Home Humaniora Tahun 2019 Stunting NTT Turun 4,6 Persen

Tahun 2019 Stunting NTT Turun 4,6 Persen

138
0
SHARE

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi NTT, Iien Adriany (foto istw)

Kupang, tetasntt.com — Kasus stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 4,6 dari 30,9 persen. Data sementara Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTT menunjukan, kasus stunting tahun 2019 mencapai 30,9 persen turun dari tahun sebelumnya sebesar 35,5 persen.

Data tersebut merupakan hasil penimbangan dan pemeriksaan bayi di seluruh wilayah NTT pada bulan Februari dan Agustus tahun 2019.

” Data yang masuk sekitar 80 persen, ini data sementara tapi saya rasa kalau sudah 80 persen, prediksinya akan seperti itu, bisa bergeser tetapi kecil kemungkinan. Mungkin bulan Februari baru kita dapat data pastinya, kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi NTT, Iien Adriany saat ditemui di ruangannya, Selasa (14/1/2020).

Untuk diketahui penggunaan e-PPGBM sendiri bertujuan agar tenaga pelaksana gizi dan pemangku kebijakan di daerah lebih mudah dalam mengamati permasalahan gizi di wilayahnya sebelum mengambil keputusan serta tindakan apa yang akan dilakukan, baik secara komunitas maupun individu.

Data sementara dari e-PPGBM Dinkes NTT, setidaknya ada lima wilayah yang memiliki angka stunting yang cukup tinggi.

Kelima wilayah tersebut secara berturut-turut adalah kabupaten TTS, TTU, Sabu Raijua, Sumba Barat Daya dan Rote Ndao.

” Rote Ndao ada sedikit kenaikan sehingga rangkingnya naik,” ucapnya

Menurut dia penyebab tingginya stunting di lima wilayah tersebut akibat tidak mencapai 25 indikator yang ditetapkan pemerintah. Beberapa diantaranya adalah kemiskinan dan sanitasi atau ketersediaan air bersih.

” Untuk indikator kesehatan ada 14, sisanya indikator dari bidang lain,” terangnya.

Turunnya angka stunting di NTT sendiri lanjutnya, disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu diantaranya adalah penerapan program pendampingan bagi ibu dan anak, serta pembagian tablet penambah darah (FE) bagi remaja atau calon ibu.

Hingga saat ini telah ada kurang lebih 800 hingga 900 sekolah yang telah dibagikan tablet FE secara gratis oleh Dinkes Provinsi NTT.

” Ibu hamil harus kita rawat bahkan dari remaja kita sudah kawal. Calon ibu harus dipersiapkan untuk jadi ibu yang baik,” tuturnya.(fs)

Berikan Komentar Anda.