oleh

Panen Tomat Di Adonara, Begini Kata Bupati Anton

Bupati Anton Hadjon, panen Tomat di Desa Saonsina, Adonara Timur

Adonara, teras-ntt.com — Saat melajukan panen tomat Di Desa Sonsina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Kamis (1/101/2020) Bupati Anton Gege Hadjon menegaskan, bahwa menjadi petani bukanlah sebuah profesi yang terkebelakann.

Didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Flotim, Lusia Barek Hadjon, sebelum melakukan panen perdana 7000 pohon tomat milik kelompok tani Gewayan Tanah, Anton Hajon menyempatkan diri meninjau langsung lokasi perkebunan tomat seluas 1 hektar ini.

Kelompok yang beranggotakan anak muda ini menjadi inspiratif orang muda karena mengubah lahan tidur menjadi kebun tanaman holtikultura khusus tomat. Hal ini sejalan dengan visi dan misi pemda Flotim yaitu selamatkan kaum muda karena dijaman sekarang jarang ada orang muda yang berkreatifitas memanfaatkan sumber daya alam berupa lahan untuk dijadikan usaha pertanian.

Turut hadir kesempatan itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Petrus Petara Aran, Bhabinkamtibmas Polsek Waiwerang yang juga inisiator kelompok petani, Sukmawadi dan para tokoh masyarakat setempat.

Antonius Hadjon mengapresiasi kelompok tani Gewayan Tanah, bahwa walaupun tanpa bantuan pemerintah Kompol anak muda ini bisa menjadi petani handal dan profesional.

” Pada prinsipnya aset dasar dari pemda Flotim adalah anak muda. Sementara aset dari pemuda Flotim adalah lahan pertanian. Tinggal kita menambahkan nilai pada sumber daya manusia dan lahan pertanian untuk kemakmuran banyak orang,” katanya.

” Hari ini saya berkunjung ke kelompok Gewayan Tanah. Akhirnya mereka telah membuktikan bahwa tanpa bantuan pemerintah mereka mampu menjadi petani yang handal dan profesional. Setelah melihat ini saya akan terus dampingi. Dan saya akan sangat bangga, jika ada petani, apalagi anak muda yang secara profesional, mengolah lahan dengan keterbatasanya dan mampu menghasilkan incom bagi dirinya dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” lanjutnya.

Menurut Anton, di masa pandemi ini, produktivitas kaum muda sangat diharapkan untuk membantu menggenjot perekonomian. Dan akan terus mendorong entrepreneur muda Flotim untuk terus berkarya.

“ Produktifitas kaum muda sangat diharapkan untuk menngenjot ekonomi. Dan saya berkomitmen untuk terus mendorong entrepreneur muda Flotim agar terus berkarya,”ujarnya.

Mantan Wakil Ketua DPRD Flotim ini bahkan mengutarakan niatnya menjadi petani tomat jika dirinya tidak lagi menjabat Bupati Flores Timur pada periode berikutnya.

“Jika saya tidak terpilih menjadi bupati pada periode kedua nanti, saya berkeinginan menjadi petani tomat,” ungkap Anton Hadjon yang juga pernah menjadi seorang petani mente ini.

Dia menjelaskan bahwa, gairah menjadi seorang petani bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan bertani merupakan pekerjan awal yang memang direncanakannya sewaktu muda.

Untuk meyakinkan kedua orangtua agar bisa bertahan hidup di kampung, Kata Anton, selesai kuliah Ia menjadi petani mente.

“ Waktu itu Flotim masih bergabung dengan Lembata. Dengan modal hasil timbang mente tersebut, saya bisa melakukan konsolidasi dengan teman – teman pengurus partai di Lembata dan terus berkarir di dunia politik sampai sekarang. Sengaja saya menceritakan ini, agar orang muda Flotim mengerti bahwa menjadi petani bukanlah sebuah profesi yang terbelakang. Tapi petani akan menjadi pekerjaan yang membanggakan jika kita geluti secara tekun dan profesional,” paparnya.

Terkait perhatian pemerintah kepada para petani di desa Saonsina dan sekitarnya, Anton Hadjon langsung memerintahkan Kepala Dinas Pertanian untuk mendata semua permasalahan untuk diselesaikan.

“ Pak Kadis, nanti di data semua permasalahan para petani di desa Saonsina dan sekitarnya untuk di selesaikan,”tandasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Gewayan Tanah, Muhhamad Natsir mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan lahan seluas 4 Hektar lagi untuk kebun tomat.

“ Ya kami sudah siapkan 4 Hektar lagi, dan 3 Hektar di antaranya sudah dibersihkan. Target kami sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan Tomat di Flotim. Karena setahu saya, selama ini kita beli tomat dari daerah lain. Dengan potensi yang ada, kenapa kita tidak tanam sendiri ? Dan kalau bisa kita yang harusnya menjual keluar daerah,” tegas pria yang akrab disapa Natsir ini.

Ketua Kelompok Tani Gewayan Tanah, Muhhamad Natsir

Terkait kendala, pria yang berlatar belakang hukum ini menuturkan bahwa masalah yang dihadapi kelompok tani ini adalah sarana dan prasarana.

“Masalah dasar kami ya debet air yang masih terlalu kecil karena kami menggunakan pompa celup 3 vase yang hanya bisa digunakan untuk lahan 1 Hektar. Dengan masalah ini, kami berharap agar keluhan yang disampaikan langsung kepada Bupati dan Kadis Pertanian, bisa dicarikan jalan keluarnya,” tandasnya.(ran)

Komentar

Berita Terbaru