Home Internasional Jadilah Sahabat DI Setiap Musim Kehidupan

Jadilah Sahabat DI Setiap Musim Kehidupan

106
0
SHARE

Oleh: Margarita D. I. Ottu, S.Pd, M.Pd.K

MENJADI sahabat tidak dibatasi ruang dan waktu, tidak tentang siapa yang telah dikenal paling lama tetapi sejatinya menjadi sahabat dan saudara untuk orang lain berarti membangun sebuah ikatan berharga yang kekal.
Arti menjadi sahabat terletak di dalam hati kita, karena menjadi sahabat sejati hanya bisa dirasakan dan tidak diungkapkan karena sesuatu yang begitu murni dan esensial tidak selalu terlihat oleh mata tapi dirasakan oleh hati.

Sudahkah kita menjadi sahabat dan saudara bagi orang lain? Merujuk pada tema Natal “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang (Yohanes 15:14-15)”.

Manusia adalah makluk sosial yang hidup dalam relasi. Artinya, manusia senantiasa memerlukan kehadiran dari manusia lainnya.

Kata “persahabatan” menjadi menarik ketika kita mencoba melihatnya pada konteks dunia saat ini.

Kemajuan teknologi yang pesat, bukan hanya menyebabkan cepatnya arus informasi, tetapi juga munculnya beragam media sosial yang menghubungkan manusia dengan sesamanya.

Manusia yang hidup pada zaman sekarang telah merasakan dampak dari kemajuan teknologi dengan adanya media social.

Media sosial menjadi wadah bagi banyak orang untuk menjalin pertemanan dengan orang lain yang telah ia kenal bahkan dengan orang dari belahan dunia lain.

Hal tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa dunia saat ini disebut adalah dunia yang terhubung dan manusia tidak dapat hidup tanpa terhubung dengan sesamanya.

Persahabatan berasal dari kata sahabat yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai beberapa makna yaitu karib, dekat dan kental.

The Brill Dictionary of Religion memberikan definisi persahabatan (friendship) sebagai “a type of social relationship bearing distinct impresses in the various societies, and not a religious phenomenon”.

Sedangkan menurut Aristoteles (Filsuf Yunani), persahabatan yang sempurna adalah persahabatan yang terarah kepada semua kebaikan, yaitu ketika semua menghendaki perwujudan kebaikan secara nyata dalam relasi dengan sahabatnya, termasuk dalam mengusahakan hal – hal yang berguna dan yang menyenangkan bagi sahabatnya.

Arti sahabat menurut iman Kristen, sahabat adalah seseorang yang mengerti dirimu dan menerimamu apa adanya, sahabat adalah seseorang yang mau berkorban untukmu dan mau memberikan apa yang terbaik yang ada padanya.

Karakteristik persahabatan menurut pendangan Kristen adalah setia, saling membagi, menikmati bersama, memotivasi, membesarkan hati, pengorbanan diri, kasih, dan tantangan rohani.

Persahabatan adalah tindakan menyebrangi diri sendiri kedalam diri sesama lain secara terus menerus. Menyebrangi dan masuk ke dalam diri yang lain bukan tindak meniadakan diri sendiri melainkan pemenuhan dari diri sendiri. Sehingga semakin seseorang menyebrangi diri orang lain maka ia semakin menjadi dirinya. Ia semakin menjadi manusia.
Sebaliknya, semakin ia mengurung diri serta tidak mau berjumpa dan tidak mau menyebrang dengan yang lain maka orang semakin tidak menjadi manusiawi.

Dalam persahabatan, beragam pengalaman gembira, harapan dan kesedihan, dibutuhkan suatu kepekaan dalam persahabatan.
Peran orang Kristen adalah berusaha untuk memulai sebuah relasi atau hubungan yang mengarah pada persahabatan.

Menjadi sahabat berarti menjadi sesama bagi orang lain. Menjadi sesama bagi orang lain berarti menghadirkan suasana home bagi mereka. Kita terpanggil untuk untuk belajar dari praktik persahabatan yang dijiwai dengan semangat keramahtamahan yang bukan sekedar basa basi. Bukan pula sekedar tegur sapa yang ringan.

Untuk menjalin persahabatan dapat dilakukan tatkala setiap orang dapat bersikap santun, saling mengakui secara mutual demi kehidupan yang setara serta saling menerima perbedaan sebagai sebuah kekayaan.

Persahabatan bukanlah sekedar konsep atau tema teologis tetapi persahabatan pada hakikatnya merupakan sikap yang berkaitan dengan praksis, sebuah aksi nyata dalam penataan hidup bersama ke arah yang lebih baik.

Menjadi sesama bagi orang lain bukanlah hal yang muluk. Bukanlah sesuatu yang sangat sukar dilakukan tetapi menjadi sesama bagi orang lain dapat dilakukan dengan memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan (Band. Luk. 6:31).
Orang lain bukanlah ancaman tetapi kawan yang perlu dirangkul, diterima dan dikasihi.

