Home Pariwisata Al-Qur’an Kulit Kayu Berusia Ratusan Tahun ada di Alor Besar

Al-Qur’an Kulit Kayu Berusia Ratusan Tahun ada di Alor Besar

1556
0
SHARE
Foto : Thomas Duran

KALABAHI, Terasntt.com — Al-Qur’an tulisan tangan manusia pada kulit kayu yang diperkirakan usianya mencapai 800 tahun itu tersimpan di rumah Nurdin Gogo di Alor Besar, Kabupaten Kalabahi, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penuturan Nurdin selaku pemilik, bahwa Al-Qur’an itu berasal dari Ternate, Maluku yang dibawakan lima orang bersaudara, Sultan Giang Gogo, Elias Gogo, Ju Gogo, Boy Gogo dan Kimalasi Gogo.

” Sultan Giang Gogo menetap di Alor Besar dengan Al – Qur’an ini, Elias Gogo ke Pantar Timur, Wabang, Ju Gogo ke Baranusa Pantar Tengah, Boy Gogo ke Solor Flores Timur dan Kimalasi Gogo ke Lera Bain yang mendirikan masjid panggung,” kata Nurdin sambil memperlihatkan Al-Qur’an kulit kayu itu kepada sejumlah wartawan di kediamannya, Rabu (10/8/2016).

Ia mengisahkan, bahwa kelima sultan bersaudara ini berlayar dari Ternante dan kehabisan air, lalu mereka singga di salah satu tempat bernama Bota untuk mencari air minum, namun air yang diharapkan tidak ada, sehingga Sultan Giang Gogo menancapkan tongkatnya di pasir dan keluarlah mata air. Mereka mengisi pada tempayang air yang dibawa dan melanjutkan perjalanan, namun dalam perjalanan melintasi daerah Aimoli dan terpantau oleh Rajanya sehingga dipanggillah kelima bersaudara ini dan menambatkan perahu mereka.
Ketika bertutur, Raja Aimoli menilai kelima bersaudara ini orang baik sehingga ia meminta makara (tempat sampah-red) yang saat ini berada di Museum Kalabahi. Setelah itu raja berjanji untuk bertemu kembali di kampung halamannya Bangmate yang diapiti oleh dua kali besar dibalik gunung, disitu ada pantai dan itulah Alor Besar ini. Jadi raja inilah yang pertama masuk dan menganut agama Islam setelah itu rakyatnya. Dan setelah niat mereka menyebarkan agam Islam ini selesai, lalu kelima Sultan ini ingin kembali ke Ternate tetapi Raja Amoli keberatan dengan alasan sudah dibangun masjid lalu siapa yang mau memimpin orang sembahyang.
Saat itulah raja dan keluarganya bersekokongkol agar salah satu dari kelima bersaudara ini dinikahkan dengan putri bangsawan bernama Buihaki. Ketika itu raja bersama orangtua Buihaki ini sepakat mengambil salah satu peci milik para sultan ini dan menyimpan di kamar Putri Buihaki dan keesokan harinya kampung ini geger dengan keberadaan peci di dalam kamar putri itu. Ketika ditanya kelima Sultan ini kaget dan mengaku tidak perna kemana – mana apalagi sampai masuk dalam kamar putri itu. Tetapi masyarakat tetap ngotot dan akhirnya pemilik Peci Sultan Giang Gogo mengala dan menikahi Putri Buihaki lalu menetap di Alor Besar bersama Al-Qur’an ini,” katanya Nurdin diamin salah satu keluarganya.
Menurut Nurdin setelah Giang Gogo dinikahkan dengan Putri Buihaki keempat saudaranya keluar meninggalkan Alor Besar, Sultan Elias Gogo ke Pantar Timur, Ju Gogo ke Baranusa, Boy Gogo ke Flores Timur dan Sultan Kimalasi Gogo ke Abat yang terkenal dengan Masjid tua.

” Jadi kalau mencari tahu asal – usul Al-Qur’an ini agak susa pak. Karena tahun 2010 Sultan Ternate ke 48, Sultan Muda Warsat minta dibawa kesana kebetulan ada acara Legogami. Kita orang Alor bilang makan baru. Acara Legogami itu semua masyarakat dari Tidore, Jelelo, Baceng semua kumpul di Ternate. Saat itu saya sempat bertanya tetapi tidak tahu, bahkan Sultan ke 26, Babulah saja tidak tahu. Kita kesana itu diperkirakan Al-Qur,an ini berada di Alor sekitar 500 tahun. Tetapi mereka disana bantah dan mengatakan sudah 800 tahun lebih ada di Alor. Saya tidak tahu dan setahunya saya itu Al-Qur’an dari kulit kayu ini berasal dari Ternate, itu saja,” ujar Nurdin.(mas)

Berikan Komentar Anda.