oleh

NTT Peringkat 4 Kasus Kekerasan Terhadap Anak

SOE, Terasntt. com –Saat ini, kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk pada level darurat.
Pasalnya, Provinsi NTT masuk menempati peringkat empat dari 34 provinsi dalam kasus kekerasan terhadap anak
Hal itu dikemukakan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dalam sambutanya saat menghadiri acara Hari Anak Nasional (HAN) tingkat kabupaten TTS yang berlangsung di Aula Efata Soe, Rabu (23/9/2015) kemarin.
Aris menyebutkan, sejumlah kasus kekerasan yang terjadi di NTT diantaranya kasus perdagangan anak, kekerasan seksual, penelantaran, gizi buruk serta menjadikan anak sebagai pekerja.
“Secara Nasional, NTT berada pada urutan ke-4 dari 34 Pronvisi di Indonesia dalam kasus kekerasan terhadap anak,” kata Arist.
Kasus-kasus kekerasan terhadap anak kata Arist, tak hanya terjadi dalam rumah tangga dengan orang tua sebagai pelakunya juga terjadi di luar rumah terutama di sekolah dan di lingkungan sekitar.
Berdasarkan Undang-Undang perlindungan anak kata Arist, anak memiliki 10 hak dasar yang wajib dilindungi dan dipenuhi yaitu hak bermain, pendidikan dan perlindungan, nama, kebangsaan, makanan dan kesehatan, rekreasi, kesamaan peran dalam pembangunan.
Ke 10 hak tersebut lanjutnya, wajib dipatuhi oleh seluruh pihak agar anak berkembang baik secara fisik dan phsysikis.
“Banyaknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak diakibatkan oleh kurangnya pemahaman orang tua maupun masyarakat luas bagaimana mendidik dan menjaga anak agar anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa dan bangsa serta gereja,”katanya.
Tingginya kasus kekerasan terhadap anak menurutnya, persoalan itu memasuki status darurat. Sebab manurutnya, saat ini cukup banyak anak yang mengalami tindakan kekerasan secara seksual seperti pemerkosaan dan percabulan.
“Kekerasan seksual terhadap anak saat ini sudah memasuk fase yang memprihatinkan, sudah darurat seksual berdasarkan data yang ada di Komnas Perlindungan anak,” ungkapnya.
Seluruh komponen baik pemerintah, penegak hukum, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), para guru maupun orang tua diingatkannya supaya bergandengan tangan memerangi kasus itu.
“Kepada semua harus satukan tekad memutuskan mata rantai kekerasan terhadap anak kita,” tandasnya.
Sementara Bupati TTS, Ir. Paul V.R Mella, M. Si pada kesempatan itu mengatakan, anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik bila dicintai, dilindungi dan dibimbing dengan penuh kasih sayang baik oleh orang tua, lingkungan sekitarnya maupun di lingkungan sekolah.
“Anak akan tumbuh dengan baik jika dicintai dilindungi dan dibimbing dengan kasih syang oleh orang tua, lingkungan sekitarnya termasuk para pendidik, tidak boleh ada diskriminasi,” ungkap Bupati TTS dua periode itu.
Saa ini kata Mella, Pemerintah Kabupaten TTS mulai dari desa, kecamatan sampai Kabupaten telah mengkampanyekan gerakan “ramah anak”. Gerakan itu kata dia, bertujuan untuk menciptakan suasana aman, damai dan saling menghargai atas hak-hak anak.
Untuk menyukseskan gerakan itu kata Mella, selama dua periode dirinya memimpin TTS, Pemkab TTS telah memberikan berbagai bentuk dukungan berupa peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) anak melalui pendidikan, olahraga dan seni serta dukungan fasilitas dan anggaran untuk pengembangan anak TTS kedepan.
“Saya minta kepada semua komponen, para orangtua, guru, penegak hukum, LSM dan semuan komponen yang peduli terhadap anak untuk memberikan perlindung terhadap anak-anak kita guna menghindari dari upaya penjualan anak, ekploitasi, kekerasan seksual dari orang2 yang tidak bertanggungjawab,pintah Mella.(K2)

Komentar