by

PSB Sistem Zonasi “Pengap”

KUPANG, Terasntt.com — Siang yang pengap. Matahari tepat di ubun dan dalam ruangan seluas kurang lebih 4 Meter persegi itu, keringat memenuhi hampir semua wajah yang duduk di dalamnya.

Kurang lebih enam anggota Komisi IV, DPRD Kota Kupang tengah membahas Penerimaan Siswa Baru (PSB) sistem zona yang dalam sesi mendengarkan keluh kesah para orangtua siswa.

Tidak jauh dari perkumpulan para anggota DPR itu, duduk seorang ibu berambut uban, berumur sekitar 50-an tahun. Wajahnya terlihat kusut, mukanya sedikit berkeringat dengan air muka keheranan, beliau mendengarkan pembicaraan dalam ruangan itu sambil menyusui bayinya.

Bayi itu sesekali meraung lalu menangis dalam wajah ketakutan, ibu itu berusaha meredakan suara bayinya itu.

Aku mendekatinya Kemudian mengajaknya duduk pada barisan kursi-kursi besi tepat di samping ruangan itu. Ia malu-malu menatap saya.

” Bangunlah Ibu, Kita duduk di kursi,” aku meraih tangannya.

Katarina menoleh ke arahku kemudian mengatakan, Kebijakan Pemerintah dari tahun-tahun yang selalu berubah membuatnya bingung. Apalagi dirinya hanya seorang pembantu rumah tangga, yang hanya mengerti pendidikan sebatas mencari biaya untuk menyekolahkan anaknya.

” Aku tidak terlalu tau tentang apa itu pendidikan, yang aku tahu adalah bagaimana aku dan suamiku mencari biaya untuk pendidikan anak-anak,” ujarnya lirih.

Katarina menuturkan, setelah anaknya tamat sekolah dasar, pernah sekali membawa anaknya mendaftar di SMPN 3, namun kata para guru, pendafataran sekarang sudah beralih secara online juga dengan sistem zonasi

Dirinya yang tak mengerti tentang penjelasan tersebut kemudian pulang dan mencari orang untuk mendaftarkan anaknya.

” Mau apa adik, kami tidak mengerti komputer, dan waktu itu saya mencari orang untuk bisa membantu saya mendaftarkan anak saya,” ujarnya kesal.

Setelah mendaftar, harapan akan anaknya bisa masuk sekolah SMPN 3 mulai terbuka. Karena yang ia dengar, sistem zona tersebut lebih mengutamakan menerima siswa yang bertempat tinggal disekitar lokasi sekolah atau dekat dengan sekolah tersebut.

Katarina mengatakan, hal itu memang sesuai harapannya agar bisa menghemat uang transportasi anaknya.

” Setelah mendengar informasi bahwa ternyata sistem yang diterapkan itu lebih mengutamakan anak-anak yang bertempat tinggal di dekat sekolah, aku mulai yakin anakku pasti lolos,” ujarnya

Apalagi, ditambah dengan NEM anaknya yang melampui teman-teman lainnnya di sekitaran rumah tempat tinggalnya.

Katarina menceritakan, namun setelah mengetahui anaknya tidak diterima di sekolah tersebut, dirinya sangat kecewa. Ia mulai marah dan mempertanyakan penerapan sistem tersebut.

Katarina kemudian membandingkan ada anak yang bertempat tinggal jauh atau berada di luar zona sekolah namun diterima di SMPN 3, , sedangkan anak yang berada dalam zona tersebut tidak diterima.

” Kalaupun dibandingkan dengan NEM, anak saya justru mendapat NEM yang lebih tinggi daripada anak-anak lainnnya yang diterima,” protesnya.

Katarina mengatakan, kedatangan dirinya ke DPRD bukan untuk memprotes apalagi menggugat ketidaklulusan anaknya, namun Ia hanya menuntut keadilan atas sistem yang diterapkan tersebut.

Harapan Katarina, Setelah suara mereka didengar oleh Dewan, kiranya dapat mempertimbangkan atau setidaknya memberi penjelasan atas penerapan sistem tersebut.

” Semoga Dewan dapat menjelaskan hal ini kemudian mempertimbangkannnya agar anak-anak kami bisa masuk ke sekolah itu,” pintanya.

Sementara, Wakil Ketua Komisi IV, Thedora Iwalde taek ketika menaggapi keluhan para orangtua murid tersebut mengatakan bahwa kendati hasil pengumunan sudah dilaksanakan hari Senin, (17/7/2017), namun masih ada ruang untuk melakukan registrasi pada tanggal 19/72017, mendatang, sehingga pihaknya akan mengarahkan anak-anak tersebut masuk pada sekolah yang belum memenuhi kuota untuk diakomodir.

Sekolah-sekolah yang belum memenuhi kuota tersebut, lanjut Ewalde, seperti, SMPN 7, SMPN 11, SMPN 12 dan SMPN 10, SMPN 15 hingga SMPN 20.

” Dalam waktu dekat, kami akan melakukan konsultasi ke Kementrian, jika memang di diizinkan untuk bisa membuka ruang baru, maka anak-anak tersebut akan diarahakan ke sekolah tersebut,” ujar Ewalde.

Terkesan Dipaksakan

Theodora Ewalda Taek menilai, Penerimaan Siswa Baru (PSB) secara online di Kota Kupang terkesan dipaksakan. Pasalnya sistim tersebut belum disosialisasikan secara baik oleh pemerintah, sehingga banyak orangtua dan calon siswa belum bisa menerima.

Ewalde mengaku, PSB secara online mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 17 tahun 2017. Dalam Permen tersebut telah mewajibkan semua sekolah wajib menerapkan PSB online. Namun sayangnya, peraturan tersebut dibuat langsung diterapkan secara keseluruhan di Indonesia, sehingga banyak daerah yang belum siap dan terkesan dipaksakan hingga mengalami beberapa persoalan.

” Khusus untuk Kota Kupang, masyarakat belum mengetahui dengan jelas soal sistim tersebut sehingga masih banyak orangtua belum paham. Apalagi dalam permen tersebut mengatur soal sistim zona yang memprioritaskan penerimaan berdasarkan wilayah domisli,” ujarnya

Khusus SMP, lanjut Iwalde ada beberapa sekolah yang menjadi idola seperti SMPN 1 dan SMPN 2. Para siswa ngotot bersekolah di sekolah tersebut meskipun sudah diatur. Lebih parah lagi kalau dalam zona tersebut jumlah siswa yang berdomisli dekat sangat banyak sehingga ketika semuanya mendaftar dan daya tampung (Rombel) tidak memadai muncul lagi masalah.

Iwalde mengaku heran karena Peraturan menteri pendididkan no 17 tahun 2017 ini sudah dikeluarkan dan Pemerintah Kota tanpa melewati, pembahasan juknis bersama DPRD lalu mengikuti apa yang sudah dikeluarkan oleh kementerian.

“ Sekarang persoalannya adalah, anak-anak yang ada pada zona itu pun tidak bisa terakomodir. Nah, dari 11 ribu siswa yang sudah mendaftar ini, daya tampung rombel hanya 5 ribu lebih, sehingga sisanya sekian, mau dikemanakan,” tegasnya.

Oleh karena itu Komisi IV telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Kupang, untuk melakukan koordinasi dengan pihak Kemendikbud untuk mencari solusi soal carut marut PSB. (rafael l pura)

Comment

Berita Terbaru