oleh

Plan Kampanye Pemenuhan Hak Anak dan Perempuan Melalui BIAAG

JAKARTA, Terasntt.com — Plan International akan meluncurkan kampanye Because I Am A Girl (BIAAG) tahap kedua tentang pemenuhan hak anak dan perempuan. Program tersebut telah berjalan sejak 2007 dan sukses.
CO Plan Internasional, Anne-Birgitte Albrectsen, CEO dalam siaran pers yang diterima redaksi Terasntt.com mengatakan, bahwa kampanye BIAAG merupakan salah satu kampanye global Plan yang mempromosikan kesetaraan hak bagi semua anak, termasuk anak perempuan. Salah satu agenda penting kampanye BIAAG adalah mempromosikan hak pendidikan bagi anak perempuan di seluruh dunia.
“ Plan akan melanjutkan kampanye BIAAG, karena kami yakin, memberdayakan dan melindungi anak perempuan akan mengubah dunia,” kata Anne.
Menurut dia, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan para pemangku kepentingan di seluruh dunia, dalam membantu jutaan anak perempuan di seluruh dunia dari lingkaran kemiskinan. Kampanye BIAAG akan diselaraskan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), di mana salah satu agendanya adalah menjamin kualitas pendidikan inklusi, adil dan mempromosikan kesempatan belajar untuk semua.
“ Satu dari tiga anak perempuan di negara berkembang menikah di bawah usia 18 tahun. Tak heran jika sampai saat ini terdapat 62 juta anak perempuan yang terpaksa meninggalkan sekolah karena berbagai alasan, termasuk karena pernikahan,” katanya.
Sebagai CEO Plan International yang baru, Anne memasukkan kampanye BIAAG sebagai salah satu prioritas kerjanya.
Di Indonesia, lanjut Anne kampanye BIAAG sudah dimulai sejak tahun 2010. Melalui berbagai program, Plan International Indonesia bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat di wilayah kerjanya, Plan berupaya memperluas akses pendidikan bagi semua anak, khususnya anak perempuan.
Anne mengatakan sejak 2014, Plan bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan BKKBN mendeklarasikan gerakan “Stop Pernikahan Anak’. Gerakan ini melibatkan 20 organisasi keagamaan dan LSM nasional.
“ Dengan menggandeng organisasi dan kekuatan masyarakat sipil lokal, diharapkan gerakan pencegahan pernikahan anak semakin melaluas sampai ke tingkat akar rumput dan menjadi prioritas semua pihak,” kata Mingming Remata Evora, Country Director Plan International Indonesia.(*/mas)

Komentar