by

Blakalei Dan Keterbatasan Ruang

Oleh : Rafael L. Pura
Wartawan Terasntt.com.

SELASA malam, 27 Desember 2016, Lima orang anak muda berjingkrak – jingkrak di atas panggung, alunan musik dan serak suara Vokalis Band membaur riuh sorak sorai penonton membahana dan mencekam dari renggekan burung hantu selaras dengan symphony, bertalu menggema memadati langit Witihama, Kehebatan anak muda ini telah dipadu dengan rasa kagum pada karakter musiknya yang semuanya mengental dalam harapan akan lahirnya musisi baru, setidaknya bisa berbicara banyak di panggung musik tanah air bersama Blakalei.

Hal yang sangat luar biasa sebenarnya, karya musik dan totalitas tanpa batas yang dipertontonkan Blakalei ini. Padahal, mereka bukan superstrar, bukan pula politisi hebat, mereka hanyalah saudara kita, teman kita, kakak-adik kita, atau anak kita, yang mengabdikan diri sepenuhnya pada jalan seni, tidak lebih.

Setelah konser tersebut suasana kembali seperti semula, tidak ada hal yang luar biasa, selain kepuasaan. Penonton pulang kerumah, dan lima anak muda ini menjalani kehidupan seperti biasa. Alunan Musik yang sebelumnya mampu menghipnotis penonton, pada akhirnya hanya mendapat pujian belaka. Namun bagi kelima anak muda ini, justru disinilah seni mulai memainkan perannya, justru puncak dari segala kepuasan dalam diri mereka adalah pengakuan akan karya mereka. Saya mengamini kata Titik Puspa, “para pekerja seni adalah dewa,” sekaligus meminjam kata Pramoedia Anata Toer, “Pekerjaan seni adalah pekerjaan menuju keabadian”

Blakalei seolah telah berjalan menuju arah ini. Aku jadi teringat pencipta lagu perancis, Claude Yoseph Rougeth de Lisle, yang kemudian meninggal dalam kemiskinannya. Konon, Ia meninggal dalam perjalanannya di padang pasir, saat hendak mengamen ke Kota berikutnya.

Ia terluntang-lanting semasa hidupanya, ngamen dari satu kota ke kota lainnya, keberadaan Rougethbde Lisle, memang tidak hiraukan, bahkan lagu-lagunya dianggap sepi. Nasib baik kemudian diterimanya, seorang prajurit Francois Mireur, menyanyikan lagunya dengan penuh kidhmat saat ia berbaris dengan prajurit dari Marseille menuju Paris untuk berperang. Sàat itulah, para prajurit merasakan semangat nasionalisme yang tinggi, mereka pun menirukanya dan bernyanyi bersama sepanjang perjalanan ke Kota Paris, sesampai di tempat tujuan, para penduduk Paris mendengar lagu yang dikumandangkan, mereka turut menyanyikan lagu tersebut.

Akhirnya, setelah ditetapkan lagu Rougeth de Lisle tersebut sebagai lagu kebangsaan perancis, atas perintah langsung sang raja, tulang belulang Calaude Rouget de Lisle kemudian dikumpulkan lalu dimakamkan kembali di samping makam Napoleon Bonaparte. Sungguh, Karyanya telah mendapatkan tempat tertinggi di hati Rakyat Perancis, sebuah kebahagian yang tak pernah ia dapatkan sepanjang hayatnya.

Memang, terlampau tinggi kalau menyandingkan nama Blakalei dengan Claude Yoseph Rougeth de Lisle, sang pencipta lagu Perancis, namun di sini, saya hanya mau berkisah bagaimana seni kemudian mendapatkan tempatnya.

Perbedaan Ruang

Dalam Karya Film August Rush, misalnya, seorang anak kecil yang mepunyai keterampilan bermusik luar biasa namun tidak memiliki ruang megekspresikannya. Jiwanya mulai berontak, kemudian Ia pergi begitu saja mengikuti arah angin, kepergiannya itu, seolah mengajak kita merasakan, bahwa semua yang ada disekitar kita adalah musik, termasuk hembuasan angin. Musik sepertinya berjalan sendiri dalam jiwanya, kemudian Ia menemukan ruang dan karyanya mulai mendapatkan tempat di hati penonton. Film tersebut hanya berkisa tentang bakat seorang anak kecil yang kemudian meraih mimpinya, dibumbui sedikit kehidupan keras di jalanan sebagai tantangan.

