Home Profil Flores Timur Masih Miskin

Flores Timur Masih Miskin

822
0
SHARE

Oleh : Agustinus Siswani Iri Rohaniawan Keuskupan LarantukaTinggal di Bandung

Kupang, teras-ntt.com — Flores Timur dari dulu sampai dengan sekarang masih miskin. Masyarakat Flotim belum lepas landas dari program pengentasan kemiskinan. Masyarakat Flores Timur masih berteriak air, listrik dan jalan raya terlebih warga yang ada di pelosok pelosok kampung. Masih juga terlihat warga yang tergolong miskin yang rumahnya termasuk rumah yang tidak layak huni, tidak dapat membiayai pendidikan anak-anak, kurang mampu membeli bahan sembako, dan kekurangan gisi. Banyak warga miskin juga yang tidak memiliki pekerjaan dan menjadi pengangguran. Anak-anak warga miskin masih berteriak makan pagi, siang dan malam, berteriak meminta sepatu dan sendal yang baru, berteriak minta seragam yang sudah tidal layak, berteriak minta buku tulis, berteriak melanjutkan ke perguruan tinggi, berteriak mencari lapangan pekerjaan.
Program pembangunan telah didengungkan dan dilaksanakan dari pemerintah yang satu kepemerintah yang lain di selama ini. Dana dalam jumlah yang besar juga sudah digulirkan kepada masyarakat. Pertanyaan mendasar yakni mengapa kemiskinan Flores Timur belum teratasi dari masa kemasa? Lalu dimana letak kesalahan dalam pembangunan di Flores Timur sejak dahulu kala? Kemiskinan di Flores Timur lebih pada faktor struktural yang dibuat oleh manusia, baik struktur ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Meskipun masyarakat miskin bekerja keras membanting tulang sepanjang hari, memeras keringat sepanjang hidup, karena struktur ekonomi dan sosial yang tidak adil, mereka tetap saja terkurung dalam kemiskinan. Mereka tak berdaya memperbaiki hidupnya meski bekerja sepanjang hidup. Bahkan kemiskinan itu menurun keanak cucu mereka. Para ahli menyebutnya dengan istilah the vicious circle of poverty (lingkaran setan kemiskinan). Para ahli mendefenisikan lingkaran setan kemiskinan adalah fenomena dimana keluarga miskin terjebak dalam kemiskinan sedikitnya dalam tiga generasi. Selain itu tak heran jika warga Flores Timur yang miskin masih tetap ada ketika para pemimpin daerah Flores Timur dari periode ke periode selama ini mengklaim sudah sukses menurunkan angka kemiskinan. Kontradiksi-kontradiksi ini dan juga tudingan pihak diluar pemerintahan yang mengklaim keberhasilan pemerintahan Flores Timur dari masa ke masa yang tak sejalan dengan yang terjadi dilapangan. Upaya penanggulangan kemiskinan semata dipahami sebagai program pemberantasan kemiskinan, bukan strategi dan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Akibatnya, upaya mengatasi kemiskinan cenderung dijawab hanya dengan program untuk orang miskin yang dibiayai dengan dana negara. Akibat pemahaman yang kurang tepat ini, kinerja pemberantasan kemiskinan lebih banyak diukur dari berapa besar dana APBN dan APBD yang dialokasikan untuk program penanggulangan kemiskinan. Pertanyaan muncul, apakah dana-dana tersebut sudah dikelola secara efisien dan seefektif mungkin?
Pembangunan bukan saja mengangkat orang miskin tak sekedar keluar dari kemiskinan tetapi juga menciptakan kelas menengah baru dan tumbuhnya pengusaha-pengusaha baru dari kelompok miskin di pelbagai sektor. Suatu pemerintahan dikatakan gagal jika yang sejahtera hanya para pejabat, politisi dan pengusaha-pengusaha yang dekat dengan kekuasaan atau mereka yang punya akses, sementara kelompok miskin dan kelompok marjinal lainnya makin termajinalkan. Selain itu jangan sampai sebagian besar APBN dan APBD terkuras untuk belanja rutin alias membiayai birokrasi yang ternyata tak mampu secara maksimal menjalankan fungsinya, sehingga justru lebih banyak jadi penghambat pertumbuhan ekonomi dan penyejahteraan rakyat. Ada dugaan-dugaan selama ini anggaran untuk belanja pegawai, tunjangan fasilitas, dan biaya perjalanan terus meningkat sementara pada saat yang sama anggaran untuk subsidi dan belanja sosial justru turun.

Untuk meningkatkan kesejahteraan orang miskin di Flores Timur bukan hanya pekerjaan pemerintah tetapi semua elemen masyarakat. Semua elemen mesti giat dalam pembangunan pengentasan kemiskinan di Flotim. Pengentasan kemiskinan mestinya diawali dengan pertanyaan strategi dan kebijakan apa yang diperlukan? Bukan sekedar program apa? Perubahan strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan dilakukan secara bersama dan menyeluruh. Bukan bertahap atau hanya fokus pada beberapa sektor ekonomi. Strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan dilakukan untuk menjaga daya beli kelompok miskin dan meningkatkan daya saing produk dan jasa kelompok miskin untuk meningkatkan pendapatan. Pembangunan dari desa yang dicangakan oleh presiden Jokowi mestinya tetap dikawal oleh semua elemen yang ada. Selain itu diharapkan pemerintah mesti terus menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN. Lebih lanjut lagi bahwa kultur warga masyarakat miskin mesti perlu diubah. Banyak tekanan budaya yang juga memiskinkan masyarakat. Program-program penyadaran akan pentingnya peningkatan etos kerja, belajar disiplin, rajin bekerja dan tidak menyerah pada nasib terus perlu dilakukan melalui forum pendidikan warga. Pemerintah desa diharapkan tidak hanya melaksanakan pembangunan fisik tetapi juga pembangunan sumber daya manusia karena sumber daya manusialah yang pertama-tama yang dapat mengatasi kemiskinan tersebut.(*)

Berikan Komentar Anda.