oleh

Karya Seni Instalasi Bambu Memberi Warna Baru Bagi Taman Budaya NTT

Karya Seni Instalasi Bambu

Kupang, teras-ntt.com — Suasana kawasan Taman Budaya Provinsi NTT tampak beda dengan hadirnya 10 karya seni instalasi bambu berdiri megah di sejumlah titik strategis di seputar halaman Taman Budaya Gerson Poyk.

Karya-karya ini dibuat dari irisan batang bambu yang dirangkai oleh tangan-tangan para seniman kreatif se-Kota Kupang.

Seni instalasi outdoor sengaja dihadirkan dan ditata untuk menyemarakkan agenda kegiatan tahun 2020 UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT yang sudah dimulai pada tanggal 12 Agustus hingga 20 Oktober 2020 di Taman Budaya NTT, Jalan Kejora No.1 Oepoi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Sebagian karya seni instalasi bambu berbagai rupa yang dipajang merupakan hasil lomba dari 10 komunitas seni di Kota Kupang yang berlangsung dari 1- 4 September 2020 pukul 09.00 WITA hingga selesai.

Meurut tim pengamat Yeffry Cornelis Lau, hadirnya spot-spot menarik melalui seni instalasi bambu mulai dari pintu masuk, hingga lingkungan taman, tentunya diharapkan memberi warna beda bagi kawasan Taman Budaya.

” Ini hal yang luar biasa sekali karena selama ini kita tidak pikir kalau anak-anak bisa sekreatif ini dan hal ini merupakan hal yang baru bagi anak NTT jika dibandingkan dengan yang ada di Jawa yang sudah lama berkarya melalui seni 3 dimensi menggunakan bahan bambu,” Pungkas Yeffry.

“ Yang saya mau, dengan ini mereka bisa mengerti bahwa kita bisa menciptakan karya seni dari apa saja bisa, dari benda-benda di sekitar kita pun juga kalau kita mau melihat itu dengan perspektif seni, dengan sentuhan-sentuhan kreatif, sentuhan rasa, otomatis apa saja bisa kita ciptakan jadi sebuah karya seni yang luar biasa, bukan cuma bambu, bisa saja sampah-sampah plastik, bisa saja daun-daun, itu juga bisa kita kemas menjadi satu karya seni yang artistik,” lanjutnya.

Demikian juga harapan lain, bahwa dengan adanya kegiatan ini, mereka bisa membuka wawasan kreatif mereka sehingga bisa terinspirasi dan bisa berinovasi dalam berkarya. Jadi tidak harus berpatokan pada media-media konvensional, media-media yang selama ini lazim mereka pakai. Misalnya mau bentuk sesuatu harus pakai semen, pakai bahan-bahan yang konvensional.

“ Kalau karya-karya miniatur mereka semua ini mampu untuk membuat, tapi kalau karya miniatur itu ditaruh saja dirumah dan cuma mereka saja yang bisa nikmati atau orang didalam rumah saja yang nikmati itu. Tapi ketika mereka membuat karya dengan ukuran besar seperti yang sedang mereka rangkai, mereka taruh di tempat-tempat terbuka, otomatis banyak orang yang bisa nikmati melalui media sosial dan kemudian tersebar untuk berbagai kalangan masyarakat,” ungkap Jeki yang akrab disapa.

karya seni instalasi bambu

Menurut Jeki tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memancing imajinasi para pelaku seni sehingga mereka bisa berinovasi dalam hal pemilihan bahan, teknik dalam berkarya. Adapun harapan lain agar mereka para pelaku seni bisa melihat segala sesuatu yang ada di sekitar mereka bermanfaat, sampah pun bisa bermanfaat. Jadi ketika mereka melihat sampah, bisa dimanfaatkan untuk jadi sebuah karya seni dan otomatis bisa mengurangi sampah dari benda yang tidak terpakai menjadi sesuatu karya yang luar biasa dan bernilai.

Jeki Lau berharap pengunjung selain menyaksikan sajian penyas atau pergelaran seni, mereka bisa merasa terhibur untuk melihat keragaman aksi seni instalasi bambu ini. “ Bisa untuk spot foto, atau trennya selfie, memanfaatkan media garapan seni dari para kreator muda kita,” ujarnya.

Pemasangan karya instalasi ini dapat dinikmati mulai dari pintu masuk Taman Budaya. Karya berupa Moko dari Kabupaten Alor , kepala manusia yang sedang memakai masker, manusia yang sedang mencuci tangan, anyaman bunga yang mekar, bentuk masker , sasando , serta beberapa karya lainnya dengan arti dan makna tersendiri dari masing-masing karya yang dibuat dengan mengusung tema masa pandemi ini.

karya seni instalasi bambu

10 komunitas yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain pemuda gereja, komunitas kreatif dari lingkungan masyarakat, mahasiswa arsitek Universitas Nusa Cendana, mahasiswa arsitek UNWIRA Kupang, serta pemuda-pemuda kreatif lainnya.(et)

Komentar

Berita Terbaru