Home Daerah Minta Uang ke Warga, LAI Kupang Janjikan Masuk Tentara

Minta Uang ke Warga, LAI Kupang Janjikan Masuk Tentara

3021
0
SHARE

Kwitansi pembayaran ke LAI Kupang

Soe, teras-ntt.com — Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) Kupang meminta sejumlah uang kepada warga Amanuban Selatan, Kabupaten TTS dengan iming – iming masuk tentara di tahun 2021. Jemi Faot Desa Oebelo dan Kus Asbanu dua warga yang direkrut LAI dengan menyetor uang sebesar Rp 25 juta karena ingin menjadi anggota TNI.

” Menurut pimpinan LAI sesuai perjanjian uang Rp 25 juta itu untuk atribut,” kata Camat Amanuban Selatan Jhon Asbanu kepada wartawan melalui sambungan ponselnya, Sabtu (1/2/2020).

Asbanu mengatakan, bahwa pihaknya sudah bertemu kedua warga tersebut dan diinformasikan, bahwa Jemi Faot sudah menyetor Rp 8,5 juta dan ada kwitansi.
Sementara Kus Asbanu yang adalah keponakannya sudah masuk 3 tahun lalu dan menyetor uang atribut Rp 15 juta.

” Ayah Jemi Faot, yakni Theofilus Faot mengaku tertarik untuk masuk di Lembaga ini karena senang anaknya akan menjadi tentara apalagi pakainanya juga loreng,” ujar Camat menirukan Theofilus Faot.

Atas kejadian tersebut, kata camat sebagai pimpinan wilayah Ia sudah konfirmasi kepada pemimpin LAI Melianus Tefa soal uang tersebut dan memperoleh jawaban, bahwa uang itu adalah untuk atribut berupa pakaian, sepatu, baret.

” Kami sudah komunikasi dengan pimpinan LAI untuk klarifikasi pada hari kamis lalu di kantor camat bersama Forkompincat, namun tidak datang sehingga kami akan tunggu hari Senin lagi,” ujar Camat Asbanu.

Ia mengaku sudah laporkan hal ini pada pihak Kesbangpol dan juga akan melaporkan pada Bupati TTS serta menghimbau masyarakat lebih berhati-hati ketika ada tamu tidak dikenal dan melakukan hal yang mencurigakan agar segera laporkan pihak berwajib.

Pimpinan LAI Melianus Tefa beberapa kali dihubungi melalui telepon namun nomor tidak aktif hingga saat ini.

Sebelumnya Tim DPD LAI ini sempat datang pada saat Rakor tingkat Kecamatan Amanatun Selatan yang berlangsung di Desa Netutnana dan usai Rakord, mereka melakukan interogasi dan intimidasi terhadap Kepala Desa setempat soal dana yang membuat warga tidak terima sehingga nyaris terjadi kericuhan.(sys)

Berikan Komentar Anda.