by

Cerpen……. Borneo O Borneo Oleh: Kopong Bunga Lamawuran

Hari masih sangat pagi. Butir gerimis masih setia mengetuk seng. Suasana kampung masih terasa sepi, seolah kehidupan telah pamit ke suatu tempat untuk beberapa saat. Orang -orang terlalu enggan ke luar rumah, atau berpikir menjenguk ke luar lewat jendela, biarpun sekedar melihat – lihat parit yang dari semalaman airnya meluap ke mana-mana.

Dari kejauhan, puncak Gunung Boleng terlihat kabur dan samar-samar, seperti memandang sesuatu dari kaca yang telah dibasahi air.

Ibu telah kelar mengepak barang-barang bawaannya: sebuah tas berukuran superbesar penuh pakaian juga sebuah karung berisi jagung titi dan beberapa kebutuhan lain, yang semalaman dipak― tentu saja dalam air mata.

Orang-orang serumah telah bangun. Tinggal Nuba, seorang bocah berumur sembilan tahun yang masih lelap dalam mimpinya.

Nata membantu Ibu seadanya. Sambil berjongkok di samping barang – barang bawaan ibunya, ditepuk – tepuknya tas itu sambil meringis tak jelas. Tak lama meringis begitu, dengan langkah gontai, dia beranjak ke kamar. Diambilnya sebuah spidol berwarna hitam, lalu kembali untuk menuliskan nama ibunya pada tas superbesar beserta karung tersebut.

Dituliskan itu― nama ibunya, tempat, tujuan― dan tak lama berselang, hujan muntah dengan lebatnya.

Ibu muncul dari dapur, memeriksa isi dompetnya yang berukuran kecil, lalu mengeluarkan selembar uang duapuluh ribuan. Ditimang -timang lembaran itu agak lama, dan sewaktu Nata menoleh ke arahnya, Ibu memberikan lembaran itu sambil tersenyum.

Nata menolak itu dengan cara yang wajar: ditepis tangan ibunya. Dia lalu berlari ke dalam kamarnya sambil terisak. Ibu, berlari mengikutinya, lalu dengan segenap kemampuannya, dipeluk anak perempuannya itu dari belakang.

“ Ini, Nak.” Ibu berujar sambil membendung air matanya.
“Untuk apa?” Nata bersikeras.
“Hanya ini, Nak. Tapi saya sudah titipkan uang lainnya pada Nene. Dia akan mengurus keperluan kalian seadanya.

Pada Wae juga sudah kuberitahu. Kalian bisa sewaktu-waktu mengutang barang – barang di kiosnya.” Ibu mencoba menjelaskan dengan kata – kata seadanya, membuat terang persoalan di mata anaknya.
“Ya. Pergi saja. Kami baik-baik saja.”

“ Kepergianku ini pastinya tidak lama, Nak. Tapi aku harus jalan.” Ibu berujar dalam tangisan. Itulah sebagian kata perpisahan seorang ibu pada anaknya, yang mesti diucapkan.

Kali ini lidah dan mulutnya begitu kaku, seolah membeku. Tapi berbicara dalam kekakuan masih lebih baik ketimbang tak bertutur apa-apa.

Ibu menambahkan, “Bulan lalu kita mengutang sejuta di Wae. Buat bayar biaya sekolahmu itu, Nak. Belum lagi nanti untuk biaya adikmu. Kalau…,”

“YA!” Nata menyambut keras. Suaranya gemetar. “Kuterima uang pinjaman Ibu itu dengan tangan gemetar. Kuterima uang itu, karena Ibu bilang itu adalah pokok sekaligus bunga yang ibu tabung di koperasi. Dan kuterima itu, tanpa pernah berprasangka kalau ibu akan pergi juga ke tanah surga uang itu.

” Dia mengucapkan kalimat panjang itu dalam setarik napas, seperti telah dilatih berulang kali, dan sewaktu – waktu diucap ketika situasi mengizinkan.

Dalam segala keterbatasan saat itu, Nata hanya bisa menangis, menahan-nahan kepergian ibunya dengan air mata.

Lantaran suara ribut – ribut itu, Nuba pun akhirnya bangun dari tidur. Dengan langkah pelan juga mata masih setengah terkatup, didekatkan tubuhnya ke pintu kamar, berdiri bersandar di dinding kamar mengintip kakak dan ibunya.

