oleh

Golkar, Dari NTT Untuk Indonesia

Bendera Partai Golkar

Kupang, teras-ntt.com — Napoleon Hill , seorang penulis ternama dunia mengatakan, jangan pernah menunggu, tak ada waktu yang tepat untuk memulai. Mulailah dari titik dimana Anda berdiri dan kemampuan Anda miliki. Kemampuan yang lebih baik akan muncul dalam perjalanan.

Membangun kesadaran politik membesarkan partai hingga menjadi partai yang gemilang, solid dan terus berkarya hingga saat ini tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi mulailah dari titik dimana kita berdiri dan kemampuan yang kita miliki. Semuanya itu melalui proses perjuangan yang panjang, penuh pengorbanan dan keringat. Mereka yang berjasa dan masih berkiprah untuk partai dan bangsa dengan pikiran dan tenaga merupakan kader terbaik partai yang dimiliki Golkar. Dan mereka yang berjasa walaupun raganya tak lagi bersama tapi semangat dan karyanya selalu tepatri dijiwa partai sebagai kuning emas sejarah membangun Indonesia. Ibarat beringin yang selalu rimbun, kokoh melindungi dan meneduhkan hati saat pundak bersandar menjaga asa dan cita-cita agar tetap setia karena kesetiaan adalah garis ideologi yang tak terhapus masa.

Partai Golongan Karya yang sebelumnya bernama Golkar dan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) berdiri sejak tahun 1964 dan merupakan partai politik di Indonesia. Partai yang sedari dulu konsisten di Garda terdepan memperjuangkan persoalan bangsa dari masa ke masa melewati suka dan duka pergulatan politik di Indonesia.

Di era orde baru, Golkar selalu memenangi kontestasi politik yakni Pemilu tahun 1971,1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Namun banyak yang beranggapan bahwa kemenangan tersebut karena pemerintahan soeharto mendukung dengan membuat kebijakan monoloyalitas PNS. Namun Politik memang terkadang sukar dijelaskan dan hanya sebuah cerita masa lalu. Tahun 1998 merupakan masa sulit bagi Golkar. Setahun kemudian, pada pemilu 1999, Partai Golkar menduduki peringkat kedua dengan perolehan suara 23.741.758 suara atau 22,44% dari suara sah. Dan pada tahun 2004 partai Golkar memenangi pemilu legislatif dengan meraih 24.480.757 suara atau 21,58% dari keseluruhan suara sah.

Partai Golkar jelas berbeda. Konsolidasi sruktur kepartaiannya sangat solid, kokoh dan mengakar dari pusat sampai ke pelosok daerah. Banyak kader muda lahir dan dibesarkan di partai ini bahkan menjadi pemimpin partai seperti Djuhartono, Suprapto Sukowati, Amir Moertono, Wahono, Sudharmono, Harmoko, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Setya Novanto dan Airlangga Hartarto.

Banyak pemimpin partai politik sekarang ini ada juga yang sebelumnya dari Golkar. Hal ini membuktikan bahwa kaderisasi poitik kepemimpinan di partai Golkar berjalan sangat baik hingga ke daerah. Salah satu daerah yang banyak melahirkan kader terbaik Golkar adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah provinsi kepulauan terletak di Indonesia bagian timur ini penyumbang kader politik Golkar yang selalu konsisten berjuang di garis politik Golkar, berkarya demi masyarakat, dari NTT untuk Indonesia.

Golkar NTT

Bergerak dari pelosok, seiring terbitnya matahari dari timur, partai ini mulai mengepakkan sayapnya. Lahir di era 1965 saat situasi Negara sedang goyah dengan adanya gerakan komunis, tak membuat sirna asa para kader untuk mendirikan partai berlambang beringin ini. Beringin selalu menjadi kekuatan, kokoh melindungi dan meneduhkan segala persoalan, itulah yang memacu semangat seorang perwira yang bernama Josea Nehemia Manafe. Lahir di Rote Ndao, 11 Juni 1933. Pria yang akrab disapa JN Manafe ini bertekad untuk mendirikan partai Golkar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Motivasi dan tekadnya untuk membangun partai sangat kuat meskipun keadaan negara sedang goyah. Berkat kerja keras dan niat yang tulus akhirnya terbentuklah Sekber Golkar NTT hingga sekarang bernama Partai Golongan Karya di NTT.

