Home Profil Situasi Natal Bagi Orang Tak Berdaya (Refleksi Natal 2019)

Situasi Natal Bagi Orang Tak Berdaya (Refleksi Natal 2019)

139
0
SHARE

Oleh : Baunsele Albert
Guru SMA Negeri 1 SoE

SITUASI Natal di wilayah DKI Jakarta amat menyentuh nurani. Pengalaman merayakan Natal di tengah puing – puing akibat banjir merupakan kontradiksi melawan arti Natal itu sendiri. Perayaan Natal merupakan ungkapan kegembiraan karena” Allah sumber pengharapan dunia” (Yeremia 14:22) menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, juru Selamat.

Christus Natus Est Nobis, Kristus lahir untuk kita. Warta gembira, pesan damai, dan hukum cinta yang dibawa-Nya untuk dua millennia yang lalu belum juga berbuah melimpah seperti diharapkan. Betapa masih banyak “kisah Natal” di wilayah DKI JAKARTA yang ada di tempat lain. Bekasi dan Tangerang paling mirip karena situasi dan alasannya.

Banjir menjadikan rumah warga sebagai kolam renang, sekolah, tempat ibadah tak banyak tersisa. Sekian berat dan banyak derita yang harus ditanggung akibat banjir yang tak bisa dimengerti akal budi dan belum bisa diatasi kecanggihan tekhnologi. Banjir juga melanda berbagai daerah, seperti di Surabaya dan masih banyak yang tak dapat penulis sebutkan disini. Bencana ini langsung atau tidak langsung berkaitan dengan ulah manusia. Pengelolaan sampah yang tak teratur, pengelolaan selokan air, sungai disertai curah hujan tinggi, menjadikan bencana banjir tak terelakkan lagi.

Penderitaan dan kemalangan yang diakibatkan bencana alam maupun ulah bengis sesama berakibat amat luas. Munculnya pengungsian yang menimbulkan pelbagai masalah: rutinitas kerja terganggu, penyakit merajalela, pendidikan terhenti, dan lain-lain. Rusaknya pelbgai fasilitas juga menghambat perkembangan yang selama ini telah tercapai.

Itulah berita duka yang menyertai perayaan natal 2019, yang ada di sekitar kita. Namun masih ada banyak kisah sedih lain yang jarang terjamah media. Bisa karena lokasinya sulit terjangkau, bisa karena bobot beritanya tidak terlalu istimewa. Peristiwa sehari-hari yang dialami pelbagai kelompok orang di pedalaman merupakan contoh penderitaan yang perlu direnungkan sehubungan dengan peristiwa natal.

Daerah pedalaman identik dengan situasi keterbelakangan, belum tersentuh kemudahan modern daerah perkotaan. Jaringan komunikasi, transportasi dan listrik masih jauh dari pedalaman. Hidup di pedalaman dengan berladang berpindah adalah keseharian yang menandai keterbelangan itu. Mereka bergantung pada air hujan atau air sungai. Musim kering menjadi rawan air, bahkan dibeberapa daerah rawan pangan, karena transportasi air lumpuh. Sungai tercemar oleh penambang rakyat yang menggunakan merkuri. Itu semua harus menjadi konteks hidup mereka karena tidak mudah mencari alternatifnya.

Ada yang mengatakan masih sedikit lebih untung mereka yang hidup dari kebun jagung atau kebun kemiri. Mereka berpenghasilan tetap. Artinya, tetap kurang, tidak mencukupi untuk hidup yang pas-pasan. “keuntungan itu sangat relative dan sementara. Tanaman monokultur menurut sementara ahli, ternyata bisa merusak masa depan tanah secara fatal. Itu berarti masa depan anak cucu dipertaruhkan. Pertimbangan keuntungan sesaat karena adanya proyek-proyek yang menaikkan pendapatan asli daerah perlu dikaji ulang. Tetapi, siapa berani menentang kebijakan pemerintah? Karena itu, ada yang berpendapat, tanaman karet ditinjau dari segi keuntungan jangka panjang bisa lebih prospektif.

Seandainya Yesus lahir di kebun jagung atau di kebun kemiri ( di Nusa Tenggara Timur misalnya ), apa kira-kira warta natal yang akan diterima? Barangkali itu pertanyaan spekulatif saja. Kisah natal merupakan kisah yang amat menyentuh rakyat kecil, orang tak berdaya. Kelahiran Yesus yang diwartakan kepada gembala oleh malaikat utusan bukan sekadar kisah romantis-spiritualis tetapi benar-benar warta kegembiraan, pembebasan, dari rasa takut rakyat sederhana, orang tak berdaya pada zamannya. “jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberikan kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus Tuhan…” (Luk 2:1-11).
PERJUANGAN hidup Yesus bagi orang kecil dan tak berdaya bisa menimbulkan inspir.(*)

Berikan Komentar Anda.