Home Pendidikan Agupena Flotim Berkarya di Atas Derita Guru Honor

Agupena Flotim Berkarya di Atas Derita Guru Honor

1020
0
SHARE

KUPANG, Terasntt.com — Agupena Flores Timur, sebuah organisasi guru yang bergerak di bidang Literasi, seharusnya bisa memberikan gebrakan nyata terhadap kesejahteraan guru honor bukan berkarya di atas penderitaan mereka. Gaji guru honor sangat rendah di bawah standar kewajaran.

Selama Ini, Agupena Flotim menggelar berbagai kegiatan di bawah konsep besar “Gerakan Literasi”, namun tingkat kesejahteraan guru – guru honor luput dari perhatian mereka.

Hal Ini diungkapkan Ambuga Lamawuran, Penulis Karya Fiksi, saat menghubungi Terasntt.com, Sabtu, (10/6/2017).

” Gerakan Literasi Agupena seharusnya sudah sampai pada tingkat memperjuangkan kesejahteraan guru honor. Bukankah karena persoalan -persoalan semacam Itu, sehingga Agupena dibentuk ?. Tapi mengapa kemudian gerakan hanya sebatas tulis menulis dan terbitkan buku?. Kalau sebatas tulis menulis, saya pikir label ‘gerakan Literasi’ itu tidak layak dipakai. Itu penyederhanaan yang menggelikan. Gerakan Literasi, tidak hanya membaca buku. Gerakan literasi, harus bisa sampai pada membaca situasi, lalu mencari akar masalahnya dan jalan keluar. Upaya pencarian seperti ini yang layak disebut ” Gerakan Literasi,” ujar Penulis Novel Ilalang Tanah Gersang ini.

Ambuga mengatakan, efek dari Literasi itu sendiri harus bisa mempengaruhi kesejahteraan huru – guru.

” Lalu kenapa masalah besar kita, gaji guru yang sangat kecil Itu, tidak diperjuangkan, malah bikin yang lain. Kalau Agupena Itu kumpulan Penulis, ya, perjuangkan lewat tulisan. Intinya, Gerakan Literasi itu harus bisa mepengaruhi kesejahteraan guru” ujarnya sinis.

Ambuga mengaku, hal ini pernah diungkapkannnya melalui akun Facebooknya, Kamis, (9/6/2017), dan mendapat tanggapan yang beragam. salah satunya, anggota Agupena Flotim, yang juga penulis fiksi, Muhamad Soleh Kadir

Dalam komentarnya, Ia menjelaskn bahwa Agupena Flotim hanya mengurus soal dunia tulis menulis. Bahwa kesejahteraan guru itu masuk dalam rana PGRI.

” Seharusnya Agupena bisa membuat gerakan yang mestinya berpihak pada kesejahteraan guru. Beban guru terlalu banyak, namun penghargaan yang diberikan terlalu minim,” ungkapnya.

Sementara menanggapi komentar Muhamad Soleh Kadir, Ambuga mempertanyakan soal arah Gerakan Literasi yang diusung Agupena Flotim.

” Apa Sebenarnya arah dari “Gerakan Literasi” yang diusung Agupena Flotim?. Dalam Hut Ke 2 Agupena yang digelar Beberapa Waktu lalu, dinyatakan bahwa Agupena Lahir karena melihat situasi para Siswa, Guru, Pemuda jaman sekarang. Bahwa Agupena diharapkan bisa menjadi wadah untuk menjawab persoalan yang dihadapi para guru. Jika Agupena berwawasan luas, salah satu persoalan guru sekarang adalah rendahnya upah tenaga honor,” ujarnya

Saat ditanya tentang kaitan antara Literasi dan honor guru, dijelaskan Ambuga, Bahwa efek gerakan Literasi sangat luas, salah satux adalah untuk mensejahterakan guru.

Ambuga menjelaskan, dalam Wikipendidikan, ada ulasan terkait Literasi yang dikemukan oleh UNESCO, bahwa Literasi, tidak hanya soal membaca Dan menulis buku. “Gerakan Literasi”, adalah upaya memahami persoalan, membongkar literatur untuk menjawab akar masalah tersebut. Pada akhirnya, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan para guru.

” Jadi agak bermasalah, jika gerakan Literasi Ini hanya melihat dari sisi penghasilan karya tulis,” ujar Ambuga.

Bagaimana kaitan antara gerakan literasi dan honor guru? Ambuga mengatakan, Jika Agupena Flotim berpandangan jauh, maka mereka mesti memikirkan ini: bagaimana mungkin seorang bisa menulis dengan baik, tanpa membeli dan membaca buku yang banyak? Lalu dengan apa mereka bisa membeli buku untuk dibaca. Harusnya, gerakan literasi yang terurai menurut UNESCO, dan yang harus dilakukan Agupena Flotim, adalah mencari akar permasalahan guru-guru honor, membuat kajian, dan dengan dinas terkait untuk mewujudkan kesejahteraan bagi guru-guru.

” Jangan hanya berkarya tapi menutup mata terhadap persoalan besar ini. Dan jangan berkarya mengatasnamakan guru-guru yang melarat. Ini Kejahatan terhadap manusia dan menjadi tugas mulia yang mesti dipikirkan Agupena Flotim,” tegas Ambuga. (rafael l pura)

Berikan Komentar Anda.