oleh

Dijaring Golkar Sebagai Bacawagub, Mira Siap Disurvei

-Politik, Profil-1.290 views

Kupang, teras-ntt.com — Ketika namanya masuk dalam bursa penjaringan partai Golkar NTT sebagai salah satu bakal calon wakil gubernur NTT, Mira Natalia Pellu kelahiran Dili 18 Maret 1996 ini merasa terhormat karena diberikan ruang oleh Golkar sebagai perempuan  milenial dalam dunia politik.

” Saya berterima kasih kepada Partai Golkar Provinsi NTT yang telah memberikan ruang dan kesempatan kepada saya menjadi salah satu bakal calon Wagub NTT. Dan karena ini merupakan perintah partai maka sebagai kader kaum perempuan milenial saya siap mengikuti survei sesuai mekanisme partai,” kata Mira sapaan Mira Natalia Pellu kepada wartawan saat dihubungi via ponselnya, Selasa (11/5/2021).

Mahasiswa magister ilmu komunikasi dengan konsentrasi manajemen media pada Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini terjun ke dunia politik sejak tahun 2017 bersama partai Golkar.

” Saya menjatuhkan pilihan pada partai Golkar. Bagaimana tidak sejarah partai Golkar yang Panjang membuktikan betapa kokohnya partai yang terkenal dengan julukan Beringin ini. Selain itu Golkar NTT menampilkan wajah baru tetap belajar dari sejarah dan memperbaharui sistem yang sesuai dengan perkembangan zaman, memberi tempat bagi anak muda dan kaum perempuan serta warna baru bagi sistem partai Golkar yang selama ini diidentikan dengan laki-laki, tandas mahasiswa S2 yang tengah merampungkan tesisnya ini. 

Aktifitas Mira Pellu bersama golkar

Keterlibatan perempuan dalam politik, lanjut alumni strata satu (S1) UNWIRA Kupang merupakan sesuatu yang masih dikotak-kotakan dan sulit untuk mendapatkan tempat. 

Menurut Mira yang juga  Alumni SMAN 1 Kupang ini, bahwa dalam jurnal yang berjudul Gender, Communication Styles, and Leader Effectiveness Timko (2017) menyebutkan, bahwa perempuan dan anak perempuan diberikan akses terbatas di bidang pendidikan, perawatan kesehatan, dan pasar tenaga kerja, serta memiliki hak terbatas dalam pengambilan keputusan individu dan perwakilan pada proses pengambilan keputusan politik dan ekonomi.

Hal ini karena bayang-bayang dominan laki-laki atas perempuan sehingga membuat minimnya peran perempuan di sektor publik, sebagai pengatur dan pengambil kebijakan dalam masyarakat, bahkan sampai pada mendapat jabatan tertinggi di parlemen dalam hal ini berkaitan dengan kekuasaan (Endang dan Naumi. 2019).

Kader perempuan milenial golkar

Padahal menurut perempuan berkulit sawomatang ini baik laki-laki maupun perempuan diberikan hak yang sama untuk melakukan apapun yang mereka sukai termasuk politik. 

” Selain itu menurut saya politik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Mau tidak mau politik hadir untuk menemani hidup kita. Saya percaya politik sebagai sebuah seni yang dilakukan dengan tujuan untuk Persuasif, Edukasi, Alat kendali atau kontrol dan Alat komunikasi,” ujar wanita berambut lurus ini.(mas)

Komentar