Kini, Bapak J.N. Manafe memasuki usia senja namun semangat nasionalisme dan kepartaiannya masih kokoh seperti filosofi beringin kuat dan tak tergoyahkan. Hal ini nampak saat ia mengulas sejarah berdirinya partai berlambang beringin ini ketika menghadapi Pemilu tahun 1997 silam. Dengan penuh semangat, ia mengisahkan partai Golkar kala itu.

“Saya yang saat itu sedang aktif menjadi perwira di jajaran TNI, diperintahkan untuk menjadi konseptor pembentukan Sekber (Sekretariat Bersama) dan berhasil pada tahun 1964 ditugaskan untuk membentuk Sekber bersama dengan Pak Jhon Adi yang saat itu sebagai dosen di Undana,” kenangnya.

Perjalanan karirnya tidak sampai disitu, pada tahun 1974, ia ditugaskan menjadi Komandan Kodim Kupang. Dalam perjalanan memimpin Kodim Kupang, tepatnya di tahun 1975, ia diangkat menjadi Ketua Partai Golkar Provinsi NTT untuk menghadapi Pemilu tahun 1977.

“Saya ingat pada pemilu pertama tahun 1971 Partai Golkar di NTT saat itu dipimpin oleh Pak Ben Mboi, menang 66 persen. Saat kami memimpin dan menghadapi Pemilu tahun 1977 Golkar menang 90 persen di NTT. Kemenangan itu lantaran dalam proses rekrutmen kader, Golkar selalu mengedepankan azas pemerataan dan keadilan,” ungkap pria yang akrab disapa Oos ini.

Memimpin dan membesarkan partai Golkar di NTT tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kendala, suka dan duka dilewatinya dengan kesabaran. Dia mengakui pada tahap awalnya sangat sulit merekrut generasi muda berpendidikan sarjana untuk bergabung dengan Sekber Golkar. Kendala itu karena kelompok generasi muda berpendidikan S1 di Kupang ketika itu selain masih sangat langkah, juga sudah bergabung dengan partai lain. Namun, syukurlah. Dalam kesulitan itu, ia masih berhasil mengajak beberapa generasi muda, meski jumlahnya terbatas. Mereka di antaranya John Adjid, SH., dosen muda pada Fakultas Hukum Undana Kupang, bergabung dengan Sekber Golkar saat rintisan awalnya.
John Adjid (alm) adalah jebolan Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, tahun 1965.

Teringat pesan beliau kepada kader dan pemimpin Partai Golkar NTT bahwa berikan keadilan untuk semua orang, dengan itu tentunya akan menghindari perpecahan.

“Ingat pesan saya, berilah keadilan untuk semua orang. Saya yakin dengan itu tentunya akan menghindari perpecahan,”ujarnya.

Banyak tokoh terlahir dari partai ini yang kemudian menjadi pemimpin di Nusa Tenggara Timur, seperti Ben Mboi, El Tari, Hendrikus Fernandez, Herman Musakabe, dan Piet Alexander Tallo.

Segala pesan kehidupan mereka sampaikan melalui program-program pemerintahan dalam pembangunan NTT.

Salah satu tokoh Partai Golkar NTT yang juga pernah menjabat Gubernur NTT periode 1993-1998 Herman Musakabe, mengatakan bahwa dengan segala pasang surutnya, Partai Golkar telah membangun NTT melalui kader-kader dalam beragam profesi. Belajarlah dari masa lalu. Ambilah hal-hal positif untuk dikaitkan dengan masa kini. Berjuanglah bersama rakyat. Peran Golkar merupakan bagian sejarah provinsi NTT. Ini merupakan modal dasar meningkatkan partai ke depan.

Tidak sekedar pesan tapi tindakan nyata telah dilakukannya. Ide besar yang ia cetuskan adalah mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mengenakan seragam motif yang pada akhirnya berdampak luas secara nasional. Karena setelah memberlakukan seragam motif, wilayah lain di belahan negeri ini ikut mewajibkan seragam motif sesuai motif daerah masing-masing.
Pemberlakuan seragam motif merupakan implementasi atau perwujudan dua dari tujuh Program Stragis Pembangunan yaitu Pembangunan Ekonomi dan Pengembangan Kepariwisataan.

Herman Musakabe adalah Pemimpin yang menghormati kebudayaan, religius, dan bijak dalam melaksanakan dan membuat terobosan program sesuai dengan keadaan onjaktif masyarakat NTT saat itu. Ini terlihat dari 7 Program Strategis Pembangunan NTT, yakni: Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penanggulangan Kemiskinan, Pembangunan Ekonomi, Pengembangan dan Pemanfaatan IPTEK, Penataan ruang, Pengembangan Sistem Perhubungan, dan Pengembangan Kepariwisataan.

