by

LSM Perjuangan Dampingi 800 Odha

KUPANG, Terasntt.com — Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Perjuangan yang bergerak dibidang kesehatan berhasil mendampingi 800 Odha, Ohida, Pekerja Seks Komersil (PSK) serta penderita TBC yang tersebar di beberapa daerah di NTT. Pendampingan dimaksud agar para penderita bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Demikian disampaikan Ketua LSM Perjuangan, Welhelmus Lisnahan saat ditemui Terasntt.com di Kupang, Rabu (8/6/2016).

Menurutnya, dalam proses pedampingan pihaknya menggunakan metode rumah dan rumah sakit.

” Kunjungan rumah kita lakukan untuk melihat keberadaan klien di rumah, persoalan di lingkungan keluarga. Memang sedikit lebih sulit karena stigma yang kadang menutup hubungan kita dengan klien. Untuk itu perlu pendekatan dengan pihak keluarga secara khusus. Dan kunjungan rumah sakit itu kita lakukan untuk membantu akses pelayanan kesehatan berupa pengobatan di rumah sakit. Untuk obat tidak ada kendala pasti terjamin dan tersedia. Yang menjadi kendala adalah kemampuan keuangan klien untuk pemeriksaan,” katanya.

Lisnahan menjelaskan, bahwa dari 800 klien yang didamping, 214 orang berasal dari Kota Kupang yang telah mendapat pelayanan kesehatan.

” Yang sudah kita dampingi khusus di wilayah Kota Kupang sudah 214 orang. Secara keseluruhan pendampingan kita berlangsung di 10 Kabupaten/Kota yang ada di NTT. Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten TTU, Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kabupaten RoteNdao, Kabupaten SabuRaijua, Kabupaten Alor Pantar, dan Kabupaten Lembata dengan secara total kita dampingi 800 an klien,” katanya.

Menurutnya, selain pelayanan pendampingan kesehatan LSM Perjuangan, juga melaksanakan program pemberdayaan ekonomi sejak tahun 2015 dan sudah membentuk 10 kelompok usaha bersama (Kube) yang tersebar di seluruh wilayah dampingan.
” Kita memilki 10 Kube untuk program pemberdayaan ekonomi. Tahun 2015 kita mendapatkan bantuan 10 ekor ternak kambing dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kupang, dan tahun 2016 dapat bantuan modal usaha bagi 16 klien membuka kios, meubel dan usaha ekonomi lainnya, kita tetap berupaya membantu mereka lewat pemberdayaan ekonomi,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Marsianus Hasidian salah seorang pengurus LSM Perjuangan, yang juga sebagai Odha mengaku mendapat pelayanan yang sama dari LSM tersebut sekaligus menjadi pendamping bagi penderita lain sejak dua tahun terakhir.

” Suka duka pasti selalu ada tetapi saya tetap menjalani profesi saya sebagai pendamping dengan mental yang kuat dan saya menikmatinya dengan enjoy aja,” ujar Laki-laki asal Surabaya Jawa Timu (Jatim).

Hasidian mengisahkan pengalaman hidupnya sebagai odha sejak tahun 2008, Ia dinyatakan positif HIV/Aids dan memilih menetap di Surabaya sampai tahun 2010 dan kemudian mengikuti saudaranya untuk tinggal di NTT.
” Saya dinyatakan positif Hiv/Aids itu sejak tahun 2008. Saya menetap di kota Surabaya sampai tahun 2010, kemudian hengkang ke Oesao mengikuti kakak. Tahun 2014 lalu saya dipertemukan dengan pak Welhelmus dan saya bergabung di LSM perjuangan ini sebagai sekretaris,” ujar alumni Universitas Kristen Petra ini.(her)

Comment

Berita Terbaru