oleh

Medah : Perpu Tidak Untuk Kepentingan Incumbent

KUPANG, Terasntt.com —
Senator/Anggota DPD RI asal Provinsi Nusa Tenggara Timur Drs. Ibrahim Agustinus Medah mengusulkan kepada Pemerintah Pusat, apabila mengeluarkan Peraturan Presiden Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Pilkada tidak hanya menguntungkan incumbent.
“Jangan keluarkan Perpu hanya untuk menggolkan kepentingan Incumbent. Dan juga jangan salahkan Partai Politik jika tidak ada calon yang mendaftar, itu bukan kesalahan Parpol. Itu karena para calon lain melihat kondisi imcumbent yang lebih diuntungkan dengan posisinya sebagai petahanan yang sedang memimpin,” ujar Ibrahim Medah ketika berdiskusi dengan wartawan di Kupang, Jumad (7/8/2015).
Dikatakannya, jika benar dikeluarkan Perpu maka Perpu itu diberlakukan khusus untuk calon non incumbent.
“Jika di daerah tertentu hanya ada satu calon yang mendaftar dan calon tersebut bukan incumbent maka Perpu itu diberlakukan baginya,” katanya.
Medah yang juga Ketua DPD Golkar Provinsi NTT itu mengatakan, Pemerintah jangan melihat hanya satu calon lalu mengeluarkan Perpu untuk meloloskan calon itu karena dia Incumbent.
” Mari kita melihat pada sisi lain di daerah lain, selain tujuh daerah itu calonnya lebih dari dua. Menurut saya ada kemungkinan incumbent tidak ikut lagi untuk bertarung atau Incumbent dinilai tidak berhasil selama memimpin,” katanya.
Itu pasalnya, Medah menyarankan, jika ada calon yang sedang memimpin dan ingin bertarung lagi maka regulasi harus mengatur untuk diberhentikan selama minimal enam bulan sebelum proses pilkada serentak dimulai.
“Jika incumbentnya bekerja baik dan dicintai masyarakatnya maka berhenti selama enam bulan atau satu tahun baru digelar Pilkadapun pasti masyarakat akan memilihnya. Jangan sampai incumbent merasa jasa-jasanya selama memimpin dilupakan,” kata dia.
Medah yang berpengalaman dua kali bertarung dalam Pilgub NTT dan berhadapan dengan incumbent itu menyebutkan, yang diinginkan adalah mencari pemimpin yang benar-benar dicintai dan berpihak kepada rakyatnya.
“Kita juga berharap Pilkada yang digelar benar-benar sportif, yang mana pendatang baru dan incumbent sama-sama dalam kondisi tangan kosong. Para calon pendatang baru tentunya tidak ingin buang-buang energi berhadapan dengan incumbent yang sedang berkuasa yang ditunjang dengan berbagai fasilitas dan sistim birokrasi,” katanya.
Medah menambahkan, pihaknya bukan berpikir negatif terhadap incumbent tetapi bagi dia, incumbent memiliki dua keunggulan yaitu secara psikologi masyarakat kita pada umumnya masih sangat menghargai dan menghormati pemimpinnya yang sedang menjabat sehingga besar kemungkinan akan terpilih.
Sedangkan keunggulan berikutnya, kata Medah, pada diri incumbent ada fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingannya. “Dan orang lain tidak mendaftar karena melihat dua keunggulan yang ada pada incumbent yang lebih menguntungkan incumbent,” sebutnya.**laurens leba tukan

Komentar