by

Jika Pancasila Ditentang, Pasti Ada Keinginan Membentuk Negara Baru

KUPANG, Terasntt.com — Pakar Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dedy Manafe, mengatakan jika ada pihak yang ingin menentang Pancasila, tentu ada keinginan  membentuk negara baru. Untuk itu diminta agar jangan ada niat untuk merubah Pancasila yang menjadi fandasi Negera ini.

Demikian terungkap dalam diskusi thematik dengan topik HAM dan Kebebasan Beragama dan Keyakinan yang diikuti kelompok perempuan dan pemuda lintas agama tingkat Kota Kupang yang diselenggarakan Lembaga Rumah Perempuan bekerjasama dengan KOMPPAK dan Cis Timor serta Pemuda GMI, di Hotel Olive Kupang, Jumat (28/4/2017).

Dedy Manafe dalam materinya soal kebebasan bergama dan berkeyakinan mengatakan, bicara soal kebebasan beragama dan berkeyakinan tentunya perlu dilihat kembali soal urutannya dimulai dari Pancasila, UUD 1945 dan yang terakhir pelaksanaan atau implementasinya.

Hal mendasar ini, lanjutnya, perlu diketahui secara mendalam agar jangan ada niat untuk merubah Pancasila yang menjadi pondasi Negara ini.

Ia mengatakan, urutan tersebut sangat penting sebab kebebasan beragama dan berkeyakinan ini tidak saja jatuh dari langit, tetapi hal ini sangat mendasar di Negara Republik Indonesi.

Dedy menguraikan, Pancasila itu memiliki tiga fungsi pokok, maka dari itu, apabila dasar negara tersebut dirubah, hancurlah negara ini.

” Dalam setiap diskusi bersama teman-tema lintas agama, yang sangat radikal sekalipun, saya selalu katakan hal ini,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Dedy, Pancasila adalah pandangan hidup yang membedahkan bangsa ini dengan dengan bangsa lain.

Ia mencontohkan, seperti dikutip dari pernyataan Ketua MUI NTT, Adul Makarim bahwa Islam di Indonesia sama juga Islam di Arab, namun bedahnya, di Arab tidak ada halal bihalal seperti di Indonesia. Artinya ada pendangan tersendiri bahwa pada saat itu semua melakukan halal bihalal bersama yakni saling maaf memaaf satu dengan yang lain, dengan tidak hanya berjabat tangan dan ciuman saja, tapi hubungan batin, hati selalu berkontak dan itu hanya di Indonesia dan di tempat lain tidak ada.

Hal yang sama juga dengan umat Kristen di Indonesia sama dengan Kristen di Israel, tapi selamat Natal dan Tahun Baru hanya di Indonesia yang selama ini dilihat saat hari raya tersebut kita semua lakukan selamat Natal di keluarga dan tetangga.

Sedangkan yang berikutnya soal Ideologi Pancasila yang di dalam lima sila sudah diyakni suatu kebenaran jadi tidak perlu digugat lagi.

Sementara Direktris Rumah Perempuan Kupang, Libby Ratuarat Sinlaeloe saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan diskusi yang diselenggarakan tersebut agar dapat mengetahui informasi terbaru soal HAM yang dipelajari dulu dengan perkembangan saat ini.

” Bagaimana kita bisa mengetahui akan persoalan yang selama ini terjadi baik ditingkat nasional, intenasional hingga di Kota Kupang seperti  belum lama dilakukan oleh GP Ansor yang memprotes soal HPI baik yang ada di Jakarta maupun yang berada di Kota Kupang, serta masalah Ahok yang ramai dibicarakan sehingga dapat memicu terjadinya anarkis,” jelas Libby.

Oleh karena itu, lanjut Libby, kegiatan seperti perlu dilakukan terus menerus guna  memberikan pemahaman bagi kaum muda dan kelompok perempuan agar mengetahui hal-hal yang terjadi dan langka-langka apa yang harus diambil.

” Melalui diskusi walaupun jumlah kecil namun kiranya mampu memginformasikan bagi banyak orang nantinya,” pinta Libby. (raf)

Comment

Berita Terbaru