Hujan masih lebat. Turun dan menikam – nikam tanah yang tak mampu menolaknya. Dari kejauhan, terdengar suara klakson oto bobrok yang kian waktu kian mendekat.

Tak lama berselang, oto bobrok itu berhenti tepat depan teras rumah.

Di dalam rumah, masih terdengar suara-suara keras. “Kau lihat sendiri kan, Nak!” kali ini suara Ibu bergetar. Dipaksakan diri untuk duduk di atas balai-balai. “Hidup kita tidak semudah yang kau bayangkan. Kupinjam sana – sini untuk bayar sekolahmu. Dua tahun lagi adikmu akan lulus esde. Saya ke Kalimantan karena ada kerjaan di sana. Paling tidak mencukupi kebutuhan kita nanti. Saya akan kirimkan uang tiap bulan. Sekolahmu yang esema juga lumayan mahal. Akan saya kirimkan tiap bulan. Nene bisa pergunakan itu untuk biayai hidup kalian dan bayar utang -utang kita.”

Dalam umur yang masih terlalu belia, Nata terpaksa menyelami kebenaran kata – kata ibunya. Semua ibu di dunia selalu benar, dan dengan apa seorang anak harus menolak kenyataan itu? Dia akhirnya duduk tersedu dan memeluk ibunya.

Kedua perempuan itu berpelukan sambil menangis, dan air mata adalah saksi mati sejarah hujan lebat hari itu. Nata tahu bahwa ibunya benar. Ibunya adalah perempuan dengan segala makhota keindahan, dan makhota keindahan itu telah dibuktikan. Bahwa walau hanya dengan kedua tangan dan kakinya, ibunya telah berhasil membesarkan dia dan adiknya, tanpa seorang ayah sebagai simbol harga diri keluarga. Ibunya.

Hanya ibunya yang dengan susah – susah membesarkan dirinya dan adiknya, dengan tangan yang hampir remuk dilindas usia. Tangan yang lapuk termakan usia, namun masih setia menerima setiap tikaman takdir.

Nata berhenti menangis. Bukannya mengusap air matanya sendiri, dia malah mengusap air mata ibunya dengan jari – jarinya yang mungil. Dipandangi bola mata ibunya beberapa saat. Maka diambilnya uang itu dari tangan ibunya, dengan tatapan mata memandang lekat dalam bola mata ibunya. Tatapan kerelaan. Tatapan pelepasan.

Sementara di kamar seberang, Nuba duduk tersandar pada dinding rumah. Dia tidak menangis. Dan dia tak melupakan hari itu.

*****
Setahun telah lewat. Nuba dan Nata hidup seperti biasa. Nene menemani kedua anak itu layaknya seorang ibu: menyiapkan segala kebutuhan mereka, membeli apa – apa yang diperlukan, dan uang kiriman setiap bulan tetap diterima.

Uang sekolah kedua anak ini, secara perlahan – lahan, mulai bisa dikatakan membaik. Benar sekali apa yang dikatakan Ibu, bahwa uang bisa menjawab segala keterpurukan yang selama ini menyapa.

Tapi sekolah bagi Nuba adalah ruang pelampiasan rasa kekosongan. Dia akan dengan senang hati menerima ajakan kawan – kawan karibnya untuk berbolos, dan kebun adalah tempat spesial.

Kebun terlalu banyak menyuguhkan kesenangan―tentu saja bagi seorang bocah. Bocah kecil yang diharapkan untuk selalu setia dalam ruang kelas, Belajar, Sekolah. Tapi dia juga adalah seorang bocah yang ditinggal pergi seorang ibu.

Dia sudah beberapa kali mencoba mengirimkan ibunya surat. Surat itu dititipkan pada orang sekampung yang pada musim – musim tertentu pergi juga ke pulau besar itu.

Kadang ditulisnya:
MAMA, sekarang aku sudah bisa bacan tulisn aku ingin bersekolah. tapi sekolah memisahkan kita terlalu jauh. terlalu lama. segera pulang. aku sudah rindu. kami sudah rindu. kami menunggumu. NUBA.
Hanya seperti itu.

Sedang Nata, dalam beberapa kesempatan, harus meleburkan rutinitas sekolahnya ke dalam tanggung jawab sebagai seorang perempuan. Dengan alasan -alasan sederhana namun masuk akal, dia membantu Nene untuk melakukan apa saja: mencuci pakaian, memasak, mencuci piring, mencari kayu kering di kebun.

