by

Antar Peti Jenasah Lewat Jalur Legal, TNI Tahan Pemuda Napan

KEFAMENANU, Terasntt.com — Ketika mengantar peti jenazah melalui jalur legal di perbatasan RI – RDTL tiga pemuda Desa Napan Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) ditahan dan diikat Komandan Pos Napan Bawah dari Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI – RDTL, Sektor Barat Yonif 742/SWY, Letda Inf Ginanjar, Rabu (19/7/2017) pukul 16.00 wita. Ketiga korban Julius Riberu, Yakobus Siki dan Ferdi Sasi ini diikat dengan tali nilon di pintu perbatasan lalu digiring menuju Pos Napan Bawah.

Kepala Desa Napan, Yohanis Anunu membenarkan peristiwa tersebut.

Menurutnya, ketiga pemuda itu diikat di pintu perbatasan Napan kemudian digiring menuju Pos Napan Bawah. Ia bersama warga meminta Danpos segera melepas ketiga pemuda itu.

” Saya mendapat informasi tersebut, pada pukul 16.00 wita kemudian langsung mendatangi Pos dan meminta Danpos untuk menjelaskan duduk permasalahannya dan melepaskan ketiga pemuda itu. Saya sempat marah dan mengatakan itu bukan binatang supaya diikat – ikat,” kata Anunu dengan nada kesal.

Menurutnya kemarahan datang dari Danpos Napan Bawah saat ketiga pemuda mengantar peti jenasah untuk keluarganya di Timor Leste melewati jalur resmi. Peti jenasah sudah diterima keluarga dari Timor Leste yang menunggu di Pos Polisi Timor Leste, tetapi ketika pulang langsung ditahan.

” Tadi itu ada pengiriman peti jenasah. Ada keluarga yang meninggal di Oecusse, Timor Leste dan keluarga dari Indonesia mengirim peti jenasah yang dititip di pos Polisi Timor Leste. Pengiriman peti itu sudah sesuai prosedur dan atas koordinasi keluarga dengan aparat keamanan dua negara, RI – RDTL. Peti itu diantar ke batas menggunakan sebuah mobil pick up yang dikemudikan Julius Riberu. Entah bagaimana, Danpos memanggil mereka dan langsung mengikat tangan ketiga pemuda itu jadi satu dan menggiringnya ke Pos Napan Bawah,” lanjut Anunu.

Sementara Danpos Letda Inf Ginanjar, menurut Anunu menjawab mengatakan dirinya telah menyampaikan ke semua pos agar tidak melakukan kegiatan apapun apalagi membawa masuk barang setelah portal batas ditutup. Alasan lain dari Danpos karena pimpinannya sedang berada di Pos jadi tidak boleh ada pelintas batas membawa barang apapun.

” Sementara pimpinan kami ada di sini dan saya sudah sampaikan ke pos – pos kalau bisa nanti tidak ada yang membawa masuk barang – barang ke dalam, apalagi pintu batas sudah tutup,” ujar Anunu meniru jawaban Ginanjar.

Walau demikian Anunu tetap memrotes bahwa tindakan Danpos sudah diluar batas, pasalnya peti jenasah yang diantar itu sudah seijin aparat keamanan dua negara di perbatasan RI – RDTL dan bukan membawa masuk barang – barang lain.

” Tadikan sudah ada koordinasi dengan semua pihak, sehingga peti jenasah tersebut bisa diantar sampai ke Pos Timor Leste, kalau mau ditahan ya sekalian tadi sebelum peti jenasah diantar. Kenapa justru tiga pemuda ini diikat dan ditahan setelah peti jenasah sudah diterima oleh keluarga dari Timor Leste. Ini bukan binatang sampai harus diikat. Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Ini bukan eksportir yang bawa barang setelah portal batas tutup, ini bawa peti jenasah membantu keluarga yang di dalam juga,” ungkap Anunu kesal.

Kekesalan dan protes ini tidak hanya dari kedes, namun seluruh warga desa Napan karena tindakan aparat TNI ini dan mendatangi Pos jaga menuntut ketiga pemuda itu dilepas.

Sebelumnya pada tahun tanggal 18 Februari 2016 lalu, anggota Satgas Pamtas RI – RDTL dari satuan tugas lain juga pernah melakukan hal yang sama terhadap dua pemuda asal desa Napan. Kedua pemuda itu diikat kemudian diseret menggunakan motor trail sejauh beberapa kilometer atas dugaan kasus penyelundupan motor. Kali ini berlanjut kasus pengantaran peti jenasah yang dititipkan ke pihak keamanan Timor Leste lewat jalur resmi.(dit)

Comment

Berita Terbaru