by

Sopir Kapolres TTU Aniaya Calo Penumpang Hingga Babak Belur

KEFAMENANU, Terasntt.com — Calo penumpang bus antar kota dalam provinsi di Kefemenanu, Emus Maukari belum lama ini dianiaya sopir Kapolres TTU Bripda Antonius T Bosko alias Toni akibat salah sangka.

Toni bersama 30 orang temannya mengeroyok korban di gudang bus Kraton jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kefa Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Akibatnya korban mengalami cedera berat pada bagian kepala mengalami perdarahan.

Emus Maukari saat dikonfirmasi Kamis pagi (29/9/2016) mengaku, kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polres, namun proses hukumnya terhambat karena kedua bela pihak ingin berdamai.

“Kami sudah melapor ke bagian propam. Tapi karena rencana awal akan berdamai secara kekeluargaan sehingga saya tidak jadi menandatangani laporan polisi. Pihak pelaku minta berdamai dengan suatu kesepakatan bersama, membayar denda tapi tdak ada kejelasan. Kami akan kembali melapor gara proses hukumnya dilanjutkan. Pasalnya tidak ada titik temu dalam penyelesaian damai dengan kami. Justru dalam proses damai itu saya sebagai korban dipermainkan,” tegas Emus.

Kasi Propam Polres TTU, Bripka Jefri Lede membenarkan pernyataan korban.

Menurutnya, laporan korban sudah diterima namun korban belum di BAP lantaran pihak keluarga korban ingin berdamai. Bahkan dirinya sudah berusaha mendatangi korban dan mengajak untuk diselesaikan di kantor polisi karena laporan polisinya sudah diterima.

” Begini, sebelumnya mereka melapor ke SPK dan kami di bagian provos waktu itu juga sudah terima laporan polisinya. Saya juga yang menelpon mereka menghadap ke bagian provos untuk melapor, tapi mereka tidak mau datang karena katanya mau urus masalahnya secara kekeluargan saja. Saya sempat pergi ke gudang bus kraton tempat korban bekerja untuk minta mereka datang melapor saja karena laporan polisinya sudah kami terima. Sampai di kantor, setelah diambil laporan polisinya saya sempat memintanya untuk membaca ulang LP sebelum ditandatangani. Ternyata korban Emus Maukori tidak mau menandatangani laporannya, dengan alasan mereka mau urus damai saja. Untuk meyakinkan itu, saya bertanya sampai tiga kali dan jawabannya mereka akan berdamai. Sehingga saya mengatakan, saya tidak bisa memaksa,” kata Lede.

Ketika hendak dibuat surat pernyataan damai, ada keluarga korban lainnya datang menolak kesepakatan awal untuk berdamai dan meminta untuk melanjutkan proses hukumnya.

” Ya jelas kami harus melanjutkan BAP tapi keluarga korban mengatakan akan pulang istirahat dulu kemudian kembali untuk di BAP. Kenyataan sampai sekarang mereka belum datang. Pada dasarnya kami tetap menunggu mereka untuk di BAP. Saya juga pernah ketemu korban mengantar surat panggilan untuk diperiksa tapi hingga kini dari pihak korban maupun pelaku tak ada yang datang untuk diperiksa,” ujarnya.

Kepada Terasntt.com, korban kembali menjelaskan kronologi penganiayaan yang dilakukan sopir Kapolres TTU.

” Kejadiannya memang sudah lama, Sabtu (20/8/2016) subuh. Saat itu saya mengantar keluarga yang baru selesai mengikuti pesta nikah salah satu teman sopir kami ke perbatasan Napan. Setiba di kilometer satu, tepatnya di depan Rumah Makan Padang I, saya jemput teman lain yang juga mau pulang. Tiba – tiba di belakang bus yang saya kemudikan ada satu mobil parkir, orang itu turun dari mobilnya kemudian dia bilang Oh ini ya bus Kraton nomor 23 sambil memotret bus. Setelah itu dia pulang kemudian datang lagi dengan mobilnya dan mengatakan kepada saya, kalau mau ketemu saya di simpang empat Kotis Brimob. Diapun langsung pulang. Karena merasa tak ada urusan dengan orang itu, kamipun pulang menuju gudang bus Kraton. Subuhnya, pukul 03.30 wita, ketika kami berada di gudang datang lagi orang itu tapi tidak sendirian. Ia membawa banyak temannya dengan mengendarai 3 unit mobil dan beberapa sepeda motor, jumlah mereka sekitar 30 an orang. Lalu bertanya kepada kami, sopir bus Kraton 23 yang mana? Begitu saya menjawab saya, tanpa bertanya dia langsung menendang saya bertubi – tubi. Saya menutup wajah dengan menyilangkan kedua tangan saya, tapi temannya yang lain ikut mengeroyok saya dan saya tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka semua. Beberapa tendangan dari polisi itu membuat saya tersungkur ke tembok gudang dan kepala saya terbentur dengan keras sehingga darah menempel di tembok. Kepala saya bagian kanan dekat ubun – ubun terluka dan mengalami perdarahan.
Saya dan dua teman saya, Geri dan Intan hanya sempat mendengar orang itu mengatakan saya memaki dia bilang polisi kurang ajar sehingga dia menghajar saya tak ada ampun. Bos kami keluar dari dalam rumah dan orang yang mengaku polisi itu masih sempat bilang ke bos saya, mau telpon ke kantor telpon saja, silahkan lapor. Saya ini sopir Kapolres TTU. Karena situasi sudah semakin memanas, bos saya berusaha melerai agar tidak ada serangan balik karena massa yang dibawa sopir kapolres itu cukup banyak,” kisahnya.

Atas laporan polisinya, korban sudah diambil visum oleh dokter RSUD Kefamenanu pada Minggu (21/8/2016) dan didampingi anggota Provos Polres TTU.

** Pelaku minta damai dengan bayar denda Rp 20 juta **

Setelah laporan polisi diterima bagian Provos Polres TTU, seminggu kemudian pelaku membawa beberapa temannya menemui keluarga korban untuk berdamai dengan niat membayar Rp 20 juta rupiah asalkan proses hukumnya tidak dilanjutkan.

Selama dua minggu korban dan keluarganya menunggu hasil kesepakatan itu sehingga dua minggu kemudian mereka balik ke rumah korban dan mengatakan hanya mampu bayar denda Rp 5 juta rupiah saja.

Keluarga korban merasa dipermainkan dan menolah uang Rp 5 juta rupiah itu.

” Kami bukan mau cari uang dari kasus yang menimpa saya, itu hanyalah kesepakatan dari suatu perdamaian saja. Jujur kami agak takut waktu itu, karena kami memang tidak tahu dia itu polisi dan jabatannya apa. kami juga tidak tahu dia itu sopir kapolres, tapi dia yang bilang mau kasihtahu kapolres lapor saja karena dia itu sopir kapolres. Saat itu baru kami tahu bahwa dia sopir Kapolres TTU. Namanya juga kami orang kecil, jadi wajar kami takut sehingga sudah jadi korban, kemudian dibujuk dengan uang kami mau saja. Tapi akhirnya kami dipermainkan, kami juga tidak terima. Kami akan kembali ke bagian provos untuk melanjutkan proses hukum,” tegasnya.(dit)

Comment

Berita Terbaru