oleh

Menristekdikti Lacak Ijazah Palsu di 243 Kampus Nonaktif

Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyatakan ada 243 perguruan tinggi nonaktif yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Ia mengklaim pihaknya akan terus melacak ratusan perguruan tinggi tersebut untuk memastikan tidak ada yang mengeluarkan ijazah palsu.

“Satu per satu akan saya lacak semuanya. Kalau proses pembelajarannya yang tidak benar, kami akan tertibkan. Namun, kalau ada kecurangan seperti mengeluarkan ijazah palsu, ya saya tutup,” kata Nasir kepada CNN Indonesia saat ditemui di kantornya, Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut, Nasir mengatakan bahwa tidak berarti 243 perguruan tinggi nonaktif tersebut merupakan kampus abal-abal. Pasalnya, ada beberapa kampus yang dinyatakan nonaktif lantaran tidak memenuhi rasio ideal antara dosen dan mahasiswa.

Adapun data perguruan tinggi nonaktif terbuka untuk umum dan dapat diakses di forlap.dikti.go.id. Data ini secara otomatis menyortir perguruan tinggi yang aktif dan nonaktif berdasarkan laporan yang dimasukkan oleh pihak perguruan tinggi.

Oleh karena itu, data tersebut sangat dinamis dan bergantung pada laporan dari perguruan tinggi. Sayangnya, tidak semua perguruan tinggi aktif memberikan laporan tersebut.

“Ada empat perguruan tinggi yang sudah resmi ditutup. Yang lainnya, masih ditindaklanjuti. Seperti kemarin, wisuda palsu di Tangerang. Yang sudah ditutup itu ada di Medan (1), Jakarta (1), Jawa Barat (1), dan Bali (1),” kata Nasir.

Eks rektor Universitas Diponegoro Semarang ini mengatakan timnya di Surabaya baru saja menemukan satu pelanggaran akademik. Tim lainnya di Sulawesi juga telah menemukan pelanggaran akademik.

“Kami akan dalami lagi. Kalau memang ada pelanggaran akademik, akan saya tertibkan,” katanya.
Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Naim mengimbau agar mahasiswa yang sekarang menempuh pendidikan di perguruan tinggi nonaktif tidak perlu cemas. Ia berjanji akan mencarikan solusi bagi para mahasiswa tersebut.

“Kami akan desak perguruan tinggi agar memberikan layanan yang sesuai standar. Namun, bila terpaksa perguruan tinggi itu kami tutup, maka kami akan usahakan untuk relokasi mahasiswa itu ke perguruan tinggi lain,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pihak kementerian akan memberikan waktu bagi perguruan tinggi nonaktif tersebut untuk memperbaiki dirinya. Waktu yang diberikan kepada tiap-tiap kampus pun berbeda-beda.

“Ada yang tiga bulan, ada yang setahun, tergantung kemampuan perguruan tinggi. Kalau masalahnya adalah kekurangan jumlah dosen, tentu berat karena kita tahu mencari dosen tidaklah mudah,” katanya.

Yang jelas, kata Ainun, perguruan tinggi yang masuk kategori nonaktif tidak boleh menerima mahasiswa baru. “Semua data ada di situs kami. Kami harap mahasiswa baru bisa hati-hati memilih perguruan tinggi,” katanya. (pit)/(CNN)

Komentar