Seorang Penyair Samuel Foss menuliskan, “Biarlah aku hidup di tepi jalan dan menjadi sahabat bagi seseorang” (The House by the Side of the Road). Itulah yang saya inginkan _ menjadi sahabat bagi orang lain. Saya ingin berdiri di tepi jalan untuk menanti para pengembara yang berkelelahan. Untuk mencari mereka yang babak belur dan diperlakukan tidak adil oleh orang lain, mereka yang hatinya telah terluka dan kecewa.

Untuk merawat dan menyegarkan mereka dengan kata-kata yang membangkitkan semangat dan menolong mereka melanjutkan perjalanan. Saya mungkin tidak dapat “membenahi” mereka atau persoalan mereka, tetapi saya dapat memberkati mereka.
“No man is an island”.

Ungkapan ini merujuk kepada manusia tidak dapat menggapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Manusia tidak dapat hidup dalam kesendiriannya. Manusia memerlukan orang lain dalam mewujudkan keberadaannya sebagai manusia. Keberadaan dengan yang lain inilah yang menunjukkan bahwa ia adalah manusia.

Natura dari manusia adalah “bersama-dengan-yang lain”. Sehingga dari yang lain manusia dapat belajar darinya, bekerjasama dengan yang lain dan merangkai sejarah hidupnya bersama dengan yang lain. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17).

Sebuah ungkapan klasik, seberapa banyak irisan yang bisa kau bagi dalam sebongkah roti, tergantung seberapa tipis engkau memotongnya. Seberapa banyak kebaikan dalam satu hari, tergantung seberapa bijak engkau menjalaninya. Seberapa banyak cinta dalam hati seorang sahabat, tergantung seberapa banyak yang engkau bisa berikan kepada mereka. Oleh karena itu jadilah sahabat yang mampu merasakan apa yang mereka rasakan.

Natal merupakan sebuah kesempatan untuk bersolidaritas dan berempati dengan sesama sama seperti yang sudah dilakukan Tuhan Allah dalam diri Yesus Kristus. Natal membantu kita untuk menggapai hidup baru yang bermakna, yang semakin solider dan berempati.

Natal itu indah ketika kita memperlakukan manusia sebagai sesama yang terbaik. Natal itu bermakna ketika kita semua hidup dalam suasana yang harmonis karena ada rasa solidaritas dan empati yang kita miliki dalam kebersamaan sebagai sesama manusia.

Natal mengubah hidup lama menjadi baru dalam Kristus karena terang-Nya yang menghalau segala kegelapan hidup kita , sebuah kasih karunia yang membaharui dan menjauhkan dari rasa takut. Natal adalah keutuhan dan kedamaian yang membuat kita benar-benar menjadi anak – anak Allah dan menjadi harapan baru bagi kita untuk menggapai hidup baru yang bermakna dalam Kristus yang lahir bagi kita.

“Yesus yang lahir ke dunia dan hidup adalah untuk mengasihi dan menjadi sahabat bagi kita semua. Kita adalah sahabat Yesus Kristus dan Yesus Kristus adalah sahabat kita yang setia. Kita semua bukan lagi sebagai hamba-Nya tetapi adalah sahabat Yesus”.

Menjadi sahabat tidak hanya untuk mereka yang dikenal, yang adalah orang-orang pilihan, yang adalah saudara atau bahkan mereka yang pernah atau telah berbuat baik terhadap kita. Menjadi sahabat juga tidak hanya pada waktu tertentu tetapi sejatinya menjadi sahabat adalah untuk mereka yang sekalipun bukan saudara atau mereka yang tidak dikenal akan menjadi sahabat dan saudara di setiap musim kehidupan. Mengakui diri sebagai seorang sahabat tidak hanya sebatas kata – kata yang terucap tetapi membutuhkan sebuah tindakan nyata sebagai wujud pengakuan menjadi sahabat.

Momen Natal yang agung ini menjadi kesempatan bagi umat Kristen untuk merenungkan bagaimana kita harus menyambut serta menghayati kehadiran Yesus Kristus Sang Juruselamat yang mengubah kegelapan menjadi terang, kebencian menjadi kasih dan menerima perbedaan dengan sikap saling menghormati. Pesan cinta kasih ini mengisyaratkan terkuaknya nilai – nilai luhur perdamaian, kerukunan, dan pengertian dan menjadi inspirasi bagi kita untuk memperkuat dan merawat persaudaraan di setiap musim kehidupan.

Merayakan Natal dalam terang kehadiran Ilahi membuktikan sebuah persahabatan yang berlandaskan cinta kasih sebagai wujud panggilan bagi kita untuk keluar dari sekat –sekat suku, budaya, agama dan lain sebagainya serta panggilan inipun bagi kita semua untuk menjadi murid sejati dan mampu mempraktikan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga, Gereja dan masyarakat.
Jadilah pelaku kasih yang sejati bagi sesama dan jadilah sahabat bagi semua orang.

Selamat merayakan Natal 25 Desember 2019.(terasntt.com)

Berikan Komentar Anda.