oleh

HIV dan AIDS Jadi Topik Diskusi di SS GMIT

BA’A, Terasntt.com — Sidang Sinode Gereja Masehi Injil di Timor (SS GMIT) ke 33 kini memasuki tahap-tahap terakhir. Rabu (30/9/2015) di Auditorium Ti’i Langga Kabupaten Rote Ndao, berlangsung agenda pleno hasil komisi H yang membahas tentang pemakaman orang mati dan penerimaan serta perpindahan anggota jemaat.

Sejumlah isu dibahas dan ditetapkan dalam persidangan alot itu. Namun yang menjadi sorotan peserta ketika salah satu peserta dari Pemuda GMIT Haris Oematan mengemukakan, jemaat sering melakukan diskriminasi tidak saja kepada Orang Terinveksi HIV (OTH) yang masih hidup tetapi sampai meninggalpun masih dilakukan diskriminasi.

“Karena pemahaman kita yang masih lemah terhadap pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di kalangan jemaat dan pelayan sehingga membuat kita bertindak diskriminatif sampai kepada jenasah,” kata Oematan yang sontak membuat ratusan peserta SS GMIT terhenyak.

Dijelaskan Oematan, beberapa peristiwa terjadi di wilayah pelayanan GMIT bahwa jemaat yang datang menghadiri ibadat pemakaman orang meninggal karena HIV malah mencari posisi duduk berdasarkan arah angin dengan posisi jenasah dibaringkan.

“Anggapan mereka bahwa kalau dia duduk menghadap jenasah dan jika angin yang berembus dari jenasah dan melewati dia maka virus itu akan menghinggapinya dan dia tertular. Ini prilaku diskriminasi yang sangat zadis dari jemaat kita kepada jenasah, ini nyata terjadi di Neukbaun,” katanya.

Ia berharap, SS GMIT Ke 33 ini dapat memberikan kenyamanan kepada seluruh jemaat khususnya bagi jemaat yang meninggal dunia akibat penyakit-penyakit khusus.

Pimpinana sidang pleno Pnt. Thoby Mesakh pada kesempatan itu mengapresiasi gagasan yang disampaikan oleh Haris Oematan. “Masukan ini penting dan akan dijadikan rekomendasi bagi Majelis Sinode GMIT terpilih untuk memperhatikan hal-hal seperti ini,” katanya diakui juga oleh pimpinan sidang pleno lainnya Pdt. Julian Widodo, S.Th.(laurens leba tukan)

Komentar