Home Daerah Proyek Kemakmuran Hijau Berbasis Desa

Proyek Kemakmuran Hijau Berbasis Desa

867
0
SHARE
Foto : Istimewa

KUPANG, Terasntt.com — “Berbagai program harus benar-benar berbasis desa. Bobot programnya harus diperjelas.
Masyarakat butuh dukungan pemecahan persoalan mereka. Hibah dan dana pemerintah harus dapat memperkuat keberlanjutan program.
Penguatan kelembagaan desa juga dibutuhkan, agar nantinya desa bisa mandiri” begitu pinta Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya pagi tadi, ketika membuka Rapat Kordinasi Daerah (Rakorda) Proyek Kemakmuran Hijau, bertempat di Hotel Aston, Kamis (13/10/2016).

Menurutnya, program lima tahunan bisa saja terancang bagus. Tetapi, apabila terhenti pada tahun kedua, bisa disimpulkan program ini tidak maksimal. Karenanya, beliau berharap agar, pihak Bappenas dan Millenium Challenge Account (MCA)-Indonesia tetap mendukung program ini.

“Saat ini, di desa sudah dibentuk banyak koperasi. Ada koperasi anggur merah, ada juga koperasi lainnya. Banyaknya tenaga pendamping di desa juga menyebabkan masyarakat bingung. Ada pendamping desa, ada penyuluh, ada fasilitator. Apakah semakin banyak pendamping memudahkan masyarakat ataukah malah membuat masyarakat bingung? Hal ini, perlu kita evaluasi bersama. Kita membutuhkan pendamping desa yang memiliki keahlian dibidangnya dan berkomitmen penuh pada program pembangunan masyarakat NTT secara utuh” demikian pungkas Gubernur.

Dalam sambutannya, Gubernur NTT mengatakan bahwa, momen ini dapat dijadikan sebagai wahana untuk mendiskusikan program pembangunan masyarakat NTT. Salah satunya adalah Proyek Kemakmuran Hijau.

Harapan Gubernur, kegiatan ini dapat memotivasi daerah dalam melaksanakan program-program di masyarakat. Pentingnya koordinasi kabupaten/kota dan stakeholders terkait, adalah hal yang juga penting.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif MCA-Indonesia, Lukas Adiyakso dalam sambutannya mengatakan bahwa, Proyek Kemakmuran Hijau di Provinsi NTT dilaksanakan di tujuh Kabupaten yakni Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Flores Timur, Sikka dan Ende. Proyek ini telah diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Ketua Majelis Wali Amanat MCA-Indonesia dengan pemerintah daerah pada tahun 2014 dan 2015. Beberapa aspek penting yang telah ditindaklanjuti dari Nota Kesepahaman tersebut diantaranya adalah, proses sosialisasi proyek terkait Pengelolaan Sumberdaya Alam serta Energi Baru Terbarukan, sampai dengan kegiatan Penandatanganan Grant Agreement, yang diberikan untuk pemenang hibah.

Sementara itu Asisten PPK Satker Pengelolah Hibah MCA-KPA Compact Indonesia, Hari Kristijo berharap agar rakorda ini dapat menghasilkan ide-ide, input, masukan dan saran dari semua peserta. Karenanya dia sangat mengharapkan partisipasi seluruh peserta.

Hari Kristijo juga berharap agar kegiatan ini tidak hanya selesai setelah diskusi, melainkan tetap berkelanjutan.

Hari Kristijo menerangkan kembali awal mula indonesia menerima hibah Compact dan program-program yang ada di dalamnya. Selain itu, dijelaskan juga cross cutting isuue yang menjadi persyaratan dalam hibah compact.

Pada kesempatan itu, Hari juga mempresentasikan tiga proyek yakni kesehatan dan gisi berbasis masyarakat untuk mencegah stunting, modernisasi pengadaan dan proyek kemakmuran hijau (Green Prosperity).

Porsi hibah terbesar ditujukan untuk, mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil dalam penyediaan tenaga listrik serta pengelolaan sumberdaya alam secara lestari.

Rakor itu dihadiri 50 peserta yang terdiri dari Bupati Sumba Barat, Agustinus Niga Dapawole, Bupati Sumba Barat Daya Markus Dairo Tallu, Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin, Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera, Bupati Ende, Marsel Petu, Wakil Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, Wakil Bupati Sumba Tengah, Umbu Dondu dan Kepala Bappeda Wayan Darmawan yang pada sesi diskusi bertindak sebagai moderator. Hadir pula Perwakilan Kantor BLH Flotim, Perwakilan dari Bappeda Kabupaten/Kota, BPPD Kabupaten Kupang, SKPD Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, Akademisi Undana, CIS Timor, Kemitraan, Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara SAMANTA, Yayasan Kopesda dan beberapa rekan wartawan.(*/mas)

Berikan Komentar Anda.