Baginya itu bukan kerjaan yang luar biasa. Maka dikerjakan semua kerjaan kaum perempuan itu dengan tenang. Dengan sabar. Nene berulang kali menegurnya, menyuruh menghentikan segala kegilaannya itu.

“Aduh, Anak. Tidak harus seperti ini kalau mau membantu.” Nene berujar sewaktu mendapati Nata tengah bersiap.

“Tidak mengapa, Ne. Nene banyak istirahat. Untuk urusan ini, biar aku saja.”

“Tapi ingat sekolahmu, Anak!”
Nata tersenyum memandangnya.

Pihak sekolah tidak akan mengeluarkannya hanya karena dia membantu Neneknya mencari kayu bakar di kebun.

*****
Pagi hari. Cerah. Nuba masih tidur pulas di tempat tidur. Di luar rumah, orang ramai bersahut – sahutan. Sebagian orang tertawa. Berbicara tak jelas. Sebuah oto bobrok berhenti tepat depan teras rumah.

Orang-orang berteriak, memanggil – manggil suatu nama yang tak jelas. Selang tak lama, kerumunan orang-orang itu bubar.

Nuba merasa pipinya dibelai. Terasa lembut. Lambat – lambat dibuka matanya. Entah kaget entah senang, dia melompat bangun dan memeluk tubuh ibunya dengan kuat.

Ibu, dengan senyum dan air mata berlinang, balas memeluk tubuh anak lelakinya itu. Dipeluknya dengan segala macam rasa rindu dan cinta yang selama ini terbendung jarak dan waktu, selama dua setengah tahun.

Dalam pelukan itu, terasa benar, air mata rindu dan kebahagiaan mengalir tak berhenti, bagai air sungai.

Setelah berpelukan, Ibu menggendong anak lelakinya itu ke ruang tengah. Dipamer -pamerkan berbagai barang bawaan yang dibawa pulang dari tanah surga uang itu: tanah Borneo.

Ditunjukkan berbagai mainan anak-anak, tivi, vcd, berbungkus – bungkus permen, lalu masih dalam tangis bahagia, dia berujar, “Semua ini untukmu. Sebenarnya mau juga kubelikan memang buku dan perlengkapan untuk sekolahmu dan kakakmu. Tapi tak sempat. Nanti kubelikan saja di Wae.

Mana Nata? Masih di sekolah? Nene?” Nuba turun dari gendongan ibunya. Dia tersenyum melihat semua barang itu tanpa sempat menjawab bermacam – macam tanya ibunya.

Ibu, seolah tahu segala macam perasaan pada diri anak lelakinya itu, membiarkan saja semua pertanyaannya itu lenyap tak terjawab.

Maka dengan setengah berlari, dia bergegas ke kiosnya Wae. Dia berencana membelikan sesuatu. Mungkin buku. Mungkin bolpoin. Atau permen. Atau segala kebutuhan sekolah anak-anaknya.

Wae menyambut dengan senyum. Tapi matanya berkaca-kaca. “Aduh. Mari. Mari.”
Ibu menolak. “Aku hanya ingin membeli buku tulis. Sebetulnya mau beli di sana. Tapi lupa.” Katanya sambil tersenyum. Lanjutnya, “Utang-utangku?”

“ Ahhhh. Baru datang sudah tanya utang. Sudah lunas semua. Kan tiap bulan selalu dikirim!”.
Ibu memesan barang-barang yang ingin dibelinya. Dan Wae melayaninya dengan enggan.

Sambil menerima semua barang pesanannya, Ibu bertanya, “Dari tadi tak kulihat anakku Nata dan Nene. Nata mungkin masih di sekolah. Tahu Nene ke mana?”
Wae menatapnya. “Tadi kulihat keduanya ke kebun.”

Ibu terlihat kaget. “Bukannya Nata harus ke sekolah?”
“Memangnya kamu tidak dikabarkan? Nata dan Nuba sudah setahun dikeluarkan dari sekolah. Kata pihak sekolah, mereka selalu alpa.”

Ibu kaget. Tangannya gemetar. Dilepaskan barang – barang yang baru saja dibeli. Dia mundur beberapa langkah. Lalu tumbang.(selesai)

Awal tahun 2015 Kopong Bunga Lamawuran. penulis karya fiksi, sudah menerbitkan dua buah novel : Ruma lipatan dan Ilalang tanah gersang, dan sementara menyiapkan antologi cerpen” persetubuhan di rumah Tuhan.

Comment

Berita Terbaru