oleh

Pemuda Balauring Ngamuk, Bupati Tinggal Pergi Usai Realisasi Desa Tematik Pariwisata

Suasana di kantor Desa Balauring

Lewoleba,teras-ntt.com — Salah satu program Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur untuk menunjang kemajuan sektor perekonomian masyarakat adalah desa tematik pariwisata. Desa Balauring menjadi tematik pariwisata di Kecamatan Omesuri, usai acara realisasi desa pariwisata inis seorang pemuda setempat membuat kegaduhan hingga bupati dan rombongan meninggalkan desa tersebut, Kamis (2/7/2020).

Kehadiran bupati bersama rombongan di Desa Balauring ini untuk mengikuti presentasi orang muda perihal pengelolaan dana untuk desa tematik pariwisata itu.

Semula acara berjalan lancar, namun usai bupati menyampaikan sambutan, seorang pemuda bernama Fandi Udrus mengacungkan tangan dan menginterupsi soal program pengelolaan dana tersebut. Ketika itu situasi di Kantor Desa Balauring mulai memanas hingga akhirnya bupati dan rombongan naik ke mobil dan meninggalkan kantor desa.

Fandi yang sebelumnya sempat diusir dari kantor desa pun langsung meluapkan kekesalannya terhadap kepala desa. Fandi mewakili kelompok orang muda menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap kiprah Syarif selaku kepala desa dan mempersoalkan pengembangan Balauring sebagai desa wisata tematik yang fokus pada pariwisata.

Menurut mereka, pembangunan sejumlah aset wisata termasuk reklamasi Pantai Balauring justru tak tepat sasar.

Selain orang muda, juga ada beberapa nelayan setempat bersikap serupa dan menganggap kepala desa tidak memperhatikan kelompok nelayan.

Sulaiman Wahid Witak, dan beberapa nelayan menduga ada oknum yang tidak bertanggungjawab merusaki dan memotong Rumpon miliknya. Tindakan pengrusakan ini pun berlanjut dengan aksi protes warga  nelayan kampung monyet yang mendatangi kantor desa setempat. 

” Kami merasa pemerintah desa telah melakukan pembiaran, karena sejak adanya kapal porsain milik nelayan Maumere masuk perairan teluk Balauring,  kami baru mengalami kejadian ini. Mungkin ini musibah. Kami tidak menuduh siapa-siapa yang berbuat tapi kami yakin bahwa ini adalah perbuatan manusia bukan perbuatan alam, “ungkap Suleman.  

Dalam aksi tersebut warga nelayan ini menyampaikan kekesalan mereka terhadap Kepala Desa Balauring Syarif Patipilohi. Mereka menganggap Kades Balauring tidak berpihak pada warga nelayan karena tidak bisa mengambil langkah tegas terhadap nelayan Porsain dari luar Lembata dan membiarkan mereka masuk ke wilayah perairan Telut Balauring. Hal ini yang menjadi pemicu  keributan antar warga dan Kepala Desa Balauring. 

Disaksikan teras-ntt.com saat meliput kunjungan kerja Bupati Lembata ini, Suleman Witak kepada kepala desa Balauring mengatakan, bahwa kejadian tersebut sekitar subuh, tali rumpong miliknya di putuskan. 

Menurutnya bekas tali yang putus itu bukan karena ada kejadian alam lainya tetapi kami yakin ada yang memotongnya dengan parang atau pisau. ” Dan saya yakin ini perbutan manusia,”ujar Suleman. 

Suasana di kantor Desa Balauring

Secara terpisah Bupati Sunur, menyarankan untuk pemerintah desa dan warga setempat agar segera melapor kepada pihak yang berwajib terkait pengrusakan Rumpon nelayan. ” Jadi silahkan masyarakat laporkan ke pemerintah desa untuk ditindaklajuti,  kalau benar mereka itu nelayan dari luar maka kita harus ambil tindakan tegas,” kata Sunur

Jika ini juga tidak bisa dilakukan pemerintah desa maka  pihak Dinas Perikanan yang harus turun tangani. ” Saya berharap masyarakat segera laporkan ke kepala desa secara tertulis untuk segera disampaikan ke pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti,” tandasnya.(van).

Komentar

Berita Terbaru