Home Ekbis BPD Desa Kenotan Musyawarakan Kasus Wai Noret

BPD Desa Kenotan Musyawarakan Kasus Wai Noret

1886
0
SHARE

Ketua BPD Desa Kenotan, Alex Pati Raran

Adonara, terasntt.com — Kasus proyek Peningkatan SPAM Wai Noret, yang digugat mahasiswa asal Kecamatan Adonara Tengah, HIPANARA Kupang ke kejaksaan Tinggi Kupang, kembali menjadi sorotan publik masyarakat penerima manfaat di wilayah Kecamatan Adonara Tengah.

Masyarakat yang merasa dirugikan, yang saban hari sejak proyek ini berjalan memenuhi kebutuhan air bersih dengan membeli air, tiga jerigen seharga Rp.10.000.

Persoalan ini membuat Badan Permusyawaran Desa (BPD) Desa Kenotan sebagai salah satu desa penerima manfaat dari lima desa lainnya tidak tinggal diam.

Akhir Desember 2019 lalu, BPD Desa Kenotan mengadakan musyawara terbuka di Desa Kenotan untuk membahas persoalan Wai Noret yang tidak mengalir itu. Masyarakat bertekad melakukan konsolidasi diantara desa – desa penerima manfaat untuk meminta pertanggungajawaban pemerintahan Kabupaten Flores Timur terkait persoalan Wai Noret itu.

Sebabnya, menurut masyarakat, air yang sebelumnya dikelola oleh Gereja Paroki Lite berjalan lancar dan dinikmati masyarakat. Bahkan masyarakat setempat mempertanyakan, pengadaan air Wai Noret sebelumnya oleh Gereja Paroki Lite hanya menggunakan anggaran di bawah Rp. 500.000.000, airnya mengalir dan dinikmati masyarakat, sedangkan proyek Peningkatan SPAM yang menelan anggaran diatas 2 miliar airnya tidak lagi dinikmati masyarakat.

Pertemuan terbuka itu dihadiri tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan masyarakat umum serta mahasiswa dari wilayah Adonara Tengah.

Ketua BPD Desa Kenotan, Alex Pati Raran mengatakan, bahwa pertemuan itu dilaksanakan atas kehendak Lewo tanah dan sebelumnya tidak direncanakan. Kebetulan anak-anak mahasiswa HIPNARA Kupang pada liburan sehingga BPD Desa Kenotan mengambil kesempatan utuk melakukan musyawara ini.

Menurutnya, masyarakat selama ini sudah sangat menderita akan kebutuhan air bersih dan kebetulan musim liburan mahasiswa maka BPD menyahutinya dengan menyelenggarakan musyawara membahas persoalan Wai Noret.

“ Pertemuan ini khusus membahas air minum SPAM Wai Noret, yang sejak dibangun tahun 2017 lalu, airnya tidak jalan. Kehidupan kita sebagai masyarakat sudah sangat menderita. Air minum sejak pelaksanaan proyek SPAM Wai Noret, masyarakat membeli 3 jerigen 10.000. 1 (satu) kepala keluarga dalam sebulan, mengeluarkan ratusan ribu bahkan juta rupiah hanya untuk kebutuhan air minum. Ini sangat membuat masyarakat menderita,” ungkap Alex.

Alex mengatakan, bahwa penderitaan masyarakat itu karena ditipu oleh pemerintah daerah dengan pelaksaan proyek SPAM ini. Karena itu, dirinya berharap ada gerakan bersama untuk menuntut persoalan Wai Noret.

“ Mengikuti berita media masa dan apa yang disampaikan anak-anak HIPANARA, kita ini di tipu. Perencanaan teknis tidak diikuti oleh pelaksana proyek, akibatnya air tidak keluar. Dan karena itu, hari ini kita duduk bersama membahas persoalan Wai Noret, supaya kita jangan terus ditipu dan harapannya adalah air harus sampai lagi di wilayah kita. Proses hukum yang dilakukan HIPANARA Kupang biarkan terus berjalan dan kita masyarakat berkewajiban menuntut pemerintah daerah Flores Timur mengembalikan air Wai Noret mengalir seperti sebelum proyek SPAM berjalan,” tegas Alex Pati Raran.

Dalam kesempatan itu, Alex menyampaikan dukungan kepada HIPANARA Kupang yang peduli terhadap penderitaan masyarakat di wilayah Kecamatan Adonara Tengah.

“ HIPANARA Kupang itu, anak-anak kita. Mereka tinggal di tempat lain, tetapi karena kepedulian terhadap Lewo Tanah, terhadap kita sebagai bapak ibunya, mereka memperjuangkan apa yang sedang dibutuhkan oleh kita di sini. Ini sesuatu yang luar biasa dan kita harus mendengar apa yang akan disampaikan dan dukungan kita untuk berjuang bersama-sama,” ungkap Alex.

Pertemuan dipandu anggota BPD Desa Kenotan, Yohanes Mau itu, mengemuka pendapat masyarakat yang umumnya merasa kesal dengan pelaksanaan proyek SPAM Wai Noret.

