oleh

Budidaya Kerapu Mulut Seribu Tanpa Perencanaan, Di Riung Sebagai Restocking Calon Induk

Kupang, teras-ntt.com — Sejak tahun 2018 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai melirik sektor kelautan dan perikanan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Dua titik yakni Obyek Wisata Mulut Seribu di Rote Ndao dan Way Kelambu di Riung Kabupaten Nagekeo menjadi titik start program budidaya ikan kerapu dan kakap putih.

” Yang pertama saya mulai dari mulut seribu yang merupakan destinasi wisata yang lokasinya di desa Daiama, Pak Gub perintahkan saya mempersiapkan sable cis yakni menyiapkan stok ikan untuk di destinasi wisata tersebut. Waktu itu tidak ada anggaran karena tidak masuk dalam perencanaan dan sudah di pertengahan tahun maka saya berinisiatif mengumpulkan keramba – keramba bekas, memang sejak awal tidak ada anggaran jadi dari masyarakat saya kumpulkan, juga dari instalasi – instalasi terus saya belikan baut dan jaring. Lalu dirakit dan diangkut kesana untuk dipasang di sana,” kata Kadis Perikanan Provinsi NTT, Ganef Wurgiyanto di ruang kerjanya, Kamis (10/6/2021).

Dan untuk itu menurut dia tahun 2019 Dinas Kelautan dan Perikanan NTT sudah memiliki 6 unit keramba bekas  masing – masing unit empat lubang.

” Waktu itu ikan dan juga bagan belum ada, akhirnya tahun 2020 kami diberikan anggaran untuk pembangunan pos jaga dan bagan masing – masing senilai Rp 25 juta, karena tidak di siapkan anggaran untuk pakan maka kita hanya membuat satu unit bagan pos jaga di situ. Ditambah ikan 2000 ekor untuk uji coba. Karena kita memang uji coba. Anggaran sebesar Rp 20 juta,” tandasnya.

Ketika mendampingi gubernur ke Mulut Seribu, lanjut Ganef setiba di salah satu tekuk gubernur memintanya untuk merilis ikan di teluk tersebut agar bertambah banyak dan akhirnya dirilis 1000 ekor. Sementara 1000 ekor lainnya masih ada di keramba dan terus dipelihara hingga sisa hidup sekitar 500 an ekor.

Dan kenapa belum dipanen, kata Ganef karena rencana jualnya dalam keadaan hidup supaya harganya lebih mahal, tetapi kan tanggung hanya 500 an ekor saja, sehingga bulan Februari 2021 dipanen dan dimasukan ke perusahaan dengan bobot antara 1,5 – 2 kg dan dihargai dengan Rp 50.000 per kilo sehingga totalnya Rp 8 juta dikurangi biaya angkutan ke Kupang sebesar Rp 3 juta sehingga sisanya Rp 5 juta oleh perusahaan disetor langsung ke kas daerah.

” Biaya itu sudah diinvestasikan di sana sehingga tahun 2021 diadakan benih senilai Rp 25 juta dan pakan Rp 50 juta. Dan nanti panennya bisa lebih banyak lagi. Bisa mencapai Rp 100 juta dan ini akan bergulir terus. Ini semua dikelola oleh Dinas bersama masyarakat setempat,” ujarnya.

Komentar