oleh

Ketum Panitia SS GMIT, Dari Dapur Konsumsi Hingga Lapak Pameran Batu Akik

BA’A,Terasntt.com –Ketua Umum Panitia Sidang Sinode Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT) 33 Drs. Ibrahim Agustinus Medah selalu memantau kesiapan personilnya hingga ke hal-hal kecil dan teknis. Bahkan, sebagai wujud apresiasinya terhadap keterlibatan para peserta dari pelosok-pelosok NTT, Ibrahim Medah juga membeli aneka kerajinan warga GMIT yang dipamerkan di lapak-lapak pameran yang ditata mengitari Auditorium Tii Langga, Kabupaten Rote Ndao.

Senator/anggota DPD RI asal NTT itu berkesempatan membeli batu akik jenis Kayu Kenari yang dipasang oleh warga GMIT dari Kabupaten Alor. “Saya beli batu akik glondongan ini untuk mengapresiasi kekayaan alam yang dimiliki bumi kita, juga untuk mengapresiasi keterlibatan warga GMIT dalam acara Sidang Sinode ini,” kata Medah yang ditemui di lapak pameran Warga GMIT dari Alor, Selasa (22/9/2015).

Pantauan wartawan, setiap hari dalam proses persidangan itu, mantan bupati Kupang dua periode itu memantau langsung setiap mata acara yang dilalui dalam setiap sidang.
Bahkan, untuk memantau kepuasan pelayanan panitia, setiap klasis yang menjadi peserta dan pemantau sidang, setiap hari dibagikan formulir untuk mengisi tingkat kepuasan pelayanan panitia penyelenggara untuk setiap seksi.

“Dengan metode ini kita bisa dengan cepat mengetahui sejauh mana pelayanan panitia dan dapat kita lakukan evaluasi untuk memperbaiki kinerja panitia di hari-hari mendatang selama kegiatan Sidang Sinode,” katanya.

Kepada seluruh peserta dan peninjau, Ibrahim Medah meminta agar memaklumi segala kekurangan yang terjadi dalam pelayanan panitia penyelenggara selama masa persidangan. “Kami terus melakukan evaluasi untuk pembenahan setiap harinya agar layanan panitia menjadi lebih baik,” katanya.

Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning yang membawakan materi dalam sidang itu mengatakan, dalam memberikan kepercayaan dan jabatan di pemerintahannya, sejumlah pejabat yang berada pada posisi lawan diakomodir untuk menempati jabatan pada eselon II. “Semua saya akomodir, tidak satu juga yang di luar sistim. Itu pada periode pertama dan pada periode kedua mereka lawan saya, periode kedua saya ajak mereka tapi tidak mau,” kata Haning.

Bupati Haning mengatakan, komposisi pejabat di Rote Ndao 95 persennya Kristen Protestan, Muslim 3 persen, Katolik dan sebagainya 2 persen. “Pejabat eselon II ada 3 orang Islam, Katolik dari mana-mana ada di sini. Dan saya lantik dalam embung, lantik di kandang, lantik di hutan. Karena kita semua datang dari desa. Pejabat eselon II orangtuanya dari desa dan saya ingatkan jangan lupa asal usul,” ujar Bupati Haning.

Dikatakan Bupati Haning, ia terus mengajak masyarakat untuk terus membangun Kabupaten Rote Ndao. “Nemberala sekarang hanya bisa ditempuh dengan waktu 30 menit dari Baa, itu rakyat yang bangun. Pemerintah punya uang, tetapi rakyat yang punya tanah. Berarti pemerintah dan rakyat bersama-sama,” katanya.

Ia menyebutkan, pihaknya telah merancang daerah ini sejak tahun 2009. “Kami terus membangun embung menuju 1000 embung di Rote Ndao. Konsep kami menggusur kemiskinan bukan menggusur orang miskin,” ujarnya.

Bupati Lens berjanji, akan membagikan cincin batu akik kepada semua peserta sidang sebagai tanda mata untuk peserta. “Saya akan kenakan di tangan masing-masing. Ini bukan soal batunya, tetapi bapak ibu peserta pulang dan promosikan kepada semua orang tentang potensi Rote Ndao. Saya siapkan untuk 44 kalsis dan sisanya 60 buah untuk yang lain,” katanya.

Salah satu peserta sidang Pdt. Yohanis Ratu mengatakan, tanah di Rote Ndao sudah banyak dijual kepada orang asing. Ia menyarankan agar harus ada regulasi yang melarang warga untuk menjual tanah ke pihak asing. “Ke depan mungkin ada Perda untuk mengantisipasi daerah-daerah pesisir pantai agar tidak dijual putus tanahnya,” ujarnya.(laurens leba tukan)

Komentar