by

LMND – APPERA Protes Penggeledahan Mahasiswa oleh Aparat

Kupang, Terasntt.com — Aksi penggeledahan oleh aparat keamanan terhadap mahasiswa di pemukiman BTN, Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menuai protes Aliansi Perjuangan Peduli Rakyat tertindas (APPERA) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Kefamenanu.

Ketua LMND, Valen Kefi mengatakan, tindakan penggeledahan oleh aparat itu tidak memberikan kontribusi yang maksimal untuk menyelesaikan setiap persoalan sosial.

“Kami menilai penggeledahan itu sebagai bentuk teror kepada mahasiswa,” kata Valen Kefi dalam rilis yang diterima media ini, Selasa (28/2/2018).

Dia mengatakan, sebagai bentuk protes, mahasiswa melakukan aksi demonstrasi ke kantor DPRD TTU pada 13 Februari 2018 lalu. Alasan penolakan itu, kata Valen, dalam penggeledahan itu, aparat Polres TTU tidak membawa surat tugas.

Selain itu, polisi dinilai melanggar etika bermasyarakat karena mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan menyiram mahasiswa yang tertidur dengan air saat penggeledahan.

“Penggeledahan terbukti tidak menyelesaikan masalah. Sebab persoalan- persoalan yang sama masih saja terulang,” katanya.

Demikian juga APERRA meminta agar menghentikan penjualan miras di kompleks BTN karena  dinilai sebagai pemicu timbulnya tawuran dan tindakan-tindakan kekerasan fisik lainnya.

Menurut mereka ini merupakan solusi tepat karena perumahan BTN merupakan pemukimanan masyarakat yang didominasi oleh mahasiswa . Juga BTN berada dalam kawasan wilayah teritorial Desa Naiola Kecamatan Bikomi Selatan Kabupaten TTU. Banyak mahasiswa memilih bermukim di BTN karena aksesnya ke kampus lebih mudah sebab bisa dijangkau dengan berjalan kaki saja.

Namun bukan berarti karena penghuninya rata-rata mahasiswa, BTN terbebas dari persoalan sosial. Ada beberapa masalah sosial yang sering terjadi di wilayah tersebut. Seperti, kumpul kebo, miras, tawuran bahkan aborsi yang berujung pada kematian.

Menyikapi persoalan-persoalan ini, pihak kampus Unimor di era kepemimpinan Tonce Berkanis melakukan penggeledahan dan bekerja sama dengan pihak gereja sehingga melakukan nikah masal bagi mahasiswa yang belum memiliki ikatan sah namun suda tinggal bersama (kumpul kebo).

Sejak Oktober 2016 Bupati TTU, Polres TTU serta Satuan Polisi Pamong Praja (POL PP) TTU melakukan sidak di kompleks BTN untuk mengatasi persoalan tersebut, namun kenlnyataannya tidak mampu. Salah satu contoh, kematian seoarang mahasiswi di kos ‘Galilea’ karena upaya pengguguran kandungan oleh sang kekasinya. Selain itu juga persoalan kumpul kebo juga masih terjadi.

Mengatasi hal itu, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Peduli Rakyat tertindas (APPERA) menawarkan solusi antara lain, membangun budaya ilmiah di BTN dan menjadikan BTN sebagai kota pelajar, seperti membangun perpustakan mini yang lengkap dengan jaringan wifi.

Karena menurut APPERA yang menjadi akar permasalahan dari setiap persolan adalah karena mahasiswa terjebak kedalam dunia hedon yang terus berkembang pesat.

Ketua LMND EKOM. UNIMOR, Rio Hala mengatakan, Budaya hedonisme merupakan produk kapitalis, sehingga mahasiswa dijauhkan dari budaya kritis yang akhirnya berkesimpulan subjektif dalam menjalankan aktifitas sosialnya.

“Tuntutan untuk menjadikan BTN sebagai kota pelajar disetujui oleh pihak DPRD TTU, namun hingga saat ini tuntutan tersebut hanya tinggal janji,” katanya.

Dia mengatakan, Ketika BTN sudah menjadi kota pelajar, harus dibatasi aktifitas Polri dan militer di kompeks BTN karena sikap penggeledahan yang tidak menggunakan etika yang baik sangat mengganggu keamanan dan kenyamanan mahasiswa. (raf)

Comment

Berita Terbaru