oleh

PESTA SAMBUT BARU: APATISME LOKAL VERSUS SOLIDARITAS GLOBAL

(Euforia perlawanan parsial terhadap perjuangan mengatasi penyebaran covid-19)

Oleh: Y.B. Januarius Lamablawa, S.Fil.MA

Pesta sebagai bentuk apatisme

Dalam pekan ini, di wilayah kabupaten Flores Timur telah dibuka tenda-tenda pesta sambut baru dan peryaan pernikahan sebagai momen hajatan mengumpulkan keluarga dan kenalan. Ada pesta, ada kerumunan, ada salam-salaman berupa sentuhan fisik. Sudah mulai ada dentuman musik dan tarian beramai-ramai layaknya suatu pesta dirayakan. Di Kecamatan Witihama pulau Adonara, ada acara rakyat mingguan berupa tarian tradisional dolo-dolo, di mana kaum laki-laki dan perempuan remaja dan dewasa bergandengan tangan menari sambil bernyanyi sambil berbalas pantun. Suatu kerumunan yang diadakan secara tahun dan mau dalam kontak fisik berantai satu sama lain karena formasi tarian ini adalah lingkaran. 

Pertanyaannya, mengapa aktivitas sosial seperti ini bisa bangkit begitu cepat di tengah penyebarannya covid 19 yang masih terus berlangsung? Mungkin saja satu jawaban yang bisa diberikan adalah sifat apatisme masyarakat. Masa bodoh dan ketidak-pedulian terhadap himbauan protokol kesehatan (berupa hindari kerumunan, jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan) telah memberi ruang untuk hadirnya kembali  kegiatan-kegiatan sosial kultural lokal yang kontra-produktif terhadap upaya bersama memutus mata rantai penyebaran covid-19.  Perayaan pesta dan perayaan kultural lokal yang dilaksanakan dengan tidak mengindahkan protocol kesehatan telah membuka ruang risiko yang tinggi bagi penyebaran virus covid 19. Setiap partisipan yang terlibat dalam hajatan dan even seperti itu hanya bisa berada dalam situasi “untung-untungan” saja. Syukur kalau dalam kerumunan itu tidak ada penderita covid 19. Andai saja dalam acara – acara seperti ini ada orang dengan positif covid-19 betapa berisikonya setiap orang yang terlibat. 

Pengalaman pahit cluster covid 19 pesta sambut baru telah dialami bebarapa wilayah di NTT. Di Kabupaten Sikka, pada bulan Juni 2021 terjadi kasus positif covid 19 sebanyak 262 orang. Menurut juru bicara satgas covid 19, dr. Clara Francis, penyebarannya terjadi pada saat pesta sambut baru dan pesta nikah (Media Indonesia, Selasa 29 Juni 2021: Klaster pesta picu kasus covid naik drastis di Sikka).  Di Desa Ubedolumolo satu, kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, ada 31 orang dinyatakan positif covid 19 berdasarkan rapid antigen test setelah mengikuti pesta sambut baru (TVRI NTT, 28 Juni 2021).  

Perayaan Pesta sebagai mal-praktek 

Melihat kasus-kasus covid 19 yang terjadi karena pesta sambut baru dan perayaan pesta yang lain, sepatutnya kita mesti malu sendiri dan merasa bersalah terhadap perjuangan global melawan covid 19. Mengapa kita harus malu? Karena kita menciderai janji / kesepakatan / komitmen yang telah dibuat atas nama agama (dan iman). Sambut baru adalah suatu peristiwa iman yang dilahirkan di dalam gereja. Gereja sebagai sebuah organisasi tertua, terkuat dan tertib sungguh berkomitmen untuk melawan penyebaran covid 19. Gereja selalu memberi penegasan agar umatnya wajib mengikuti protocol kesehatan. Bahkan sebagai antisipasi penyebaran covid 19, dibuatlah komitmen lokal bersama antara orangtua anak sambut baru dan pihak paroki. Contohnya, di Paroki San Juan, Lebao Larantuka, disepakati bahwa Peristiwa iman sambut baru di tengah pandemic covid 19 dilayani, tetapi tidak boleh dilakukan pesta. Kriteria tidak boleh dilakukan pesta adalah: tidak ada tenda, tidak ada undangan, dan tidak ada musik.  Asumsinya, tidak ada pesta berarti tidak ada kerumunan. 

