Home Ekbis Air Baku Bawah Tanah Kota Kupang Meningkat 80 Persen

Air Baku Bawah Tanah Kota Kupang Meningkat 80 Persen

883
0
SHARE
Foto : Rafael L. Pura

KUPANG, Terasntt.com — Intensitas hujan yang cukup tinggi beberapa bulan terakhir berdampak pada ketersediaan cadangan air baku, terutama air bawah tanah yang menjadi andalan produksi PDAM Kota Kupang meningkat.

” Intens hujan yang terjadi cukup tinggi membuat cadangan air baku bawah tanah meningkat tajam hingga 80 persen, dari peningkatam kapasitas produksi  pada bulan Desember hingga awal Januari lalu hanya 20 persen,” kata Direktur PDAM Kota Kupang, Noldy Mumu kepada wartawan di kantornya, Jumad, (17/2/2017).

Menurut Noldy, peningkatan hingga 80 persen tersebut dari kondisi debit produksi normal pada bulan Februari – Agustus pada setiap tahun, walau diketahui belum normal hingga 100 persen peningkatanya. Namun dengan pola intensitas hujan yang terjadi saat ini diyakini dalam satu dua minggu kedepan bisa mencapai 100 persen debit produksinya, sehingga diharapkan pendistribusiannya semakin membaik.

Hal ini, lanbjut Noldy, unit produksi dari PDAM Kota Kupang sebagian besar bersumber dari air bawah tanah dengan metode sumur bor sebanyak 15 unit, maka semakin sering turun hujan akan semakin baik.

Dari sisi kualitas, Lanjut Noldy, tidak akan ada masalah, pasalnya air tanah berada pada kedalaman sekitar  70 – 100 meter di bawah permukaan tanah, dengan demikian, air hujan akan terfilterisasi dengan sendirinya sampai jerni, sehingga saat dipompa akan tetap jerni.

“ Memang dengan kenaikan tentunya  ada factor lain yang sedikit berpengaruh pada pendistribusian yang berhubungan dengan kualitas air terutama bersumber dari Bendungan Tilong yang dioperasikan oleh BLUD SPAM NTT.  Air pemukaan ketika hujan, akan membawah banyak material terutama tanah dari bagian hulu hingga menyebabkan air baku di Bendungan Tilong dalam kondisi keruh. Kondisi keruh ini pada saat masa abang batas dimungkinkan masih lolos pada output produksi dari  unit tratmantnya masih jernih, tetapi kalau kadar itensitas lumpur sudah diatas ambang batas, maka masuk ke unit tratmantpun nantinya keluar pun tidak selalu jerni. Hal ini nantinya berimbas pada pelanggang yang terkoneks jaringan dari Tilong akan mengalami pendistribusian air yang keruh. Walau hal ini sifatnya temporer,” kata Noldy.

Oleh karena itu, lanjut Noldy, dengan kondisi pendistribusin dari Bendungan Tilong tersebut, dihimbau kepada  BLUD SPAM dapat memperhatikan pola pengeoperasian water tratmantnya guna meminimalisir tingkat kekeruhan.

“ Kami mengahimbau kepada pelanggan, apabila mendapat kualitas airnya keruh sebaiknya tidak dikomsumsi, lebih baik diahlikan ke hal-hal lain. Kalaupun ingin dikonsumsi, bagusnya ditampung terlebih dahulu hingga kadar lumpur mengendap baru kemudian dikonsumsi.

Hal ini tidak ada jalan lain karena untuk air curah hujan yang di distribusi ke pelanggan bersumber dari Bendungan Tilong dibawah penguasaan BLUD SPAM NTT, sehingga jika ditemukan hal seperti itu, dapat diinformasikan kepada BLUD SPAM agar dapat meminimalisir kondisi tersebut,” jelasnya. (raf)

Berikan Komentar Anda.