oleh

Lima Pertanyaan Besar untuk Bundesliga

Jakarta, CNN Indonesia — Setelah jeda musim panas yang dipenuhi dengan drama transfer dan tur pra-musim, kompetisi sepak bola Eropa kini mulai kembali berdenyut, diawali bergulirnya kompetisi Liga Primer Inggris, Sabtu (8/8) lalu.

Satu pekan berselang, giliran Bundesliga Jerman yang akan mulai menyuguhkan pertandingan-pertandingan menarik. Kompetisi elit Jerman yang merayakan ulang tahun ke-53 itu akan diawali dengan duel juara bertahan, Bayern Munich, menghadapi klub dengan segudang potensi tapi tak pernah mampu menunjukkannya, Hamburger SV.

Tapi kisah Bundesliga sendiri bukan hanya soal Munich. Bundesliga adalah ajang berkumpulnya pemain-pemain bertalenta yang seringkali luput dari perhatian dunia. Bundesliga juga yang sering membuat klub-klub raksasa Jerman harus berjibaku menghindari zona degradasi.

Ambil contoh kisah Borussia Dortmund pada musim lalu. Bermaterikan pemain-pemain yang rutin menjadi incaran klub besar Eropa, Dortmund sempat tercecer di zona degradasi, sebelum bangkit di saat yang tepat untuk terhindar dari rasa malu.

Selain itu ada klub kecil dengan anggaran belanja tak lebih dari 30 juta poundsterling, Augsburg, yang mampu berdiri kokoh di antara raksasa Jerman lainnya di peringkat kelima Bundesliga.

Lantas apakah yang akan terjadi di Bundesliga pada musim ini? Berikut adalah lima pertanyaan besar, menjelang bergulirnya Bundesliga 2015/16.

1. Berapa gelar yang akan direbut Bayern Munich?

Bundesliga memang identik dengan Munich. Tak heran pertanyaan besar yang muncul pertama kali adalah, ‘Bagaimana kiprah Munich pada musim ini?’

Bermaterikan pemain-pemain terbaik di daratan Jerman, serta pelatih dengan segudang gelar, Pep Guardiola, standar kesuksesan raksasa Bavaria itu tak lagi sekadar juara Bundesliga, melainkan jumlah gelar yang bisa mereka raih dalam satu musim.

Namun sejak tangan dingin Jupp Heynckes mengantarkan Munich meraih treble (Bundesliga, DBF-Pokal, dan Liga Champions) pada musim 2012/13 lalu, Die Roten masih belum mampu mengulangi kesuksesan mereka tiga musim silam.

Musim ini persiapan Munich lebih sering diganggu dengan isu kepergian Guardiola, yang dikabarkan menjadi incaran utama Manchester City. Hasilnya mereka bahkan kehilangan peluang trofi pertama mereka setelah ditundukkan Wolfsburg di ajang Piala Super Jerman. Padahal, klub sekelas Munich mengukur kesuksesan dari jumlah gelar yang mereka raih dalam satu musim, serta sejauh mana mereka melangkah di Eropa.

Beruntung bagi Guardiola ia masih memiliki tiga kompetisi di depan mata untuk membuktikan dominasi Munich di Jerman. Jadi, berapa piala, Pep?

2. Siapakah yang akan menjadi pesaing Munich?

Jika Munich selalu berada dalam persaingan menuju trofi Bundesliga, pertanyaan besar kedua tertuju pada klub-klub mana kah yang berpotensi menjegal langkah Phillipp Lahm dkk.

Apakah Wolfsburg yang musim lalu bercokol di peringkat kedua serta telah terbukti mampu menumbangkan deretan pemain bintang Munich di laga Piala Super Jerman, awal Agustus lalu?

Atau klub-klub yang berpotensi menjadi kejutan seperti Bayer Leverkusen, Schalke 04, dan Borussia Moenchengladbach? Atau bahkan Borussia Dortmund yang akan memulai musim baru mereka setelah mengalami pasang-surut?

Jika berkaca dari penampilan musim lalu, calon kuat penjegal Munich musim ini adalah Wolfsbug. Dengan catatan Kevin De Bruyne dkk mampu mempertahankan performa mereka pada musim lalu.

