oleh

Hutan Mangrove Oesapa, Ekowisata Yang Perlu Dilestarikan

KUPANG, teras-ntt.com — Hutan Mangrove yang terletak di Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, menjadi salah satu objek wisata andalan Kota kupang Nusa Tenggara Timur. Ekowisata alam yang ikut mendongkrak ekonomi masyarakat ini perlu dilestarikan dan ditata lebih indah hingga mampu menarik minat wisatawan. Di tengah pandemi omzet ekowisata tersebut menurun akibat pembatasan kunjungan juga sedikit rusak akibat badai Seroja bulan April 2021 lalu.

Dina Paskah Nelly salah satu pengunjung saat ditemui teras-ntt.com di bilangan ekowisata itu, Sabtu (9/10/2021) mengatakan, bahwa ekowisata mangrove ini sangat indah dan suasananya pun begitu tenang karena itu layak untuk dinikmati.  

“ Tempatnya masih bagus dan layak untuk dinikmati dengan suasana yang begitu tenang. Kita sangat menikmati keindahannya. Saran kami, kayu-kayu yang sudah rusak dapat diperbaiki agar tempatnya tetap menarik dan semakin ramai dikunjungi masyarakat dan juga wisatawan lain di kota Kupang,” kata Nelly. 

Di tempat berbeda penjaga ekowisata setempat, Enki Pan mengungkapkan, bahwa pihaknya selalu menjaga kebersihan agar pengunjung yang datang bisa merasa nyaman sambil menikmati keindahan dari tempat wisata ini. 

” Kami selalu menjaga kebersihannya agar pengunjung merasa nyaman dan bisa menikmati keindahannya dengan sukacita. Di masa pandemi ini pengunjung yang  datang tidak banyak tak seramai dulu. Setiap orang yang  masuk wajib membayar retribusi sebesar Rp.5000  per-orang termasuk kendaraan roda 2 maupun  roda empat,” katanya.

Terkait kerusakan sarana pada objek wisata tersebut, lanjut Engki  konsultan sudah melakukan survey untuk perbaikan, akibat pandemi maka belum ditindaklanjuti.

” Kami berharap semoga pemerintah daerah bisa membangun ekowisata mangrove menjadi lebih baik dengan kerjasamanya,” tandasnya. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa awalmembangun tempat wisata ini lewat program IFAD agar Ekowisata tersebut menjadi menarik untuk dikunjungi dan keamanan tetap terjamin serta penerapan protokol kesehatan yang ketat.

” Awal pembangunnya dari yayasan IFAD. Agar ekowisata ini menarik untuk dikunjungi, kami selalu menjaga kebersihan, karena kebersihan paling diutamakan. Dan kini sudah dikenal banyak orang. Untuk itu kami mulai membuat aturan jika ingin berwisata harus membayar. Uang yang diperoleh dari pengunjung kami manfaatkan untuk renovasi lebih baik,”ujarnya. 

Objek wisata mangrove Oesapa Kupang

Menurutnya objek wisata mangrove ini belum diresmikan atau diserahkan kepada dinas Pariwisata sehingga belum bisa mengeluarkan karcis bukti pembayaran retribusi. 

“ Tempat ini belum diresmikan oleh pemerintah sehingga belum bisa menerbitkan karcis masuk. Bisa dibilang bahwa tempat ini belum jadi tempat wisata seperti lasiana Beach. Kami hanya bisa membuat aturan setempat agar wisatawan yang masuk  membayar sejumlah uang untuk biaya pemeliharaan lingkungan dan perbaikan sarana yang ada,” ungkapnya.

Pantauan wartawan, hutan mangrove ini sangat bagus apalagi dikunjungi wisatawan untuk bersantai, berfoto dan banyak juga spot-spot yang menarik yang bisa jadi baground foto selfie ataupun foto prewedding. 

Setiap pengunjung selalu punya cara untuk menikmati keindahan hutan mangrove ini, ada yang duduk berkelompok ada pula berjalan mengitari hutan sambil menghirup udara dan menikmati Sepoi angin pantai.(sv)

Komentar