Film tersebut tidak menguak bagaimana sebenarnya industri musik bekerja, terlihat pada satu adegan, penempatan musik menjadi industri tampak, namun hanya megikuti alur cerita saja, adegan itu hadir  hanya mau menggambarkan bahwa bakatnya (akan bermuara pada produktivitas nilai seni) selayaknya diharhgai mahal.

Kisah dalam film tersebut, berbanding terbalik dengan dunia nyata musik saat ini. Mau tidak mau, terima tidak terima, musik kini sudah menjadi ladang industri. Memiliki bakat dan kemampuan  setinggi apa pun, kalau tidak ditunjang dengan uang, niscaya, karya kita tidak akan pernah diorbitkan. Sederhana, biaya Iklan, biaya rekaman dan lain sebagainya, terlalu mahal. Semuanya terlalu mahal.

Salah satu bukti nyata ada pada acara Indonesia Idol. Saat menonton tayangan tersebut, bagaimana kita bisa menyaksikan bakat-bakat jalanan yang begitu memukau di atas panggung. Kalau boleh saya bilang, kemampuan musik band-band jalanan tersebut melebihi band-band yang katanya papan atas sekarang, serta boy band – girl Band yang lebih banyak menjual kemolekan pahanya, perhiasannya serta warna-warni rambutnya daripada nilai karyanya.

Atau saja kita bandingkan band-band tempoe doeloe dengan sekarang, Betapa seni telah dilacuri pada titik paling parah. Dulu, kebanyakan musisi atau pekerja seni selalu menempatkan nilai Karyanya sebagai tujuan, uang hanya datang sebagai akibat, atau konsekwensi logis atas penghargaan karyanya. Sekarang, kebanyakan para musisi atau pekerja seni telah menempatkan uang sebagai tujuan utama karyanya, mereka lebih banyak beronani dengan seninya. Sebuah pergeseran orientasi seni tengah kita alami.

Diakhir tulisan ini, tengoklah ke Film “school rock n roll”. Bagaimana sekelompok remaja yang menemukan bakatnya atau lebih tepat kebebasannya saat didatangi seorang musisi yang terpaksa menjalani misi putus asa menjadi seorang guru musik, yang kemudian merangkap jadi motivator, diluar dugaan, Ia berhasil mendorong Anak-anak remaja ini menemukan bakat mereka yang sebenarnya, bakat mereka tersebut kemudian dikembangkan dan lahirlah karya seni yang luar biasa. Anak -anak remaja ini kemudian mendapatkan ruang berekspresi dan karya mereka mendapatkan tempat di hati penonton, meskipun mereka bukan keluar sebagai juara.

Hal tersebut tengah terjadi pada lima anak muda “Blakalei ini” meskipun dalam ketiadaan, karya mereka telah mendapatkan tempat. Rasanya tidak adil, kalau bakat sedemikian besar ini tidak dibarengi dengan ruang yang besar. Toh, kemampuan musik mereka tidak kala dengan band-band papan atas lainnya. Tidak ada yang salah dengan ke lima anak muda itu, Meraka hanya bernasip sial karena kurang mendapatkan panggung yang besar. Tapi akhirnya,  konsistensi menjadi menjadi pembeda, musik telah membuat mereka menemukan dirinya, hidup dalam kemuliaan karya, kendati tertatih dalam kesejahteraan ekonomi yang sepatutnya mereka dapat sebagai balas impas atas karya mereka.

Setelah menyaksikan konser itu, setelah melihat riuh pujian para penonton, aku seolah merasakannnya, merasakan sebuah maha karya yang sedang menempuh perjalanannya, mengikuti zaman, mengikuti angin, dan sampai kapan, tapi yang pasti, akan tiba waktunya berlabuh di tempat tertingi. Disinilah musik blakalei telah menemukan jalannya.

Comment

Berita Terbaru