Masyarakat mengatakan, bahwa kehidupannya sudah susah dibebani lagi dengan kesulitan air minum bersih. Enam desa penerima manfaat Proyek Peningkatan SPAM Wai Noret memenuhi kebutuhan air bersih harus membeli per jerigen.

Tokoh masyarakat Desa kenotan, Blasius Sabon Ama Korebima mendukung penuhnya keinginan masyarakat mempertanyakan dan menyuarakan kepentingannya tentang air minum bersih di wilayah Adonara Tengah yang saat ini menurutnya dalam kesulitan akan air bersih.

“ Semua yang kita bicarakan ini kami sangat dukung. Mari kita maju bersama untuk memperjuangkan air minum Wai Noret ini. Masyarakat kita sudah susah ditambah lagi air pakai beli. Ini sudah sangat merugikan masyarakat. Karena itu, saya mengajak kita bersama-sama berjuang. Kita sudah memulainya dengan duduk membahas persoalan air minum hari ini, dan saya mendukung langkah-langkah selanjutnya untuk kepentingan kita bersama,” tegas mantan Kepala Desa Kenotan.

Bukan hanya Sabon Ama, Nikolaus Doni pun menyatakan dukungan penuh terhadap apa yang dilakukan HIPNARA Kupang dan pertemuan yang diselenggarakan BPD Desa Kenotan itu dan mengharapkan sama – sama memperjuangkan air minum bersih dapat dinikmati kembali masyarakat Desa Kenotan.

“ Luar biasa apa yang sudah dilakukan oleh anak – anak kita HIPANARA Kupang. Kami sebagai masyarakat memberikan apresiasi dan dukungan apa yang sudah diperjuangkan, dengan melaporkan kasus Wainoret ke pihak Kejakasaan Tinggi Kupang. Sebagai bentuk dukungan kami siap melakukan hal-hal secara bersama-sama untuk mengungkap kasus ini dan mengharapkan perjuangan kita bersama itu juga mendesak pemerintah untuk air Wainoret kembali dinikmati masyarakat,” ujar Niko Doni.

Pun halnya, mantan DPRD Flotim antar waktu, Fery Tukan, Nus Weran, dan tokoh masyarakat lainnya menyatakan dukungan dan tekad bersama memperjuangkan air minum bersih bagi masyarakat wilayah Adonara Tengah. Dikatakan, bahwa air (wai) minum bersih dalam proyek pembangunan di Flores Timur selalu menimbulkan permasalahan. Disebutkan bahwa pipa terpasang tetapi setelah selesai pelaksanaan proyek air (wai) tidak jalan. Harapannya adalah perjuangan bersama yang dilakukan BPD Desa Kenotan ini terus berlanjut hingga air dinikmati masyarakat .
Bahkan disampaikan bahwa pekerjaan yang dilakukan kontraktor banyak hal yang tidak sesuai dengan sosialisasi awal dengan masyarakat. Pipa lama disosialisasikan bahwa tidak dibongkarb tetapi kenyataannya dibongkar. Resorvoir hingga saat ini material didalamnya belum diangkat. Kejanggalan-kejanggalan itu menjadi pertanyaan masyarakat selama ini.

Tokoh Adat, Yohanes Boli Bura memberikan pandangannya, bahwa pembahasan Wai Noret yang diselenggarakan BPD Desa Kenotan, telah membuka mata dan telinga masyarakat yang selama ini bertanya-tanya. Pertemuan itu menurutnya sebagai harapan dan dukungan Lewo Tanah terhadap apa yang sedang diperjuangkan oleh masyarakat umum.

” Ini adalah harapan kita bersama bahwa penderitaan masyarakat terutama berkaitan dengan air minum harus diselesaikan dengan cara sama-sama kita berjuang. Lewo Tanah, ribu ratu mendukung pertemuan dan perjuangan tentang Wai Noret ini. Anak-anak kita berjuang dengan cara mereka dan kita sebagai ibu – bapaknya harus memberikan dukungan dengan terlibat berjuang bersama-sama kedepannya,” tegas Boli Bura.

Kepala Desa Kenotan, Damianus Keda menyampaikan, bahwa persoalan air minum adalah pesoalan multi kompleks dan perjaungan masyarakat jangan dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Dia berharap apa yang disuarakan bersama ini dapat menuai harapan yakni air minum bersih bisa dinikmati warganya.

Damianus pun menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi pertemuan lanjutan bersama 5 desa lain penerima manfaat Proyek Peningkatan SPAM Wainoret.

Bukan hanya Kepala Desa Kenotan yang menyampaian kesiapannya untuk memfasilitasi pertemuan lanjutan, pihak Gereja Paroki Lite disepakati forum musyawara itu untuk melakukan koordinasi dan melakukan pertemuan yang menghadirkan 5 desa lain sebagai penerima manfaat. Pertemuan akan direncanakan setelah musim hujan ini. (*/m45)

Berikan Komentar Anda.