Home Daerah Tanah Darah

Tanah Darah

1095
0
SHARE
Foto : Istimewa

Cerpen : Rafael L Pura (Wartawan terasntt.com)

SEPANJANG hari, halimun bergerak cepat, warnanya hitam sesuram petang, menyelimuti perbukitan dan samudera. Stanis, Ketua Adat Desa Watan Pao duduk terpekur di atas rerumputan yang terinjak kaki kuda. Pandangannya menerawang jauh, Ia masih terlena atas kemenangannya dalam menggagalkan pembangunan megah sebuah hotel di kampungnya.

Memang, kampungnya kini tengah menjadi lirikan para Investor, karena memiliki keindahan pantainya dengan keberadaan barisan bukit-bukit  yang mengapitinya. Belum lagi kekayaan alam yang terkandung  di dalam bumi.

Namun, Ia masih siaga. Pasalnya sebuah biara dan gereja telah dibangun di tepi kampungnya. Peran gereja ini kian menyebar dan telah mendapatkan tempat di hati masyarakat. Ia seolah takut akan bayangaan masa depan, jangan sampai, penyebaran ajaran itu menghilangkan identitas sukunya. Yang ia dengar, sebagian masyarakat yang telah menerima ajaran ini, telah mengubah nama depannya, tidak lagi menjadi nama nenek moyang mereka, namun telah berganti menjadi Bartolomeus, Philipus, Yohanes, dan masih banyak nama babtis lainnya. Ia takut, suatu saat masyarakat di kampungnya ini akan kehilangan identitas dirinya.

Kata orang, kalau gereja telah masuk dalam sebuah kampung, maka akan membawa angin pembaharuan, baik moral maupun fisik pembangunan.
Ketakutannya semakin bertambah, dengan rencana pembangunan bandara khusus untuk helikopter. Ia.merasa, ada sebuah rencana besar di balik ini. Rencana terakhir inilah yang membuatnya begitu terusik.

Belum lagi, selama ini, Ia dan Warganya telah merasa ditinggalkan oleh Negara, atau lebih tepatnya, tidak ada negara dalam pikiran mereka. Pada saat yang sama, Ia merasa bersyukur dengan kehadiran Gereja dan ajarannya tersebut. Kendati dilupakan Negara, Ajaran Gereja seperti memberi angin segar bagi kehidupan spiritualnya, Dan itu diyakini dalam-dalam.

***
Gulungan deru gelombang bergerak naik turun, ombaknya besar menyapu pantainya yang putih, pun begitu, kegetiran ombak ini tidak membuat masyarakat di sekitarnya takut, malah datang bermain dengan hentakan ombak yang keras ini, terlebih anak-anak, ombak besar dan tinggi inilah justru menjadi puncak dari segala kegembiraan, mereka bermain girang mencumbu pantainya, berlari, sesekali melompat menendang ombak yang datang, saat itulah tawa mereka terdengar nyaring bergema di udara.

Pantai ini, adalah milik nenek moyang mereka, setiap jengkal tanah, pasir, adalah cucuran darah nenek moyang mereka dalam mempertahankannnya. pantai itu, laut itu, telah menghidupi ribuan generasi. Dilaut inilah, tempat mereka mencari makan, menaruh masa depan dan ribuan harapan lainnya.

Dipesisirnya, barisan rumah mereka seperti siaga menjaga pantai ini. Di atas pemukiman, tempat tinggal mereka, terdapat bukit barisan nan hijau, di sana, ada tanah-tanah pertanian yang juga memberi kehidupan bagi masyarakat lainnya. Tanah tersebut juga adalah warisan nenek moyang mereka.  Mereka telah berhasil merebutnya kembali dari penjajah, meskipun berdarah-darah. Banyak darah yang sudah membasahi tanah itu, warga telah mempertahankannya dan telah mengkultuskan tanah itu layaknya seorang Ibu.

