oleh

Medah: Kondisi Ekonomi NTT Sangat Kritis

BA’A, Terasntt.com –Kondisi ekonomi di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sedang dalam keadaan yang sangat kritis. Karena itu, masyarakat NTT dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) harus ikut melakukan gebrakan-gebrakan luar biasa untuk membangun NTT lebih maju dan mengejar kemajuan di daerah lain.

Senator/anggota DPD RI asal NTT, Drs. Ibrahim Agustinus Medah mengatakan itu kepada ratusan peserta Sidang Sinode (SS) GMIT XXXIII di Auditorium Tiilangga, Kamis (1/10/2015), usai ibadah pagi. Dikatakannya, lahan tidur di NTT yang diperkirakan seluas 2 juta hekta are (Ha) harus dapat dimanfaatkan dengan baik untuk peningkatan ekonomi jemaat.

“Saya katakan kondisi ekonomi kita sangat kritis di NTT, karena pendapatan perkapita kita di NTT masih jauh sekali dibanding dengan pendapatan perkapita dengan propinsi lainnya di Indonesia,” jelas ketua umum panitia pelaksana SS GMIT ke XXXIII ini.

Itu pasalnya, mantan Ketua DPRD NTT ini menegaskan, NTT dan GMIT harus melakukan gebrakan untuk memperkuat sistem ekonomi masyarakat di NTT. “Harus segera dimanfaatkan lahan-lahan tidur, potensi laut dan juga pariwisata kita untuk mengejar ketertinggalan yang ada saat ini,” jelasnya.

Ditambahakannya, lahan pertanian yang ada di NTT saat ini kurang-lebih 132 ribu Ha. Namun lahan pertanian yang ada hanya mampu menghasilkan gabah padi sebanyak tiga sampai empat ton per tahun, kalau jauh dibandingkan dengan di wilayah Jawa dan daerah lainnya yang hasil panennya mencapai delapan sampai dengan 10 ha/sekali panen.

“Kondisi ini harus mendorong kita untuk segera lakukan pengembangan dan memanfaatkan lahan tidur kita yang sangat luas ini,” tegasnya.
Kondisi ekonomi masyarakat NTT dinilai kritis, karena saat ini aksi protes yang dilakukan oleh propinsi-propinsi yang surplus pendapatannya dari pendapatan nasional untuk mandiri akan sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat NTT, karena itu tidak ada pilihan bagi masyarakat NTT, termasuk GMIT untuk bergerak mencari alternatif peningkatan ekonomi masyarakat.

“Propinsi Papua, dan Kalimantan sampai dengan saat ini terus melakukan protes karena mendapatkan alokasi dari APBN kurang dari PAD mereka. Jadi kita di NTT harus berusaha untuk tingkatkan ekonomi kita, sehingga nanti kalau pemerintah pusat tidak sanggup menahan lagi protes propinsi-propinsi surplus tersebut, kita di NTT tidak menjadi semakin sulit,” tegasnya.

Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat NTT tersebut, mantan Bupati Kupang dua periode ini menawarkan kepada GMIT untuk ikut mendorong pengembangan kemiri sunan di NTT. Karena kemiri sunan adalah kemiri dengan kualitas buah yang dapat menghasilkan minyak terbaik dari kelompok minyak lainnya.

“Kemiri ini sama dengan kemiri biasa, tetapi kulit pohonnya beracun sehingga tidak suka dimakan oleh ternak. Jadi ini cocok bagi kita orang NTT yang suka bangun pagar kebun, tetapi pagarnya lobang-lobang. Di selah-selah tanaman kemiri sunan bisa juga ditanami tanaman lain seperti di Ngada diselingi dengan tanaman sere wangi,” jelasnya.

Selain kemiri sunan, ia juga menyarankan agar warga GMIT mengembangkan tanaman ubi jalar yang saat ini sedang dikembangkan oleh Pemuda GMIT. “Di Kabup[aten TTS, hasil yang diperoleh dari satu lubang tanaman mencapai 3 kilo gram. Di Pulau semau mencapai 5 kilo gram, dan dengan jarak tanam yang diatur maka setiap hektar lahan tidur jika dimanfaatkan untuk tanaman ubi jalar maka akan menghasilkan 150 ton per hektar,” jelasnya.

Ia berjanji akan membagikan setiap klasis di wilayah kerja GMIT masing-masing klasis 100 polibak untuk ditanam ubi jalar.(laurens leba tukan)

Komentar