by

Mengenal Pramoedya Dalam Bumi Manusia

SATU pertanyaan yang lebih cocok adalah,  sipakah Pramoedya AnantaToer (selanjutnya disebut Pram) bagi pelajar – pelajar Indonesia ? Jawaban yang mungkin lebih tepat, Pram adalah sebuah tragedi.

Dia adalah sosok yang hampir terlupakan, pribadi yang tidak ditemukan secara utuh dalam lembar – lembar buku mata pelajaran, baik sejarah maupun sastra indonesia.

Tapi siapakah Pra bagi dunia ?, Beliau adalah satu – satunya wakil Indonesia yang namanya berkali – kali masuk dalam daftar kandidat pemenang Nobel sastra. Ketragisan ini tentunya mengecewakan, memalukan, menggemaskan, tak tercerahkan, mengingat pengakuan dunia atas peran dan dampak tulisan – tulisan Pram.

Berbagai penghargaan baik dalam maupun luar negeri telah diperolehnya dan bayangkan, pembaca, karena membaca karya – karya Pram, Max Well, seorang penerjemah asal Australia yang telah menerjemahkan karya – karya Pram ke dalam bahasa Inggris, menobatkan Pram sebagai “Sejarahwan Terbaik Indonesia”.

Pram lahir di Blora tahun 1925 dan wafat di Jakarta pada 30 April 2006. Berulang – ulang kali dia diamankan ke dalam penjara, yakni 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun di masa Orde Lama dan 14 tahun di masa Orde Baru (13 Oktober 1965 – Juli 1969, pulau buru Agustus 1965 -12 November 1979, Magelang November – Desember 1979) Tanpa proses pengadilan.

Pada taggal 21 Desember, Dia mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S (bukan G30S PKI), tapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan Kota, tahanan Negara sampai 1999 dan wajib lapor ke kodim Jakarta Timur seminggu sekali selama kurang lebih dua tahun. Mendekam dalam penjara tak sekalipun membuatnya berhenti menulis. Justru, karya – karya ampuhnya (Tertalogi Buru) lahir dari tempat – tempat seperti ini.
Roman sejarah dari keempat roman yang termasuk dalam Tertalogi Buru adalah Bumi Manusia.

Membaca Bumi Manusia, seperti membuka lembaran – lembaran arsip negara Indonesia selama masa penjajahan selama awal abad ke 20, yang tentu saja tidak pernah ada dalam pelajaran – pelajaran sekolah kita, baik sejarah Indonesia secara umum maupun sejarah sastra pada khususnya. Bumi Manusia adalah warisan berharga dari Pram yang dimiliki Indonesia, diramu dengan pikiran – pikiran cerdas, pintar, berisi, dan kekhasan dari seorang Pram yang tidak terdapat pada penulis – penulis lain.

Bumi Manusia pada akhirnya, adalah himpunan pemikiran – pemikiran besar dari penelusuran sejarah pergerakan (yang mejadikan pers sebagai alat perjuangan kaum tertindas), Marxis (Realisme Kritis), dan menariknya, percikan – percikan pemikiran Sigmun Freud dan Erik H. Erikson (tentang sifat-sifat Hitler) terjelma dalam karakter -karakter tokoh yang diciptakan Pram.

Adalah Minke, (baca mingke, yang situliskan Pram sebagai penutur tunggal), tak henti -hentinya mengagumi hasil kerja dari Eropa. Dia sendiri adalah seorang Pribumi, yang pada masa itu selalu dipisahkan dengan golongan Eropa.

Kekagumannya akan hasil – hasil kerja eropa itu (kereta api, pemikiran – pemikiran Eropa, ilmu pengetahuan), tentulah sangat wajar, mengingat Minke sendiri adalah pribadi yang ditempa dengan tradisi dan tolok ukur Eropa. Perkenalannya dengan Nyai Ontosroh dan Annelies adalah berkat bantuan Roberr Shurof, teman sekolahnya (H.B.S Surabaya). Motif memperkenalkan Minke ke ke dua tokoh tersebut, hanyalah mau membuktikan ketidakmampuan Pribumi di hadapan golongan Eropa. (Rupanya Robert Shurof juga mencintai Annelies dalam diam)

Harapan itu menjadi kekeliruan, lantaran perkenalannya yang hanya sekali itu telah mebuahkan satu rasa diantara Nyai Ontosoroh dan Annelies terhadap Minke. Rasa kekerabatan itu pun terjalin mesrah, dan antara Minke dan Annalies telah tumbuh beni cinta. Annalies, yang berulang-ulang kali disebut sebagai boneka, memanglah seperti boneka.