Terlebih, semangat nasionalisme mereka akan kemerdekaan dan keutuhan NKRI. Kendati warga setempat hanya mendengar nama ini dalam ucapan orang-orang ataupun dari buku mata pelajaran, namun semangat inilah yang membawa mereka berjuang mempertahankan tanah ini, mempertahankan tanah mereka, adalah mempertahankan NKRI, kendati yang mereka tahu, NKRI sama halnya seperti pulau Jawa. Begitulah pengetahuan warga kampung ini akan NKRI.

Dari tanah yang dipertahankan inilah, kemudian menghidupi mereka dari generasi ke generasi, mulai dari makan minum setiap harinya, seragam sekolah, serta biaya sekolah anak bungsu mereka ke perantauan. Mereka selalu memanfaatkan tanah ini untuk kehidupan, tak sekalipun mereka menggantungkan harapan dari luar, apalagi bantuan dari orang orang Jakarta.

Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, masyarakat memandang tanah dan lautan ini sebagai sebuah kehidupan, tidak lebih. Terkadang, sehabis mencakul sepanjang hari, para petani selalu duduk dipelataran pondok mereka di tepi bukit tersebut, minum kopi sambil memandangi lautannya yang luas. Memandangi alam dari atas bukit itu, rasa penat yang mendera mereka sepanjang hari seolah sirna seketika. Kebiasaan ini selalu mereka lakukan setiap petang, minum kopi sejenak, lalu pulang ke rumah dengan damai.

Rupanya Pantai tersebut selalu ramai pengujung pada setiap hari minggu, kadang masyarakat dari kampung-kampung jauh datang berekreasi. Warga sekitar Kampung itu menganggap hal ini sebagai sebuah keanehan; datang jauh-jauh hanya melihat pantai. Bagi mereka, warga sekitar, lautan adalah tempat mereka mencari makan, tidak lebih. Itulah yang membuat kehidupan mereka nyaman dan damai.

***

Pagi itu, Stanis, duduk lesuh di samping rumah barunya, kini ia merasa seperti orang asing, kesedihannya mudah terlihat, sorot matanya lemah, tidak seganas dulu. putera semata wayangnya, Kopong, harus berhenti sekolah karena tak mampu lagi membayar Iuran setiap bulannya. Kopi dan makanannya yang dulu begitu asrih, yang dinikmatinya tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun, kini telah berganti menjadi mie goreng, mie rebus dan lain sebagainya, tidak ada lagi gurihnya ikan, sayur-sayuran dan makanan asli lainnya yang biasa ia dapat dari kebun hasil jerih payahnya sendinya. Nikmatnya hembusan asap rokok yang dulu dari daun lontar berbaur dengan tembakau hasil kebunnya, kini telah berubah menjadi surya, sempurna dan lain sebagainya. Hidupnya kini benar-benar asing, setiap harinya ia selalu mengeluarkan beberapa rupiah untuk keperluan hidupnya, dunia kini menawarkan banyak hal yang lebih muda, tapi baginya, keadaan ini adalah sebuah bentuk penjajahan lain dari kaum kaum pemodal.

Tanah yang dulu subur, kini telah berganti menjadi ladang industri, tanah mereka yang dulu ditumbuhi banyak jenis tanaman, kini berganti menjadi hotel-hotel mewah. Semuanya itu adalah ulah Pemerintah, membiarkan orang Jakarta datang merampas tanah mereka, dan menghapus sejarah leluhurnya tanpa jejak.

Stanis si tuan tanah itu adalah yang selalu memberikan perlawanan. Mula-mula, semua warga ikut bersamanya, namun kemudian menyerah satu per satu. Tinggalah ia sendiri, terasing di tengah kaumnya.

Ditengah kesendirinnya itu, datanglah Nadus, teman lamanya, yang kini menjadi atasan kaumnya di hotel mewah tersebut.  “Stanis, aku harus jujur padamu, kenapa kaum kita membiarkamu berjuang begitu saja, namun sebenarnya kau telah menang teman,” kata Nadus membuka obrolan mereka.

