Home Daerah Jeritan Ibu & Anak Warnai Pengosongan Lahan Di Besipae

Jeritan Ibu & Anak Warnai Pengosongan Lahan Di Besipae

1300
0
SHARE

Suasana Pengosongan Lahan di Besipae (foto istw)

Soe, teras-nnt.com — Pengosongan lahan di Besipae Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, Senin (17/3/2020) diwarnai jeritan dan tangis ibu dan anak – anak setempat. Penertiban lahan milik Pemerintah Provinsi ini dikawal Sat Pol PP dan Kepolisian serta TNI.

Sebanyak 37 KK yang beberapa tahun terakhir bermukim di sekitar tanah milik Pemerintah Propinsi ini akhirnya dibongkar untuk mengembalikan Basipae pada fungsi dan peruntukannya.

Sebelum melakukan penertiban, Kapolres TTS AKBP Arya Sandy terlebih dahulu meminta warga agar tidak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan menimbulkan persoalan hukum.

Jika ada yang merasa dirugikan, Arya mempersilakan untuk menempuh jalur hukum karena pihaknya hanya mengamankan penertiban aset Dinas Peternakan Provinsi.

Suasana menjadi ricuh saat tim bersama pihak keamanan merangsek masuk lokasi penertiban karena beberapa ibu dan anak – anak kecil mencoba menghadang dengan menangis histeris, meronta dan berteriak, bahkan ada yang sampai telanjang.

Hal tersebut tidak menghalangi petugas untuk tetap melakukan pengosongan empat mes milik yang diseroboti warga.

Penertiban terus berlangsung aman dan suasana bisa dikendalikan tim Kepolisian dan TNI.

Kepala badan pendapatan dan Aset Daerah Prop NTT, Sony Libing kepada wartawan mengatakan, pihaknya menertibkan aset pemerintah berupa empat unit mes peternakan yang selama ini ditempati warga.

Ia menjelaskan, abhwa lahan tersebut adalah milik pemerintah dan sudah ada Sertifikat Hak Pakai sejak tahun 1986 seluas
3700 ha sehingga tidak dibenarkan siapapun untuk menempati lahan tersebut tanpa ada surat – surat.

” Setelah lokasi disterilkan, bagi siapapun yang masuk kembali itu adalah pelanggaran sehingga dilakukan tindakan hukum,” tegasnya.

Lebih lanjut kata Libing, sebenarnya Pemrop melalui Gubernur NTT sudah menyiapkan lahan bagi masyarakat 37 KK seluas 800m3 dan akan diberikan sertifikat bahkan masyarakat menjadi bagian dari program pemerintah di wilayah tersebut tahun ini dan ke empat mes yang dikosongkan akan direhab untuk digunakan.

Warga yang mendiami lokasi tersebut terus bertahan dan melakukan perlawanan dengan menangis, menjerit serta berteriak bahkan salah satu warga Niko melakukan ritual sumpah dengan makan tanah sambil mengatakan “jika ini benar tanah kalian maka kalian tiba kembali dengan selamat”.(sys)

Berikan Komentar Anda.