Bumi manusia mengusung sebuah tema agung : Pembentukan Jiwa Nasionalisme. Semua Konflik (dalam bentuk musibah ataupun surat – surat), telah menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam hati Minke. Surat-surat yang dkirimkan Miriam, putusan – putusan pengadilan putih, olokan-olokan teman sekolahnya, dan juga lukisan yang dilukiskan Jean Marais, seolah – olah memanggil – manggil suara hati dan hati nuraninya untuk berbuat lebih untuk tanah airnya.

Latar yang dihadirkan Pram, telah mengajak kita kembali kepada kehidupan awal abad ke 20, zaman penjajahan Kolonial Belanda. Kita bisa menemukan, bagaimana sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh Penerintah Kolonial Belanda telah memunculkan satu peradaban yang benar – benar mendeskreditkan kaum Pribumi. Sistem pendidikan hanya mengagung – agungkan Eropa, merendahkan pribumi, dan tidak hanya dalam pendidikan, dalam kehidupan sehari – hari. Lihatlah sikap dan pemikiran Roberrt Shurof (Eropa) yang selalu saja merendahkan Minke (pribumi).

Dalam surat – surat yang dkirimkan Miriam de la Croix kepada Minke, pembaca, kita mengakui bahwa surat – surat itu bukanlah kumpulan kata – kata semata. Surat – surat itu adalah roh, yang telah menumbuhkan sebuah kesadaran baru pada diri seorang Minke; bahwa dia bisa melakukan lebih untuk tanah airnya. Membaca surat-surat itu, Pembaca, memberikan suatu gambaran akan kualitas Minke (pribumi) dimata seorang Eropa. Kata – kata sebagai roh dalam surat itu, telah, paling tidak membuat kita mantap-yakin percaya, bahwa kata tidak hanya sekedar goresan ataupun hanya sekedar letupan suara semata, tapi adalah kekuatan yang bisa meluluhkan hati, membulatkan dan menggerakan tekad, dan menumbuhkan semangat yang tak terkira. Seperti seorang bica yang suka memilih dan mengumpulkan mainannya, Pram berhasil mengumpulkan kata-katanya, membuatnya jadi suray, lantas berubah jadi roh.

Bumi manusia mengajarkan kita bahwa belajar sangat penting, sepenting kita membutuhkan nasi dan air. Nyai Ontosoroh dan Minke adalah ciri manusia dengan pikiran cemerlang hasil dari belajar, yang dengan hasil dari belajar itu, mereka bisa merubah, kalaubtih bukan (belum) leadaan, minimal cara berpikir.

Yang lebih mengherankan saya dari roman sejarah ini, Pembaca, Pram, sepertinya dengan sadar, memasukan sifat-sifat Hitler ke dalam jiwa dan tingkah laku Nyai Ontosoroh. Jiwa pemberontak; memberontak dengan keras seolah-olah tidak ada lagi harapan dannhari esok, adalah ciri khas Nyai Ontosoroh. (terhadap anaknya atau golongan Eropa), yang bisa disamakan dengan jiwa Hitler sewaktu memimpin Jerman. Annalies adalah korban dari sifat ibunya itu, sebagaimana pemuda-pemuda Jerman yang juga menjadi korban karena kemauan Hitler. Merenungi kemauan Nyai Ontosoroh dan Annalies, dengan jelas-jelas pemikiran-pemikiran besar para Psikolog terserap kedalamnya. Membaca dan merenungi kata-kata Dokter Martinet, pemikiran-pemikiran ahli-ahli psikolog semakin kentara dan mantap; bagaiman dia mengaikatkan akibat dari sex pertama terhadap tingkah laku seorang perempuan (Annalies). Membaca Bumi Manusia dari segi psikolog, adalah membaca pemikiran Sigmun Freud dan Erik H. Eikson. Dan tidak semua penulis mampu melakukan hal ini. Pram mampu.

Roman sejarah Bumi Manusia ini, seharusnya wajib dibaca oleh semua golongan, semua strata sosial, dalam masyarakat.  (Petanih, Buruh, Nelayan, Sekolahan,Wartawan, Guru, Pegawai Negeri, Swasta, Pejabat, Dosen, Mahasiswa). Sungguh bijaksana, seandainya roman sejarah ini dimasukan ke dalam kurikukum, diajarkan untuk dpahami (tentu dengan bantuan Guru), ataupun dijadikan bacaan wajib, seperti wajibnya pelajar-pelajar Amerika membaca dan memahami pidato-pidato Presiden mereka. Apakah kita mampu? Atau lebih tepatnya, Apakah kita rela ?

Judul            : Bumi Manusia
Penulis         : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit        : Lantera Dipantara
Tahun Terbit : 2005
Tebal             : 538 Halaman
ISBN              : 979-97312-3-2

Resensi oleh : Kopong Bunga Lamawuran, (Penulis Muda NTT, pernah Menerbitkan Novel Rumah Lipatan dan Ilalang Tanah Gersang, juga sedang mempersiapkan penerbitan Antologi Puisinya).

Comment

Berita Terbaru