Stanis tersenyum, kemudian memandang wajah kawan lamanya itu, Nadus yang dulu pribumi, kini berubah layaknya orang-orang Kota. Nadus kemudian melanjutkan, “sewaktu malam kita berkumpul untuk memberikan perlawanan terakhir, sebelum datang ke sini, ada beberapa orang berdasi mendatangi rumah-rumah warga, aku mengintai dari luar, setelah orang berdasi itu pergi, senyum warga kita mereka, terlihat jelas di wajah mereka. Begitulah dan seterusnya, dari rumah ke rumah. Setelah itu, aku mendatangi mereka satu per satu, dengan serta merta mereka langsung menolak mentah-mentah ajakan saya. Saya pun jadi bingung,” “Ada sesuatu yang tidak beres,” kataku dalam hati. Ditengah kebingungan itu, aku langsung berlari menuju rumah, sesampainya di sana, Istriku mengatakan kalau tadi ada orang datang mencari saya, sebelum mereka pergi, mereka meninggalkan sebuah amplop besar di atas meja,” lanjutnya dengan suara datar dan hati-hati.

“Rupanya kedatangan saya ke rumah itu diketahui oleh mereka, lantas langsung menjemputku dan membawaku ke hotel itu. Orang-orang itu menawarkanku hal-hal luar biasa lainnya. Saat itu, aku tak kuasa melihat kilauan emas dan tumpukan uang dihadapanku.” Ia berhenti bercerita, mengambil rokok dalam sakunya kemudian diletakan dihadapan Stanis.

Ia melanjutkan, “sesaat setelah itu, seseorang bertubuh besar dengan jas rapih masuk, Ia mengatakan kepadakku, bahwa semua harta ini akan menjalani milik saya, asalkan saya pulang dan mempengaruhi masyarakat kita agar tidak lagi melakukan pemberontakan dan semuanya terlenah akan harta itu,” ujarnya dalam.

Stanis hanya menunduk mendengar cerita itu, wajahnya mulai memerah, meskipun dalam kemarahan, namun kali ini, sepertinya ia telah mengakui kekalahannya. toh, semua orang sudah bekerja di Hotel itu, dan mendapatkan penghasilan setiap bulannya. Anak-anak mereka bisa sekolah pada sekolah kejuruan, kemudian dilarang melanjutkan kuliah dan langsung bekerja di Hotel itu.

Nadus menghembuskan asap rokok perlahan, kemudian melanjutkan, “setelah semuanya berlalau, aku jadinya menyesal sendiri, kenapa kaum kita hanya dipekerjakan sebagai buru kasar, sedangkan jabatan yang lebih tinggi lainnya diduduki oleh orang dari Jakarta ? Aku akhirnya jadi sedih, melihat keadaan saudara-saudara kita.

Stanis mengangkat wajahnya, kemudian bertanya, “Kalau boleh tau, berapa keuntungan yang diterima hotel itu setiap bulannya?” “kira-kira, diatas lima miliaran perbulan? Ucapnya polos.

Wajah Stanis semakin memerah, kemudian Ia berkata, “ini adalah sebuah kejahatan, lebih tepatnya kejahatan manusia, Orang -oarang kita diperlakukan seperti itu, sedangkan kita hanya jadi penonton,” ucapnya lirih.

“lihatlah mereka, begitulah kerja Kapitalis, mereka lebih senang dengan orang-orang bodoh yang banyak bekerja dan diam ketimbang orang pintar yang banyak bicara namun sedikit bekerja, itu makanya, mereka melarang anak kita untuk kuliah,” suara Stanis meninggi.

“Nadus, kau mempunyai kontribusi besar dalam kejatahan manusia ini, kejahatan terhadap warga kita sendiri.”