3. Apakah Dortmund dapat melupakan Juergen Klopp?

Juergen Klopp kini tak lagi mengarsiteki Dortmund, setelah pelatih eksentrik itu memutuskan untuk jeda sejenak dari dunia sepak bola.

Kini kendali Dortmund berpindah ke tangan Thomas Tuschel, yang memiliki banyak pekerjaan rumah untuk membuktikan dirinya merupakan sosok tepat untuk menggantikan Klopp.

Meski mengakhiri perjalanannya dengan Dortmund dengan tangan hampa, Klopp sendiri merupakan pelatih yang mampu menghadirkan lima trofi dari delapan tahun berada di Stadion Signal Iduna Park. Sebagai tactician, Klopp juga memastikan kerja Tuschel lebih ringan dengan membangun pondasi yang tepat

Dengan duet gelandang serang yang dapat dikatakan terbaik di Bundesliga –Henrikh Mkhitaryan dan Marco Reus– dan juga didukung oleh Ilkay Guendogan yang bermain lebih ke dalam, tugas Tuschel saat ini bukanlah membangun Dortmund.

Tuschel kini hanya tinggal mencari keseimbangan tim untuk menemukan konsistensi permainan mereka.

Sebagai nahkoda baru Dortmund, Tuschel kini harus memastikan dirinya mampu membuat mesin Die Borussen bergerak sempurna, bukan malah membuatnya tenggelam di dasar jurang degradasi.

4. Klub besar mana yang akan tercecer di papan bawah?

Dortmund, Hamburg, Vfb Stuttgart, hingga Werder Bremen sempat membuat jantung suporter mereka berdegup kencang pada musim lalu, saat sempat terpeleset ke zona degradasi.

Padahal klub-klub tersebut merupakan deretan klub yang pernah meramaikan kompetisi elit Eropa, Liga Champions

Dortmund sempat dua tiga pekan berturut-turut berada di zona degradasi, sebelum mengalami perbaikan performa di paruh kedua musim. Sedangkan Hamburg juga sempat enam pekan berada di zona degradasi.

Stuttgart dan Hamburg bahkan seakan lolos dari lubang jarum setelah mereka berhasil menyelamatkan diri di saat-saat terakhir.

Setelah 13 pekan berturut-turut menghuni zona degradasi, Stuttgart bangkit di dua pekan terakhir, hingga berhasil mengakhiri musim di peringkat ke-14. Sedangkan Hamburg lolos dari ancaman degradasi setelah lolos di babak play-off berkat kemenangan atas Karlsruher dengan agregat 3-2.

Selain keempat klub tersebut, klub-klub yang sempat menabur sensasi di Bundesliga seperti FSV Mainz 05, FC Koeln, Hertha Berlin, hingga Eintracht Frankfurt, juga berpotensi menjadi klub-klub besar yang terseret ke zona degradasi.

Apalagi, berbeda dengan liga-liga top Eropa lainnya, nama besar klub seakan-akan tak berarti di klasemen Bundesliga yang penuh dengan kejutan.

5. Siapakah bintang muda yang akan bersinar?

Berstatus sebagai juara dunia, Jerman tak pernah kekurangan stok pemain muda berbakat untuk menghiasi skuat mereka.

Hal itu tak lepas dari banyaknya pasokan pemain bertalenta dari kompetisi lokal. Demikian pula dengan mayoritas klub yang mempercayakan kelangsungan klub kepada para pemain lokal Jerman.

Hasilnya nama-nama seperti Max Kruse, Johannes Geis, Julian Drexler, hingga Max Meyer mendapatkan panggung untuk menunjukkan kebolehan mereka.

Menjelang bergulirnya kompetisi Piala Eropa di Perancis tahun depan, para pemain muda Jerman akan semakin terpacu untuk unjuk gigi, menggoda pelatih tim nasional Jerman, Joachim Loew, untuk melirik mereka.

Kiprah para pemain muda inilah yang juga membuat Bundesliga menampilkan tontonan atraktif penuh energi di setiap pertandingan – satu hal yang akan membuat Loew tersenyum puas, karena pekerjaannya mempersiapkan Die Mannschaft jelang Piala Eropa mendatang menjadi mudah.(CNN)

Komentar