by

Ketua FAO NTT : TTU Harus Jadi Pusat Pengolahan Lahan Kering

KEFAMENANU, Terasntt.com —
Manager Proyek Nasional Food and Agriculture Organization (FAO) – PBB Indonesia, wilayah NTT, Ujang Suparman berharap Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) bisa menjadi Pusat pengembangan pengolahan lahan  kering. Ia meminta masyarakat petani untuk melestarikan lahan melalui beberapa langkah terutama mengembangkan kebiasaan nenek moyang, yakni menanam jagung dengan kacang – kacangan.

Demikian dikatakan Ujang dihadapan ratusan petani, tamu undangan baik Pemerintah Provinsi maupun kabupaten pada  acara panen perdana jagung di Desa Pantae, Kecamatan Biboki Selatan TTU, Rabu (22/3/2017).

” Saya mengajak masyarakat petani untuk menerapkan pola dan melestarikan lahan dengan beberapa langkah seperti penambahan pupuk organik, menutupi permukaaan tanah dengan bahan organik, tidak membalik tanah sembarangan lantaran hasil analisis global lahan tidak perlu terlalu dibalik sehingga tidak terlalu hanyut dengan erosi. Dan mari kita kembangkan kembali kebiasaan nenek moyang, menanam jagung dengan kacang – kacangan sebagai sumber urea kita. Dengan demikian, Kabupaten TTU bisa menjadi Pusat pengembangan pengolahan lahan  kering dengan memanfaatkan alokasi anggaran lahan kering yang telah disiapkan oleh pemerintah,” katanya.

Sebanyak tiga ratus lebih petani di Desa Pantae, menghadiri sekaligus memanen jagung sebanyak 7,7 ton dari luas lahan garapan 2,57 Ha.

Hamparan jagung yang dipanen dari lahan seluas 2,57 Ha ini merupakan sistim tanam menggunakan pola modern pada tiga kelompok tani di desa tersebut, masing – masing kelompok Nias’ana, Kamboja dan Tefpah atas kerjasama dan dampingan  FAO serta Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) menggunakan metode konservasi.

Direktur YMTM, Joseph Maan kepada Terasntt.com mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian bekerjasama dengan FAO dalam pengembangan pertanian Konservasi (PK) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

” Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian bekerjasama dengan FAO dalam pengembangan pertanian Konservasi (PK)  di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengantisipasi perubahan iklim juga lahan kering yang semakin kurang produktif.

Di Provinsi NTT, PK telah dilaksanakan di beberapa kabupaten termasuk kabupaten TTU. Dan di TTU, FAO bekerjasama dengan Dinas pertanian dan YMTM sebagai mitra pelaksana lapangan dalam mendampingi kegiatan pendampingan PK di tingkat kelompok tani bekerjasama dengan para penyuluh lapangan. Pendampingan kelompok tani dilakukan melalui pendekatan Sekolah lapangan Pertanian Konservasi,” jelas Maan.

Maan juga mengaku, sejak tahun 2014 di kabupaten TTU telah dilaksanakan pendamping SLPK terhadap dua ratus lebih kelompok tani dan sebagian besar telah menerapkan teknik pertanian konservasi.

” Sejak Maret 2014 hingga saat ini di Kabupaten TTU telah melakukan pendampingan SLPK terhadap 276 kelompok tani dengan 5.265 anggota tersebar di 43 desa. Dan sebanyak 4.586 anggota kelompok tani telah menerapkan teknik Pertanian Konservasi di lahan masing – masing,” katanya.

Ia juga membenarkan upaya pelestarian lahan dengan menuggunakan pupuk organik seperti yang disampaikan Manajer Proyek Nasional FAO wilayah NTT, Ujang Suparman.

” Rata – rata hasil jagung dengan pendekatan PK 4,1 ton per hektar sedangkan cara konvensional 2,0 ton per hektar. Tanaman jagung dengan tehnik PK juga lebih tahan terhadap curah hujan yang tidak menentu jika dibandingkan dengan metode konvensional. Di beberapa tempat yang sebelumnya petani hanya menanam satu kali pertahun, dengan pendekatan PK mereka dapat menanam jagung pada musim kedua karena kelembaban tanah dipertahankan dengan penambahan bahan organik dan penutupan pemukaan tanah,” kata Maan.

Hadir dalam acara panen perdana tersebut, selain Ketua FAO wilayah NTT Ujang Suparman dan anggota, juga hadir Sekretaris Bappeda Provinsi NTT, Agustinus M.B.P. Fahik, Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, Wakil Ketua DPRD TTU Amandus Nahas bersama sejumlah anggota DPRD TTU, Direktur YMTM Joseph Maan dan staf, belasan penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian dan ratusan petani desa pantae yang merupakan binaan YMTM.(dit)

Comment

Berita Terbaru