Ia memegang pundak Nadus, lalu melanjutkan. “lihatlah Stanis, kekayaan alam kita digeruk dan dibawah semuanya ke Jakarta, sedangkan kita mendapatkan apa? Ini adalah bentuk penjajahan lain, tapi kali ini lebih kejam, ketimbang penjajah dulu. Kita telah menjadi budak di tanah kita sendiri, Dus, kita berdosa terhadap nyawa nenek moyang kita, darah mereka tersia-siakan,”

Stanis berhenti sejenak, menghabiskan tetesan terakhir kopinya, kemudian melanjutkan. “Tanah kita sudah direbut, kini giliran mereka mengeksploitsi tenaga kita sendiri untuk menggeruk kekayaan tanah kita dan memnberikan keuntungan kepada mereka, ini adalah tindakan paling keji kawan,” ujarnya. Dalam kemarahan yang tak terbendung, Ia mencekik Nadus.

“Dalam keadaan kita seperti ini, dimanakah peran Gereja yang selalu dielu-elukan Warga? yang keseharian berkothba akan selalu melindungi kaum tertindas? Gereja seolah-olah diam melihat penderitaan kita. Visi mereka merasul bersama orang miskin sepertinya hanya sebuah Slogan. Mereka pasti telah berkonspirasi.” Suaranya semakin keras.

“buatlah perbandingan kawan, jauh sebelum kedatangan para investor itu, bangunan gereja hanya berupa bambu, tapi lihatlah sekarang, telah berubah menjadi dua lantai,” Ia menarik Nadus, lalu memperlihatkan sebuah Pohon Natal.

Nadus begitu terkejut ketika melihat puing pohon Natal berhamburan di pelataran rumahnya.

“Apakah kau telah membakarnya? Mata Nadua berkaca-kaca.

“Ya, aku telah membakarnya, aku merasa Gereja terkesan membiarkan kita berjuang sendiri,” Jawabnya keras.

Mendengar itu, Nadus seolah menemukan keberanian, Ia mendorong Stanis, dan langsung meninggalkannya, sembari berujar, “ini harus dilawan, meskipun mati sekalipun, harus dilawan. Aku telah berdosa terhadap tanah ini dan nyawa leluhur nenek moyang kita, dan sekarang aku ingin menebusnya.

Nadus berlari gontai meninggalkan perkampungan, kemudian masuk dalam hotel mewah tersebut.

***

Keesokan paginya, seperti pagi-pagi sebelumnya, Stanis duduk di beranda rumahnya, ia melihat warga-warga di kampung itu berlari gontai sambil berurai air mata, rupanya warga itu berbondong-bondong ke hotel tempat Nadus bekerja, Stanis mengikuti dari belakang.

Dari pintu keluar hotel itu, nampak beberapa pekerja hotel membopong sebuah mayat, mereka kemudian berhenti di beranda, ratusan warga yang sudah berada di hotel itu menyaksikan dengan seksama.

Berselang singkat keluarlah seorang Pria gemuk berjas lengkap, kemudian menunduk dan memberikan penghormatan kepada jasad tersebut kemudian berkata, “Dalam kedukaan yang paling dalam, kami menyampikan berita ini, seorang karyawan terhebat kita, Nadus Tanatawa, telah meninggal dunia akibat kecelakann kerja tadi malam, pihak hotel telah berusaha semaksimal mungkin menolongnya, namun Tuhan berkehendak lain,” Ia menutup pembicaraan dengan memperkihatkan raut wajah yang sangat sedih.

Mendengar itu, ribuan wajah seperti menyiratkan sebuah tanda tanya besar. “bagaimana mungkin Ia meninggal dalam hotel dengan fasilitas keamanan yang tinggi? namun terikan warga itu seperti hembusan angin, hanya diredam dengan senyum manis sang pria berjas tadi.

Namun, pertanyaan mereka itu tidak mendapat jawaban apa-apa. sementara tepat di bawah kaki Stanis, seekor kecoak muncul tiba-tiba. Kecoak itu sepertinya muncul membawa jawaban atas pertanyaan mereka.

Stanis berpaling, Ia menatap dari kejauhan bangunan dua lantai Gereja itu. Ia tersungkur sambil berujar, “Tuhan, Kau terlalu kejam,”(selesai)

Berikan Komentar Anda.