by

Solidaritas Peduli Trafficing Gelar Seribu Lilin untuk Adelina Sau

Kupang, Terasntt.com – Jaringan Solidaritas Peduli Human Trafficing, Senin, (19/2/2018) menggelar aksi seribu lilin untuk Adelina Sau, Korban Penganiaayan yang meninggal di malaysia pekan lalu.

Adelina Sau (21), asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten TTS, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di malaysia. Ia meninggal setelah mengalami perlakukan yang tidak manusiawi oleh majikannnya.

Adelina tak hanya disiksa, tapi juga dipaksa tidur di teras rumah bersama anjing. Perlakuan itu didapatkannnya setiap malam selama satu bulan.

Sebelum meninggal, Adelina sempat dibawah ke Rumah Sakit bukit Mertajam, Malaysia. Ia akhirnya meninggal pada minggu, 11 Februari 2018.

Koordinator aksi, Orlando Orolalang mengatakan, Adelina Sau merupakan korban ke sembilan yang meninggal dari NTT, sekaligus menambah bukti panjang bahwa perlindungan terhadap buruh migran Indonesia di luar negeri belum dijalankan.


MoU yang ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia dan Malaysia, Kata Orlando, tidak pernah diimplementasikan, begitu pula terhadap rendahnya diplomasi negara penempatan dan lemahnya sanksi pidana kepada para pelaku tindak pidana perdagangan orang.

“Seperti salah satunya dalam perlakuan hukum secara istimewa kepada para pelaku yang mengorbankan nyawa Yufrinda Selan, Dolvina Abuk, beberapa waktu lalu. Mereka masih dibiarkan berkeliaran, salah satunya, Diana Aman, yang sudah ditetapkan sebagai DPO tapi masih bebas berkeliaran,” ujarnya.

Oleh karena itu, Lanjutnya, Pemerintah harus segera memberikan perlindungan sejati (tindakan langsing) bukan perlindungan yang masih diserahkan kepada pihak swasta (PPTKIS/Agensi) yang disahkan kedalam UUPPMI 18/2017.

“Karena bagi kami, selama pelayanan dan perlindungan masih diserahkan kepada pihak swasta, maka buruh migran akan terus mengalami overcharging sebagai pekerja yang harus dilindungi hak dan perlindungan sosial,” ujarnya.

Pemerintah juga, lanjutnya, harys segera meratifikasi konvensi ILO 189 tentang kerja layak PRT dengan mengimplementasikan kedalam undang-undang perlindungan sejati teehadap buruh migran dan kelaurganya.

“Serta pemerintah juga harus segera melakukan MoA (memorandum og Agrement) dengan negara penempatan untuk memberikan jaminan perlindungan, keselamatan dan keamanan juha menjamin atas hak – hak sebagai pekerja migran,” ujarnya.

“Pemerintah juga harus memberikan pelayanan gratis teehaap keluarga korban yang pulang dalam.keadaan sakit dan meninggal dunia,” sebutnya.

Dengan demikian, pihaknya mendesak agar tuntaskan kasus PMI Adelina Sau dengan sepenuh hati, tangkap Dian Aman dalam kasus PMI Yufrinda Selan dan bebrapa kasus yang belum diselesaikan, pemerintah Indonesia untuk segera mendesak Pemerintah Malaysia menegakan keadilan, menghukumm berat pelaku dan memberikan ganti rugi kepada keluarga koraban atas kematian dan dugaan TPPO atas korban Adelina Sau dan korban lainnnya.

Pihaknya juga mendesak agar segera mengadakan MoU dengan pemerintah Malaysia dan negara penempatan lainnnya untuk menjamin sepenuhnyaperlindungan. Segera meratifikasi konvesi ILO 186 tentang kerja layak PRT, mengakui jutaan BMI sevagai pekerja dan manusia.

“Pemerintah Indonesia wajib mengakui secara hukum keberadaan seluruh warha negaranya di luar negri apapun jenis kerja dan status visanya, pemerintah segera menyediakan lapangan kerja dengan upah layak, hentikan perdagangan manusia, akhiri perbudakan modern,” ujarnya. (raf)

Comment

Berita Terbaru