Home Hukrim Mabuk, Yaner Diamankan di Polres TTU lalu Meninggal

Mabuk, Yaner Diamankan di Polres TTU lalu Meninggal

970
0
SHARE
Foto : Yudith Taolin

KEFAMENANU, Terasntt.com — Gara – gara mabuk dan membuat keonaran pada acara Wisuda di Kefamenanu, Yaner Afeanpah (23) Cs diamankan Polisi setempat, Sabtu (21/10/2017). Mereka digiring ke Polres dan ditahan selama 1 malam.

Keesokan harinya, Minggu (22/10/2017) pukul 5.00 wita saat dibangunkan rekan – rekannya, Yaner sudah tak bernyawa lalu langsung dilaporkan ke anggota yang menjaga.

Korban diketahui meninggal dalam tahanan ditemukan rekan – rekannya sendiri.

Sebelum menemui ajalnya, malam itu Yaner dan 23 pemuda lainnya diamankan pihak kepolisian setempat lantaran diduga telah membuat keributan di salah satu tempat pesta wisuda di blok F kompleks BTN kilo meter 9 jurusan Kupang.

Hasil audiens Kapolres TTU, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto dengan pihak keluarga korban Minggu,(22/10/2017), bahwa korban diketahui meninggal oleh pihak kepolisian setelah mendapat laporan rekannya dan mereka diamankan karena Polisi mendapat laporan warga, bahwa telah terjadi keributan dalam acara wisuda di BTN kilo meter 9.

Setelah mendapat laporan warga, lanjut Kapolres saya bersama sejumlah personil mendatangi alamat sesui laporan dan menggeledah beberapa tempat acara yang sementara berlangsung untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

” Kami mendapat laporan dari warga bahwa telah terjadi keributan di salah satu pesta wisuda di BTN KM 9 Kefamenanu. Setelah mendapat informasi kami langsung mendatangi alamat itu. Dan untuk memastikan kebenaran informasi itu kami melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pemuda yang mengikuti acara di beberapa tempat pesta wisuda berlangsung. Dari beberapa tempat acara yang diperiksa, tibalah kami di tempat pesta dimana korban berada. Di sana semua pemuda diperiksa dan karena tercium aroma miras dari mulut korban, korban dan 23 pemuda lainnya, maka digiring ke Mapolres TTU untuk diberi pengarahan,” katanya.

Selama 24 pemuda ini diamankan di sini, kata Kapolres tidak ada tindakan kekerasan apapun terhadap mereka. Mereka juga bukan tahanan, kami mengamankan mereka semata – mata hanya untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan seputar tempat acara berlangsung.

” Setelah mereka mendapat arahan, juga kami siapkan makan malam dan menyuruh mereka untuk beristirahat,” kata Krisna.

Pernyataan Kapolres ini dibenarkan keluarga korban Jhoni Tulasi dan beberapa pemuda yang ikut ke Polres melihat teman – temannya digiring dan diamankan.

Doni, salah satu teman korban yang ikut diamankan, mengakui tidak ada tindak kekerasan yang dilakukan terhadap mereka. Semata – mata hanya diberi arahan, makan malam kemudian disuruh beristirahat.

” Kami semua diamankan di Polres kemudian dinasihati dan diberi makan malam. Setelah itu disuruh tidur untuk keesokan paginya dipulangkan ke alamat masing – masing,” ungkap Doni senada dengan Johni Tulasi dan teman korban lainnya.

Ketika ditemui di depan kamar jenasah RSUD TTU Doni menjelaskan, bahwa dialah yang pertama membangunkan korban, namun badannya sudah kaku dan tak bernyawa.

” Pagi tadi saya yang duluan bangun dan berusaha membangunkan teman lain. Ketika saya bangunkan Yaner, tidak ada respon. Badannya sudah kaku dan dingin. Kemudian saya membangunkan Milan (tuan pesta). Saat itulah diketahui bahwa Yaner telah meninggal sekitar pukul 05.00 wita dan kami melaporkan ke pihak kepolisian,” kata Doni.

Orang tua korban dan keluarga yang mengikuti audiens itu terlihat pasrah atas peristiwa yang menimpa anaknya, namun berharap kasus kematian korban bisa diungkap secara transparan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian Resort Timor Tengah Utara masih melakukan penyelidikan, sementara keluarga korban sejak sore hingga malam masih menunggui jasad Yaner di luar ruang jenasah RSUD TTU guna diotopsi.

Dan sesuai rencana, usai diotopsi jenasah akan diberangkatkan ke kampung halamannya di Kaubele Kecamatan Biboki Moenleu untuk dimakamkan.

Orang tua Korban : ” Kami Berdua Sudah Mendapat Tanda” (Sambil menangis)

Orangtua korban Paulus Afeanpah dan Petronela Amfotis, mengaku sudah mendapat tanda terlebih dahulu.

Paulus Afeanpah mengatakan, didatangi seekor lalat besar yang sesuai kepercayaan orang Timor pertanda ada kematian dalam keluarga. Demikian juga Petronela, sebelum mengetahui putranya meninggal, sempat merasakan kesedihan yang mendalam dan menangis di dalam kendaraan yang ditumpanginya dari kampung menuju ke Kefamenanu.

” Sore kemarin saya merasa sedih dan seperti kehilangan sesuatu yang berharga tapi tidak tahu apa yang hilang. Ada juga seekor lalat besar terbang terus ke arah saya dan sesuai kepercayaan orang Timor, lalat besar yang datang membawa kabar duka cita, akan ada kematian dalam keluarga. Ternyata saya mendapat kabar anak saya meninggal,” ungkap Paulus sambil menahan tangis.

” Saya merasa sangat sedih sekali dan tidak tahu ada apa, saya sampai menangis di atas kendaraan selama dari Kaubele menuju ke kota Kefamenanu Sabtu (21/10) kemarin. Sampai di Kefa, saya dijemput anak saya, Yaner di terminal dan mengantar saya ke tempat lain. Kemudian dia (almarhum) meminta agar Minggu besok mampir ke dia sebentar saja. Sayapun mengiyakan, tanpa berpikir akan ada kejadian buruk yang menimpanya. Ternyata pagi ini sebelum sampai ke tempatnya, saya dikabarkan dia sudah meninggal,” kata Petronela sambil menyeka air mata.

Korban yang bekerja sebagai security di salah satu Bank swasta di Kota Kefamenanu sejak Januari 2017, dikenal sebagai pemuda yang tidak pernah mengidap suatu penyakit yang berbahaya dan dalam kesehariannya tidak mempunyai masalah dengan pihak manapun.(dit)

Berikan Komentar Anda.