Tak hanya itu, mantan Sekretaris Sekber Golkar NTT ini juga pencetus nikah massal di NTT. Baginya, berbuat baik kepada orang lain itu penting dan ia sangat merasakan manfaatnya. Karena ia pernah merasakan, pada saat-saat tertentu seringkali mendapatkan bantuan atau kebaikan dari orang lain. “Tuhan memang membalas setiap kebaikan yang diperbuat pada saatnya,”ungkap Herman Musakabe.

Kini estafet kepemimpinan kader penerus partai Golkar terus berlanjut hingga sekarang. Berjuang dikoridornya masing-masing baik di pemerintahan maupun legislatif, Seperti, Ibrahim Medah, mantan Ketua DPD 1 Golkar NTT yang juga mantan Bupati Kupang dua periode, Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua Korbid Pemenangan Pemilu (PP) Indonesia Timur yang juga Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dan Ketua DPD 1 NTT Partai Golkar, Melkias Markus Mekeng yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar dan Ketua Komisi XI DPR RI, Ketua Pemenangan Pemilu (PP) Wilayah NTT DPP Partai Golkar yang juga Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Wakil Ketua DPD 1 Golkar NTT yang juga Ketua Tim Peduli Covid-19 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Sarong dan masih banyak lagi kader muda yang tersebar hampir di seluruh pelosok NTT.

Hari ini, Golkar NTT telah memberikan banyak pelajaran berarti, tidak hanya mengurusi poltik tapi partai yang sedari dulu berjuang bersama rakyat ini juga memberikan sumbangsih dan rasa kepeduliaan yang tinggi dengan kemampuan yang ada pada partai di masa pandemi ini kepada masyarakat. Rasa kepedulian sebagai sesama manusia dan solidaritas inilah yang membuat partai ini terus berkarya dan berkembang seiring perkembangan zaman yang semakin maju.

Saat ini situasi bangsa tengah terpuruk di terpa bencana covid-19 yang menghantam segala lini kehidupan masyarakat. Ekonomi dan kesehatan menjadi salah satu yang sentral untuk pembangunan negara.

Dalam kondisi bangsa yang sulit ini, Partai Golongan Karya Nusa
Tenggara Timur (NTT) terus hadir dan membuktikan diri sebagai partai politik yang peduli terhadap misi kemanusiaan melawan virus corona atau Covid-19 dengan membagikan ratusan masker kepada portir, pedagang kaki lima, security dan sejumlah penumpang di Pelabuhan Tenau Kota Kupang.

Tak hanya membagikan masker, Partai Golkar NTT juga menyerahkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) kepada Pemerintah Kabupaten Kupang. Dan masih banyak lagi yang diberikan partai ini untuk masyarakat tapi pada intinya membantu masyarakat dan saling menolong adalah ciri khas kita orang NTT.

Bantuan APD ini diserahkan langsung oleh Ketua Tim Peduli Covid-19 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) partai Golkar NTT, Frans Sarong.

“Bantuan APD dan obat-obatan yang diberikan kepada Pemkab Kupang ini untuk membantu menangani masalah Covid-19. Ini merupakan bentuk kepedulian dari DPP Golkar dan DPD I Golkar NTT untuk 22 Kabupaten/Kota se-NTT,” kata Frans Sarong.

Wakil Ketua Golkar NTT yang juga Wartawan Kompas periode 1985 – 2016 ini selalu peka terhadap masalah kemanusiaan. Menurutnya kemanusiaan adalah nilai yang tidak bisa diukur dengan apapun di dunia ini. Karena “Kekuasaan itu Poin Bukan Koin”.

Selain itu, seiring berjalannya waktu Golkar NTT terus berbenah. Perubahan selalu dimulai dari sisi kemanusiaan dengan kekuatan struktur konsolidasi basis yang memumpuni di segala lini membantu masyarakat NTT sesuai dengan cita -cita UUD 1945 dan visi misi pemerintah Provinsi NTT yaitu menuju NTT Bangkit dan Sejahtera.

Sekarang Partai ini menatap masa depan perubahan. Perubahan itu membutuhkan perjuangan. Perjuangan itu berkeringat, banyak peluh membasahi di tubuh, tapi prinsipnya sejarah lahir dari intergritas sebuah karya, ciptakan karya itu agar sejarah mencatat bahwa kita pernah berbuat demi bangsa dan Negara. Golkar dari NTT untuk Indonesia. ( Wuran Ivan)

Komentar

Berita Terbaru