilar yang ditanam sejak dulu, termasuk lokasi pendirian fondasi oleh pihak TP dan keluarganya.

Setelah mendengar keterangan dari TP dan pihak gereja Kapolsek Yohanes Radja minta waktu kepada kedua pihak, karena perlu keterlibatan sejumlah unsur dalam wilayah ini seperti, camat Adonara Tengah, Pastor Paroki Lite serta tokoh- tokoh terkait lainya yang dipandang perlu.

Tanah yang disengketakan

Akhirnya, kata Sili disepakati beberapa hal diantaranya pertama, Kegiatan di atas lokasi sengketa untuk sementara dihentikan. Kedua, Pemerintah Desa Oesayang segera mengagendakan jadwal baru dan menghubungi camat Adonara Tengah, Pastor Paroki Lite untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan ini.

Sementara kepada pemerintah desa dan pengurus gereja Kapolsek berharap agar terus menjaga masyarakat dan umat agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan bersama. Hingga berita ini diturunkan belum ada informasi lanjutan dari pimpinan Desa Oesayang, sementara situasi di TKP kondusif dan terkendali.(*/mas)

Komentar

Berita Terbaru