oleh

Semoga Sekalian Hanyutkan Konflik Berdarah di Adonara

Oleh Frans Sarong

ADONARA Sebenarnya hanya sebuah pulau sedang (509 km2) di Kabupaten Flores Timur.Ternyata namanya sudah sejak lama dikenal luas. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Pemantiknya bukan kisah hebat yang menunjukkan keunggulannya. Selalu seputar kisah mencekam. 

Berbeda dengan litani panjang sejak lama yang hampir semuanya bersumber dari konflik berdarah. Terakhir ini perkabungan mendalam akibat terjangan badai siklon tropis seroja. Badai ekstrim itu melanda selama empat hari, sejak Kamis (1/4). Puncaknya pada hari raya Paskah, Minggu (4/4/2021). Badai berupa angin kencang, hujan intensitas tinggi disertai gelombang ganas, sebenarnya dengan eskalasi luas di NTT. Namun terjangannya di Adonara tercatat dengan dampak paling parah dibanding banyak titik lainnya di provinsi ini. 

Mengutip data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, jumlah korban meninggal yang tercatat hingga Senin (12/4/2021) totalnya sebanyak 179 orang dan 45 orang korban lainnya belum ditemukan. Dari jumlah itu, hampir separuhnya atau sebanyak 74 orang korban meninggal di antaranya di Kabupaten Flores Timur. Tercatat pula dua  korban di kabupaten ini, belum diketahui nasibnya. 

Khusus di Flores Timur, terjangan badai di Nelelamadike (Adonara) dengan korban terbanyak. Di desa dalam wilayah Kecamatan Ile Boleng itu, korban meninggalnya sebanyak 55 orang dan satu korban belum ditemukan. Korban terbanyak berikutnya di Lembata. Di kabupaten ini korban meninggal sebanyak 46 orang dan 22 lainnya masih hilang. Titik terdampak paling parah terjadi di Amakaka, Kecamatan Ile Ape. 

Inilah alasan utama hingga

 Presiden Joko Widodo secara khusus berkunjung dan menemui para korban bencana di Amakaka (Ile Ape, Lembata), dan Nelelamadike (Adonara), Jumat (9/4/2021). Mendahului Presiden Jokowi, Mensos Tri Rismaharini sudah tiba di Flotim dan Lembata sejak Selasa (6/4/2021). Selain kehilangan puluhan korban jiwa, perkampungan Nelelamadike yang tumbuh punggung Gunung Ile Boleng, memang luluh lantak. Suasana pilu yang begitu menusuk membuat Presiden Joko Widodo  tak sanggup membendung air matanya. Rasa haru yang  ditandai beberapa kali harus menyeka air matanya, terlihat ketika Presiden Joko Widodo menginjakkan kaki di perkampungan Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng (Adonara), lima hari setelah badai berlalu. 

Tak cukup hanya menumpahkan air mata. Sebelumnya, ketika mengunjungi titik bencana di Amakaka, Kecamatan Ile Ape (Lembata), Presiden Joko Widodo sampai menanggalkan jaketnya yang berwarna merah, lalu dipakaikan kepada seorang pemuda korban bencana, yang kemudian diketahui bernama Fransiskus Ade Uran Atawolo (30).

Kehadiran Presiden Joko Widodo hingga titik terdampak paling parah mendapat apresiasi luas dari berbagai pihak di NTT. Salah satunya Ketua DPRD Lembata, Peterus Gero. Kata dia, kunjungan Presiden Jokowi itu tanda kuat kehadiran negara saat masyarakat dilanda duka. Pak Jokowi adalah presiden yang sederhana, rendah hati dan responsif. Beliau mau ikut merasakan penderitaan masyarakat secara langsung di lokasi bencana,” tutur Peterus Gero yang juga Sekretaris DPD Golkar Kabupaten Lembata. 

 *Konflik berdarah* 

Keganasan badai siklon tropis seroja dengan dampak yang sangat mencekam, ditambah kunjungan Presiden Joko Widodo dan serunya berbagai pemberitaan, membuat Adonara bertambah mencuat. Namun sejauh ini, Adonara sebenarnya memang sering hadir di ruang publik publikasi. Temanya hampir pasti sama, yakni konflik berdarah yang melibatkan sesamanya di Adonara. Pemicunya pun nyaris tak pernah bergeser, selalu terkait sengketa tanah! 

Bisa disebutkan beberapa contoh. Di antaranya, konflik perebutan tanah ulayat antara warga Desa Lewonara dan Desa Lewobunga di Kecamatan Adonara Timur, awal Oktober 2012. Tidak ada korban jiwa dalam pertikaian itu, namun sekolah di sekitarnya terpaksa diliburkan karena situasinya begitu mencekam. Situasi itu hadir setelah massa dari Desa Lewonara menyerbu, lalu membakar sejumlah rumah dan lumbung pangan milik warga Desa Lewobunga. 

Belum genap setahun berselang, konflik berdarah terjadi lagi di Adonara. Pertikaian itu pecah awal Juli 2013, antara warga Desa Redontena versus warga Desa Adobala di Kecamatan Kelubagolit. Ketika itu, seorang warga Desa Redontena tewas, bagian lehernya terputus akibat sabetan parang (Pos Kupang, 2/7/2013).

Lalu, pertikaian berdarah melibatkan warga Desa Wewit dan Warga Desa Nubalema 2 di Kecamatan Adonara Tengah, awal Juni 2019. Konflik itu merenggut satu korban meninggal, tiga korban luka dan lima rumah ludes terbakar. 

Konflik paling mencekam terjadi di Sandosi, Kecamatan Witihama, awal Mei 2020. Dua kubu warga dari suku Lamatokan dan Suku Kwaelaga terlibat konflik perebutan tanah kebun di Wulen Wata. Konflik itu mengakibatkan enam orang tewas (Antara, 6/3/2020).

Pertikaian paling akhir terjadi pertengahan Maret 2021 di Desa Kenotan, Kecamatan Adonara Timur. Tetap terkait tapal batas lahan kebun, konfliknya malah melibatkan sesama dalam lingkungan keluarga rapat. Pertikaian itu mengakibatkan satu orang mengalami luka terkena sabetan parang di bagian lengan. Tersangka pelakunya kini sedang menjalani proses hukum di Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur. 

Catatan tersebut hanya beberapa contoh konflik berdarah yang bersumber dari sengketa tanah. Khusus di Adonara, konflik serupa hingga bunuh bunuhan, sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Simak misalnya catatan misionaris Katolik asal Belanda, Ernst Vatter melalui bukunya berjudul “Ata Kiwan” (Orang Pedalaman?) yang terbit tahun 1932. Seperti diuraikan wartawan Laurens Molan melalui artikelnya berjudul “Adonara dan Sebuah Kisah perang Tanding”, Ernst Vatter bahkan sampai melukiskan Adonara sebagai Pulau Pembunuh (Antara, 20/11/2012). 

Karena konflik serupa sering berulang dan terjadi sejak lama, maka maklum saja jika Adonara selalu melekat dengan julukan Killer Island atau Pulau Pembunuh. Julukan itu sebagaimana disebutkan misionaris Katolik,  Ernst Vatter. 

Badai siklon seroja yang baru saja berlalu, meninggalkan duka mencekam. Namun badai itu juga terasa memunculkan empati dan solidaritas lintas sekat bagi sesama. Kalau begitu, keberlaluan badai

sepantasnya sekalian menjadi momentum menghanyutkan julukan Adonara yang selalu ditandai konflik berdarah! (*)

Komentar