Kriteria ini dapat dilihat sebagai suatu bentuk komitmen gereja (sebagai umat Allah, hirarki dan organisasi) untuk  memutus mata rantai penyebaran covid 19. Tapi apa yang terjadi? Undangan pesta sambut baru dibuat seperti biasa baik lisan maupun tertulis/tercetak, tenda pesta didirikan di mana-mana, musik mulai berdentuman kiri kanan.  Suatu kenyataan yang kontradiktif. Berkomitmen lain, buat lain. Padahal baru keluar dari dalam gereja, baru selesai merayakan iman dengan komitmen yang besar. Pulang ke rumah belum beberapa jam, komitmen itu sudah dibuang ke dalam sampah. Suatu praktek yang salah dari iman. Kita sebenarnya mati secara iman walau hidup secara fisik dan beragama. Rasul Yakobus bilang: Iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman harus ditunjukan dengan perbuatan. Tetapi di tengah pandemi ini, iman itu kita lawan sendiri. Suatu mal-praktek. Praktek yang buruk atau salah. (bahasa Latin: Mala= buruk).  

Merusak Solidaritas Global

Perilaku kolektif lokal kita yang tidak peduli terhadap himbauan protokol kesehatan untuk saling menjaga dan menyelamatkan telah menjadi mesin sosial yang sangat merusak perjuangan global untuk mengatasi penyebaran covid 19. Saat ini seluruh dunia menyerukan solidaritas dan partisipasi semua penduduk bumi untuk peduli terhadap gerakan bersama memutus mata rantai penyebaran covid 19. Tetapi pada saat yang sama di belahan lain dunia, ada kelompok-kelompok tertentu tengah menentang gerakan ini dengan euphoria egoisitis hanya untuk kesenangan-kesenangan yang berisiko. Mungkin saja ada seribu satu alasan untuk pembenaran diri, tetapi dari konteks solidaritas bersama, aktivitas kolektif berupa pesta yang berpontesi untuk penyebaran covid 19 telah menjadi bilur-bilur luka dunia untuk perasaan senasib dan sepenanggungan dalam perjuangan melawan covid.  Kita adalah duri dalam daging, kita adalah paradoks, kita adalah musuh dalam selimut perjuangan.  

Pertobatan lokal untuk keselamatan global

Peningkatan kasus positif covid 19 dan kematian yang masih terus terjadi sepatutnya menjadi referensi kemanusiaan yang menyentuh kesadaran personal dan solidaritas kolektif kita untuk suatu metanoia/ pertobatan sosial dari konteks budaya lokal kita. Perlu disadari bahwa karena ketidakpedulian dan apatisme terhadap protokol kesehatan banyak korban berjatuhan bahkan orang-orang kekasih kita sendiri (140.643 orang meninggal- hingga 20 Sept 2021).  Angka positif covid 19 Indonesia sejumlah 4.192. 695 (20 sept 2021) tidak bertambah lagi kalau kita pun ambil bagian dalam kesadaran dan kepedulian bersama untuk penanggulanggannya. 

Kalau umat katolik masih menggunakan alasan sambut baru untuk pesta dan melanggar komitmen bersama penanggunggulangan covid 19, pihak gereja perlu memikirkan kembali untuk apa perlu terus melayani sambut baru. Atau gereja secara organisasi mencari format baru pelayanan sambut baru sekaligus memberikan sanksi tegas bagi mereka yang melakukan pelanggaran komitmen bersama terkait layanan sambut baru. 

Intinya gereja perlu memainkan peranan sebagai institusi dan hirarki yang bisa mengarahkan pertobatan lokal dari perilaku umatnya melanggar ketentuan yang ditetapkan guna mengambil bagian dalam solidaritas global untuk penyelamatan umat manusia. Saatnya kesadaran dan kepedulian harus tetap hidup. Jangan ia mati karena melihat contoh buruk dari orang-orang besar, para pemimpin dan orang-orang di sekitar kita. Jangan kita menjadi permisif. Mengapa orang lain bisa buat pesta dan ramai-ramai tanpa protokok kesehatan, sementara kita tidak? Untuk selamat bersama, kita harus terus peduli dan solider. Paus Fransiskus dalam pesan Paska Urbi et Orbi 12 April 2020 menyatakan: “This is not the time for indifference because the whole world is suffering and needs to be unified in facing the pandemic”. Ini bukan waktunya untuk ketidakpedulian karena seluruh dunia sedang menderita dan perlu bersatu untuk menghadapi pandemi. Paus sebagai pemimpin universal umat katolik terus menegaskan betapa pentingnya mengambil bagian dalam kepedulian dan kebersamaan untuk terus mengatasi pandemi ini.  Dan hendaklah kita menjadi bagian dari spirit ini juga dalam aktivitas sosial dan kultural kita.(**)

* Penulis adalah pemerhati sosial tinggal di Larantuka

Komentar