Home Hukrim Salu Mengaku Ayah Bayi yang Dibuangnya Seorang Sopir

Salu Mengaku Ayah Bayi yang Dibuangnya Seorang Sopir

1274
0
SHARE
Foto : Yudith Taolin

KEFAMENANU, Terasntt — Tersangka kasus pembuangan bayi di kali mati Rosalia Salu mengaku ayah bayi naas itu adalah seorang sopir berinisial AT (29). Ayah biologis bayi ini tidak mau bertanggungjawab lalu merantau ke Kalimantan.

” Saya kasih tahu AT bahwa saya sudah hamil dua bulan waktu itu. Tapi saat itu juga AT tidak mau bertanggungjawab dan bilang ke saya dia sudah sampai Kalimantan. Takut orangtua tahu, saya menutupi kehamilan saya,” kata Salu saat reka ulang kasus pembuangan bayi di lokasi kali mati, Senin (27/9/2016).

Menurutnya, AT bekerja sebagai sopir mobil box antar kabupaten dan tinggal di kos – kosan seputar pasar baru Kefamenanu. Namun pertemuan mereka biasa di kamar kos milik teman AT di belakang terminal kota.

Saat menjalani reka ulang kasu pembuanganm bayi ini, tersangka yang adalah ibu kandungnya mengenakan sendal jepit merah, celana jeans setinggi lutut dan jaket hijau, dengan papan nama bertuliskan Tersangka Rosalia Salu tergantung di lehernya.

Ia berdiri di depan rumahnya di kelurahan Sasi kemudian berjalan menuju gubuk milik pamannya berjak 1 kilo meter guna menjalani rekonstruksi.

Ibu muda berusia 27 tahun ini didampingi sejumlah aparat keamanan Polres TTU, ia memulai adegan rekonstruksi dari depan rumahnya disaksikan langsung ibunya Anastasia Solo sambil menggendong bayi naas, Sedangkan bapaknya Kareltius Salu sementara bekerja di luar rumah.

Adegan pertama dalam rekonstruksi tersebut berawal dari Rosa meninggalkan rumahnya menuju sebuah gubuk milik pamannya di seberang kali tempat ia membuang bayi sejauh 1 kilo meter lebih.
Di gubuk tersebut, tersangka sempat memetik daun pepaya muda untuk sayur.

Namun selang beberapa lama kemudian perutnya terasa sakit dan ia merebahkan badan di bawah pohon asam depan gubuk itu. Ketika air ketubannya pecah, iapun berbalik hendak pulang ke rumah. Namun baru beberapa langkah ia melahirkan dalam posisi setengah berlutut.

Seperti layaknya seorang ibu yang sudah berpengalaman melahirkan, tersangka yang sementara mengenakan kain sarung menghadapi dan mengurus sendiri proses kelahiran bayinya.

Setelah itu, tersangka mengangkat bayi itu dari atas tanah lengkap dengan ari – arinya kemudian menggendong dan membawanya menyusuri kali kering sejauh satu kilo meter lalu meletakannya di atas pasir kali tanpa sehelai kainpun, kemudian ia berlalu meninggalkan bayinya sendiri.

Pengakuan tersangka, bahwa ia tidak berniat menghabisi nyawa bayinya. Ia menaruh bayi itu dengan harapan ada orang lain mengangkat bayi itu dan merawatnya.

” Saya taruh anak saya di kali dengan harapan ada orang lihat dan angkat dia untuk dirawat,” katanya Terasntt.com saat berjalan menuju TKP.

Sementara Ibu kandung tersangka, Anastasia Solo tampak kesal dengan kejadian yang dipertontonkan putrinya dengan status tersangka.

Menurutnya, ia dan suaminya sempat curiga pada anaknya karena terlihat ada perubahan besar pada tubuh anak mereka. Namun setiap kali ditanyakan, tersangka marah dan berbohong.

“Sampai hari ini kami tidak tahu siapa laki – laki dari bayi ini, kami curiga dia hamil kemudian kami bertanya tapi dia selalu berbohong. Ternyata kejadiannya seperti ini,” ungkap Solo dengan nada kesal.

Kasubag Humas Polres TTU, AKP Petrus Liu yang dikonfirmasi di TKP mengatakan setelah rekonstruksi ini, tersangka akan menjalani pemeriksaan lanjutan.

” Tentunya setelah pemeriksaan selesai, kami akan berupaya melakukan pemanggilan terhadap laki – laki yang diduga ayah dari bayi itu. Memang tersangka sudah mengakui dan menyesali perbuatannya, tapi pihak penyidik juga masih mempelajari keterangan tersangka, apakah ayah dari bayi adalah seperti yang disebutkannya,” ujar Liu.

Informasi lain yang dihimpun, sebelum melahirkan, tersangka sempat bekerja di beberapa tempat. Yakni sebagai PRT di rumah makan seorang pengusaha sekaligus pengelolah rumah makan berinisial AR selama enam bulan lebih. Lalu pindah kerja di rumah seorang bidan RSUD Kefamenanu sebagai PRT selama sebulan lebih, dan terakhir bekerja sebagai pelayan di sebuah toko di sekitar pasar lama Kefamenanu selama sebulan.
Tersangkapun berhenti bekerja lantaran usia kehamilan sudah mendekati waktu melahirkan.(dit)

Berikan Komentar Anda.